“b******k! Keluar!”
Pintu kamar mandi langsung ditutup oleh Xella sedangkan gadis itu bersandar dengan jantung berdegup kencang di belakang pintu. Kamar mandinya Sakha dikuasai olehnya. Kagetnya alami saat seseorang tiba-tiba masuk ketika dirinya hendak mandi. Untung saja baru mau melepaskan baju, belum sempat memperlihatkan sesuatu saat Sakha masuk dengan celana yang hampir melorot. Mungkin mau kencing.
“Gue mau kencing dodol! Jangan lama-lama, La!”
Xella tidak peduli. Kamar mandi di rumah ini banyak, tidak harus di kamarnya, ‘kan?
For your information mereka langsung flight pagi saat Shifkha mengabari bahwa Sathir dilarikan ke rumah sakit. Sejujurnya Merida sudah melarang anak keduanya memberitahu Sakha dan istri yang sedang honeymoon. Namun, Shifkha tidak peduli. Diam-diam memberi kabar, apalagi sampai saat ini Sathir koma membuat Shifkha khawatir bukan main.
Hampir satu jam melakukan ritual mandinya barulah saat Xella keluar dengan badan lebih segar mendapati suaminya yang tidur tengkurap di lantai.
“Kok ada manusia kayak dia, ya. Sialnya dia suami gue,” ucapnya memilih mengabaikan posisi tidur Sakha yang malang melintang membuat Xella melangkahi badan sang suami untuk sampai di meja rias. “Nyusahin.”
Sakha tidur karena efek alkohol masih menguasainya, pusingnya membuat laki-laki itu sempoyongan apalagi saat naik pesawat, langsung jetlag sampai ke rumah. Kalau Xella dia tidur di pesawat.
Pagi-pagi langsung diseret pulang tanpa mengatakan alasan kepulangannya padahal waktu mereka masih tersisa banyak di Bali. Bahkan sampai rumah pun Xella kembali dibuat bingung alih-alih ke apartemen laki-laki itu justru ke kediaman orang tuanya yang membuat Xella tercengang rumah dalam keadaan sepi.
Saat menuju ke dapur pun hanya ada bibi yang sedang membersihkan dapur, sarapan sudah terhidang di meja makan saat Xella membau aroma yang membuat perutnya keroncongan.
“Pagi, Non. Mau sarapan? Bibi sudah masak sarapan buat Non sama mas Sakha. Barusan non Shifkha ke rumah sakit, katanya kalian disuruh nyusul.”
“Siapa yang sakit?” tanya Xella bertepatan dengan suara derit kursi. Kepala gadis itu menoleh ke suaminya yang makan dengan lahap tanpa menawarinya, bahkan penampilannya masih acak-acakan.
“Siapa yang sakit?”
“Sathir koma. Sarapan dulu baru ke sana.”
Bibi pergi karena merasa perlu memberikan privasi dua anak manusia, lagipula pekerjaannya juga sudah selesai.
***
Setiap langkah yang menggema di koridor rumah sakit membuat helaan napas Xella tak henti-hentinya. Dia cemas, khawatir karena Sathir tidak pernah kelihatan sakit ketika bertemu. Memang jika diperhatikan lebih detail tubuh Sathir lebih kurus seperti tidak terawat disaat laki-laki seusianya gemar menjaga bentuk tubuh dengan berbagai macam olahraga. Wajahnya juga terlihat pucat dengan kulit putihnya yang semakin kontras.
Xella mengumpati dirinya sendiri karena tidak memperhatikan detail perbedaan Sakha dan Sathir lalu setelah mengetahui saat laki-laki itu masuk rumah sakit. Xella berharap Sathir hanya sakit biasa.
"Mungkin lo bakalan kaget. Sathir sering masuk UGD, dan sekarang koma. Lebih tepatnya dia kolaps kemarin pagi."
"Kemarin?" beo Xella untuk dirinya sendiri.
"Iya," jawab Sakha mengira Xella bertanya kepadanya. "Jantungnya berdetak tidak normal. Dia itu bodoh. Sudah bosan mati, seringkali Rendi memberi peringatan ...."
Ucapan Sakha mengambang begitu saja karena mereka sudah berada di depan pintu ruangan Sathir.
Mata Sakha dan Shifkha bersitatap lalu sang adik mendesah lelah. "Sathir ditemui waktu sudah lewat dari batas yang tidak seharusnya, Bang. Dia menghubungi Rendi waktu masih sadar terus pingsan."
"Harusnya lo lebih memperhatikan, Ren. Lo punya couple kayak Sathir. Nggak berguna?"
"Maaf, Mas. Saya ketiduran," ujarnya tanpa berniat membela diri karena dia pun merasa bersalah. Dialah yang memastikan setiap kegiatan Sathir aman untuk orangnya. Namun, yang namanya manusia kantuk seringkali tidak bisa ditahan. Dia ketiduran dan terbangun saat merasakan jam tangannya berdering nyaring dengan lampu merahnya bertepatan dengan itu Sathir meneleponnya.
Saat suasana sedang hening tapak kaki yang bersahutan terdengar. Sosok Dana dan Merida tiba 10 menit setelah Sakha dan Xella. Kedua orang tuanya sedang ada urusan di luar kota pun langsung pulang ketika mendapat kabar anak keduanya masuk ke rumah sakit.
Tak ada kata sambutan dari Dana, tetapi pria itu langsung mengikuti saat Rendi mengajaknya pergi.
"Bun," sapa Xella menyentuh pindah Merida yang dipeluk anak keduanya.
"Eh? Kapan pulangnya?" tanya wanita itu mengulas senyum bersalah karena membuat liburannya kacau.
"Semalam, Bu," jawab Xella. "Bunda nggak pa-pa?"
Sakha berdecih. Dia pergi begitu saja. Niatnya mau ngerokok, tapi dia mendengar pembicaraan yang nampak familiar.
"Mas Sathir menerima telepon dari non Xella. Istri kakaknya."
Kedua tangan Sakha mengepal erat dengan pandangan menusuk, tatapan mereka bertemu, tetapi tidak ada suara yang terucap seakan mereka menyampaikan sesuatu hanya dari tatapan saja. Setelah itu Sakha pergi.
***
Sampai malam Sakha tak kunjung kembali ke rumah sakit. Xella semakin cemas karena teleponnya tidak tersambung dengan sang suami. Bukan hanya dirinya saja yang berulang kali menelepon Sakha karena Merida dan Shifkha juga melakukan hal yang serupa. Yang terlihat santai adalah Pradana. Pria paruh baya itu santai dengan tatapan datar ke semua orang.
“Bang Sakha nggak jawab telepon gue. Lo?”
“Sama,” jawab Xella sama-sama berbisik.
Merida yang tak sengaja melirik pun mengangguk kepada Shifkha.
“Pulang sama gue aja, gimana?”
“Bunda?”
“Nggak pulang. Ada kamar Bunda sama Ayah di sini. Mereka nggak akan pulang ke rumah sampai Sathir diizinkan pulang.”
Kantor pun akan berpindah tempat ke rumah sakit. Begitu juga dengan butik, Merida akan work from home.
"Lo pasti bingung," tebak Shifkha membawa mobil keluar dari area parkir. Sudah malam, tapi tenang saja karena anak buah Pradana membuntuti memastikan anak dan menantunya selamat sampai rumah.
"Kita kembar tiga, bang Sakha, gue, terus Sathir. Dia beda dari kami berdua. Kondisi tubuhnya sudah begitu semenjak lahir. Gagal jantung makanya bunda sama ayah lebih protektif ke Sathir yang membuat bang Sakha cemburu, merasa selalu dibandingkan. Apalagi Sathir anak pintar, lebih pintar dari gue. Bang Sakha nggak begitu pintar di akademik, tapi di luar itu dia jago. Bahkan waktu kalian nikah abang kasih mahar bengkelnya," lanjut Shifkha menjelaskan merasakan kesempatan bagus karena Xella terlihat tidak berniat menyela.
Shifkha tahu ada sesuatu yang terjadi pada pernikahan Sakha dan Xella, hanya saja dia menghargai keputusan kakaknya. Dia juga tahu Sakha dan Xella tidak terlalu dekat, justru Shifkha tahunya Sathir yang dekat dengan Xella.
"Emang nggak tertebak. Gue mikirnya lo ada sesuatu sama Sathir eh nggak tahunya justru menikah sama abang gue."