Xella tersenyum saja tak membalas perkataan Shifkha. Selain bingung mau menjawab apa juga takut salah bicara malah berujung membongkar rahasia pernikahan.
"Makasih tumpangannya, Shif," ujar Xella membuka pintu mobil. Keluar bersamaan dengan pemilik mobilnya.
"Lo bilang makasih segala kayak sama siapa. Gue adik ipar lo—eh gue harus panggil lo kakak ipar nggak, sih?"
Keduanya terkekeh dengan perkataan Shifkha lalu masuk ke kamar masing-masing bertepatan dengan seseorang yang menyentak tubuhnya dan terhimpit di dinding. Seakan tak memberikan kesempatan lawannya bertanya sebab bibirnya langsung dibungkam rakus, kasar, dan menuntut membuat Xella terengah-engah dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa dipaksa oleh suaminya sendiri.
Walaupun aroma alkohol sangat menyengat, tetap saja parfum familiar yang terendus hidungnya membuat Xella langsung tahu siapa pelakunya.
Saat Xella dan Shifkha berbincang santai dan tertawa masuk ke rumah sebenarnya Sakha ada di belakang mereka dengan tubuh sempoyongan dan menyeringai.
Laki-laki itu tepat sasaran dengan feeling-nya.
"Lepasin! b******k!" teriak Xella setelah menggigit bibir bawah Sakha sampai berdarah. Saat memiliki kesempatan Xella langsung mendorong d**a bidang sang suami sampai mundur dengan napas terengah-engah.
"Lo!" Telunjuk Sakha menuding Xella. "Sok suci dan munafik yang diam-diam mencari kesempatan berhubungan sama ipar sendiri. Siapa yang berengsek?!"
Xella tersadar. Meneguk salivanya dengan susah payah.
"Gue tahu semuanya, Xella! Gue tahu! Lo!" Lagi-lagi Sakha menuding tepat di wajah gadis itu. "Lo penyebab Sakha kolaps?!"
Gadis itu semakin diam dalam rasa bersalahnya. Namun, dia juga tak tahu dimana letak kesalahannya. Sakha pun tak berhak menyalahkan Xella dengan segitunya karena kondisi Sathir memang tak bisa ditebak. Terkadang stabil dan terkadang ... seperti ini. Ibarat kata suasana hati mempengaruhi kesehatannya.
"Gue memang benci Sathir. Gue iri sama Sathir. Dia selalu menjadi kebanggaan ayah sama bunda, tapi hati gue sakit kalau dia tersiksa begini," cerca Sakha menjatuhkan tubuhnya di bawah ranjang, kedua kaki laki-laki itu menekuk dengan kepala tertunduk.
Orang mabuk selalu jujur dengan perasaanya, Xella mendengarkan dengan seksama dengan posisi yang belum beranjak sejak tadi.
"Gue tahu Sathir suka sama lo mungkin lo juga. Gue memperhatikan kalian. Gue tahu. Gue sengaja mengikat lo supaya Sathir benci sama gue bukan malah memberi selamat bahkan secara terang-terangan menitipkan lo ke gue. Dia beranggapan akan mati cepat, dia lega karena dengan kita menikah gue bertanggung jawab penuh. Rencana gue gagal total. KENAPA GUE SELALU KALAH DARI ORANG PENYAKITAN SEPERTI DIA?! KENAPA, XELLA?!"
Xella tersentak karena bentakan Sakha, apalagi laki-laki itu tertatih berdiri berpegangan pada ranjang dengan mata berkilat merah entah efek alkohol atau amarah yang mengumpul. Sialnya setiap ruangan kedap suara, sekeras apa pun Sakha berteriak tak akan ada yang mendengarnya.
"Sepertinya Sathir salah menitipkan cintanya ke gue. Kalau dia beranggapan lo akan aman haruskah gue membuat lo menjadi orang yang tidak berharga, Xella. Bukan cuma satu orang yang hancur."
Xella semakin mundur, tangannya menggapai pintu, tapi tak bisa dibuka. Aksesnya ditutup oleh Sakha. Gadis itu ketakutan, bibirnya yang bengkak semakin bengkak ketika digigit sebagai pelampiasan.
"Bukankah kita sudah menikah. Suami dan istri kenapa lo takut, hem?"
"P-please jangan lakukan apa pun yang membuat kita menyesal, Sakha. Lo mabuk ... lo nggak—"
"Kenapa lo takut?"
"Sakha," panggil Xella memohon saat tangannya ditarik dalam sekali sentakan. Tubuhnya dipeluk dengan erat, Sakha membau aroma rambutnya. Suaranya yang berdecak penuh nafsu membuat Xella mengepalkan tangan berusaha melepaskan diri. Namun, tenaganya terkuras habis karena lawannya seorang Sakha. Walaupun mabuk tenaga seolah pulih bukan malah loyo.
Pada akhirnya Xella pasrah dihempaskan ke ranjang dengan kedua kaki yang menjuntai ke lantai. Xella mencoba bangkit akan tetapi, tubuh jangkung Sakha lebih dulu menimpanya sampai membuatnya sesak. Napasnya teratur dan tak ada cekalan kencang.
Kepala Xella menunduk. Dengan gerakan ragu dan antisipasi merapikan rambut brokoli suaminya yang menutupi kening. "Tidur." Xella bergumam lalu bernapas lega. Urat-urat lehernya melepas seketika begitu situasi sudah aman. Mereka tidur dengan posisi seperti ini karena Xella tak berniat memapah atau merubah posisi Sakha takutnya ketika mata elang itu terbuka akan kembali beringas.
***
“Lo bisa masak?” tanya seseorang yang duduk di meja makan.
Xella dan bibi menoleh mendapati sosok Shifkha yang sedang makan apel tanpa dipotong.
“Gue bukan royal princess kali.” Candanya membuat Shifkha terkekeh. “Lo mau ke kampus?”
“Kuliah pagi, sorenya sudah di rumah. Butuh sesuatu?”
“Gue bisa ke kampus nggak, sih? Sayang sama materinya.” Jika Shifkha dengan sukarela bolos maka lain dengan Xella yang menyayangkan presensinya. Dia kuliah membayar mahal.
“Lo masih dalam masa cuti, La. Gue nggak tahu. Di kampus kalian sedang jadi bahan perbincangan setelah skandal toilet terus tiba-tiba mengajukan cuti bersama, mungkin kalau lo datang ke kampus bisa sedikit meredam gosip. Mau selundupan?” tawaf Shifkha mengerling.
“Mau!” jawab Xella girang.
Shifkha geleng-geleng kepala melihat respon antusias Xella. “Udah mandi, ‘kan? Lo ikut kelas gue aja, La.”
Xella mengangguk setuju, senang-senang saja siapa tahu dapat materi tambahan walaupun beda fakultas. Namun, kesenangannya tidak bertahan lama karena sosok lain hadir langsung menyerobot kesenangannya.
“Lo nggak bisa pergi tanpa seizin gue.”
"Alasannya kenapa, Bang? Xella bukan tawanan kali. Lagian dia ke kampus sama gue jadi aman nggak akan tebar pesona. Sekaligus memutus rumor—"
"Gue sengaja membuat rumor lalu lo dengan entengnya mau menghentikan rumor, Shif? Gue nggak kasih izin. Berangkat ke kampus sendiri saja!"
Sakha kalau sudah memberi ultimatum tidak bisa diganggu gugat. Shifkha tahu itu, sangat paham makanya disaat Xella memohon bantuan di depan Sakha tentu dia tak bisa membantunya.
"Malam, La! Lo istri gue bukan pembantu gue. Yang perlu lo layani itu suami bukan satu rumah," katanya menyindir bibi yang kalang-kabut karena perkataannya jelas tertuju untuk wanita dengan apron biru dongker. Bibi sudah melarang Xella, hanya saja gadis itu kekeh membantunya.
"Non Xella ke depan saja biar sisanya Bibi yang kerjain," ujarnya tidak berniat mengusir.
"Maaf ya, Bi."
"Bibi yang harusnya minta maaf. Tangan Non jadi bau bawang."
Situasi cair karena perkataan bibi membuat Xella tergelak. Sedikit mencair disaat rasanya tegang karena kehadiran Sakha.
Saat sampai di meja makan tangannya langsung ditarik oleh Sakha, duduk di sebelahnya. Mereka saling pandang, lalu Xella membuang muka saat mendapati luka di sudut bibir sang suami.
Interaksi itu terekam jelas oleh Shifkha yang semakin membuat Shifkha mencurigai hubungan kakaknya.