Bab 11. Tindakan Iseng Mencelakai

1043 Words
Xella terbangun dengan tubuh yang lebih bugar, tapi sebagai gantinya dia ditinggalkan sendirian. Entah ke mana perginya sosok Sakha. Mereka flight setelah Merida memberitahu lokasinya, tidak jauh-jauh hanya Bali selama satu minggu full. Seharusnya Sakha mengajaknya di hari kedua pengajuan cuti kuliah, tetapi tiba-tiba ubah rencana begitu mendapati Xella makan es krim bersama Sathir. Laki-laki bercabang dan penuh dengan rencana. "Definisi honeymoon, tapi sibuk sendiri-sendiri. Gue tidur dia selancar," gumam Xella saat membuka pintu belakang villa. Melihat Sakha yang sedang transaksi menyewa papan selancar. Laki-laki itu seolah tidak merasakan lelah, padahal Xella yang baru tidur pun masih terasa pusingnya. Daripada menunggu orang yang sedang bermain Xella tak mau ketinggalan. Masuk ke dalam villa dengan terburu-buru, berganti baju pantai tak lupa mengenakan kacamata hitam supaya netranya tidak silau. Xella bergabung dengan bule-bule yang sedang berjemur di kursi malas hanya mengenakan pakaian dalam. Sedikit meringis karena hanya dia yang masih wajar, walaupun ini Bali tetap saja rasanya kurang pantas kalau mengikuti gaya bule. Rok pantainya berkibar karena angin tak pernah pergi, sedikit geli saat mengenai pahanya yang terbuka, sedangkan atasnya hanya ditutup dengan bra model kemben yang tidak menutupi perut rampingnya; sexy. "Ah panas banget." Desah seseorang. Kepala Xella menoleh ke samping, seseorang menghalanginya dari terpaan matahari. "Apa?" Xella mengendikkan bahunya acuh. "Perasaan lo mau selancar." "Gue lapar." Xella diam. Dia asik menikmati semilir angin. "Ayo buruan cari makan. Gue lapar, La." "Emang nggak bisa banget ngeliat orang santai dikit." Sakha cekikikan saat pada akhirnya Xella membuka mata lalu bangkit dari rebahan. Barulah gadis itu kaget saat bule di kanan dan kirinya memperhatikan suaminya seperti ingin memakannya habis-habisan. Untung liurnya tidak sampai menetes. "Ck. Seneng?" Sakha menyugar rambutnya yang berkeringat, basah, dan lepek. Walau begitu Sakha tetap ganteng maksimal. Kalau diperhatikan tidak jauh beda dengan Sathir walau mereka kembar tak seiras, hanya saja sifatnya yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Sathir itu teladan semua orang. Anak organisasi, pinter pula sedangkan Sakha lebih suka bikin heboh, hobi motor termasuk balapan liar. Yang sulit ditoleransi flirting sana-sini tidak heran cap playboy tersemat di belakang namanya. "Kita cari nasi. Gue lapar bukan ngemil," ujar Sakha menggandeng Xella yang diam saja tak berontak. Mereka makan sore menjelang malam dengan nasi campur. Seakan tahu kalau Xella memang terbiasa makan nasi liwet di rumah jadinya Sakha mengajak gadis itu mencari makanan yang tidak aneh-aneh. Nasi campur yang berisi; sayur lawar, sate lilit, ayam betutu, dan kacang goreng tersaji di depan mereka. Sakha makan dengan lahap karena dia memang senang lapar. Sedangkan Xella makan ogah-ogahan, tidak terlalu lapar, tapi menghargai makanan bukan menghargai yang memberi. "Nggak suka kacang?" tanya Sakha saat memperhatikan Xella menyingkirkan kacang tanpa mencicipinya. "Gue alergi." "Oh." Lalu setelahnya Sakha kembali makan. "Mau makan yang lain?" Kepala Xella menggeleng, mendadak lesu. Tidak mood. "Gue nggak terlalu lapar, tapi lo pesan tanpa bilang-bilang dulu." "Ya udah makan sekuatnya, sisanya gue yang habisin." Xella diam saja menganggap hanya kalimat biasa dan tak mungkin juga Sakha makan dari bekasnya. Selama ini baru Marina yang makan bekasnya kalau Xella tidak habis makannya. Namun, tindakan selanjutnya membuat Xella menahan napasnya saat piringnya ditarik lalu sosok laki-laki itu memakannya dengan lahap. "Kalau lo masuk angin bukan urusan gue karena lo yang nolak makan!" Nah, 'kan. Baru saja dialem sudah bikin masalah lagi. Baru saja dipuji-puji kayak orang baik, eh kembali arogan lagi. "Bunda yang bayarin, gunakan waktu lo untuk senang-senang. Nggak usah mikirin tiket balik," lanjutnya kembali menyentak Xella. Sakha seakan balik ke setting awal saat sadar bahwa Sathir juga alergi kacang. Sakha benci apa-apa yang berhubungan dengan Sathir padahal Sathir tidak pernah membuat gara-gara—masalah—kepadanya. Orang tua memang berperan penting bagi tumbuh kembang anak, terlebih yang anaknya gede bareng-bareng seperti Sakha, Shifkha, dan Sathir. Sakha dan Sathir seringkali dibanding-bandingkan membuat Sakha secara alami menjadi membenci adiknya sendiri. Merasa ingin menyaingi Sathir. Seperti sekarang, usai makan dan minum langsung beranjak tanpa menghiraukan keberadaan Xella, padahal dialah yang datang-datang menggandeng tangannya seperti pasangan pada umumnya. “Dia punya kepribadian ganda? Aneh banget,” gumam Xella belum beranjak, dia yakin makannya sudah dibayar oleh sang suami. Duduk menikmati angin malam yang mengibarkan helaian rambut sebahunya. *** “Ah …!” “Minggir. Berat,” usir gadis yang tubuhnya ditindih oleh Sakha. Bau alkohol membuat Xella berusaha menghindari, tetapi tak berubah sama sekali justru tubuhnya berguling menjadi dipeluk oleh Sakha. Dijadikan sandera bahkan dengan lancang mencium pipinya sampai basah. Xella risih, matanya berat susah sekali terbuka, tangannya dikunci Sakha membuat pergerakannya menjadi terbatas. Tenaga orang mabuk nyatanya masih kuat. “Ka!” teriak Xella langsung membuka mata. Tadi itu antara mimpi dan nyata apalagi waktu lagi ngantuk-ngantuknya membuat mata enggan melek. “Ck.” Kepala Sakha terlempar ke belakang saat ditonyor oleh Xella yang sudah sadar sepenuhnya. “Lo mabuk gila. Minggir, jangan tidur sama gue kalau lo mabuk. Sana ke depan!” Sakha diam saja, walaupun sudah terlentang, tetapi tangan kirinya ada di punggung Xella sehingga gadis itu susah kaburnya. “Astaga lo harus membayar mahal karena menganggu tidur gue,” ujarnya mendesah jengkel. Xella memilih terjaga sampai pagi daripada dia kecolongan. Xella berbalik badan pelan-pelan karena pergerakan yang terbatas, tubuhnya membelakangi Sakha, tapi tidak lama setelahnya tiba-tiba saja pelukan didapatkan membuat Xella tersentak hampir menjatuhkan ponselnya. "Bikin kaget." Monolog Xella menoleh ke belakang memastikan suaminya tidur. "Jam segini udah tidur kali, ya? Tapi biasanya masih keliaran," gumam Xella saat teleponnya tidak diangkat oleh Lovina. Xella kesal sampai memencet asal nomor orang-orang di kontaknya dengan mata merem melek antara ngantuk dan tidak ngantuk sampai suara dehaman seseorang di seberang sana membuat Xella tersentak. "Belum tidur?" Xella menahan napasnya. Suaranya sexy sekali, sepertinya orang itu baru bangun itu. "Gue ganggu lo tidur, ya?" Orang itu tidak menjawab melainkan mengajukan pertanyaan awal. "Lo belum tidur? Abang gue ke mana?" "Gue udah tidur, terus bangun gara-gara Sakha," jawab Xella, terdengar helaan napas di seberang sana. "Sorry tadi nggak sengaja kepencet nomornya malah bangunin lo." "Gue tutup, ya. Sekali lagi maaf." Hanya dehaman lalu mati. Xella menatap nanar ponselnya seakan menatap orangnya, ada perasaan rindu yang tiba-tiba datang. Tanpa dia sadari tindakannya yang tidak sengaja justru mencelai orang lain. Sathir langsung memegang dadanya, sakit rasanya dan berusaha ditahan karena tak mau menggangu waktu tidur orang lain. Namun, semakin mencoba dia semakin kewalahan sampai akhirnya memencet nomor darurat di ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD