Bab 10. Aw

1029 Words
"SAYANG!" "Bun," sapa Xella menerima pelukan Merida. “Mari masuk.” “Kalian ini pindah nggak kabar-kabar. Bunda ke rumah kamu cuma ada Marina saja. Kalian baru pindahan hari ini, ‘kan?” Xella mengangguk. “Aku pikir Sakha sudah izin sama Bunda dan ayah. Maaf ya Bun kita belum mampir ke rumah,” ujar Xella tidak enak. Sakha yang berbuat dia yang tanggung jawab. Rasa tak enak karena tindakan semena-mena Sakha. “Ah kamu ini. Sakha tukang bohong, kalau bisa jangan sepenuhnya percaya sama suami kamu. Omong-omong Bunda udah siapin kamarnya Sakha, Bunda isi meja rias dan ganti sprei, tapi malah ke apartemen,” ujarnya lesu. “Kapan-kapan kita mampir, Bun,” ucap Xella menenangkan mertuanya yang nampak sedih. Ibu sebaik ini dibikin kecewa oleh Sakha. Benar-benar anak yang halal dikutuk. “Siapa … Bunda ngapain ke sini?” tanya Sakha yang baru selesai mandi, bertelanjang d**a dengan celana bokser. Tetesan airnya membasahi d**a bidang lalu turun sampai perut berbentuknya. Sakha biasa saja, yang malu justru Xella, apalagi ada Merida. Sungguh kurang sopan. “Kamu, ya!” “AW! BUN?!” “Rasain!” omel Merida. “Pindah nggak bilang-bilang. Bunda tuh nunggu kalian ke rumah, mau bahas-bahas honeymoon, Bunda ke rumahnya Xella juga. Kejam banget nggak kasih kabar.” Merida ngomel-ngomel sendiri, capek sendiri, dan berujung menjatuhkan badan ramping terawatnya di sofa disusul Xella yang mengusap-usap lengan sang mertua sedangkan Sakha acuh saja. Masuk ke dapur, membuat kopi, lalu bergabung seraya menunggu mesin kopi. “Bukan nggak mau kasih tahu. Dadakan, rencananya juga mau ke rumah ambil laptop, tapi belum ada waktu, Bunda. Lagian sekarang Bunda juga sudah di sini, apa masalahnya?” Rayu-rayu Merida. Walaupun Sakha seperti partner debatnya, tapi bagi Sakha wanita paruh baya itu adalah ibunya, seringkali Sakha mengalah. Kalau dengan Pradana? Jangan harap ngalah. Yang ada adu otot terus. “Honeymoon-nya gimana? Bunda udah urus cuti kalian berdua.” Sakha menghela napasnya pelan. Itu masalahnya. Merida terlalu buru-buru tanpa bertanya. “Mau dibatalkan juga nggak mungkin, bukan masalah duitnya, tapi Bunda pasti bakalan kecewa kalau kita nggak jadi pergi. Jadi ya udah. Kapan?” “Serius, ‘kan?!” “Iya,” jawab Sakha malas mendengus. Laki-laki itu melupakan presensi satu orang yang diam mendengarkan tanpa menyela dan tanpa dimintai persetujuan. Xella orangnya. Dia menjadi pihak yang nurut mau diboyong ke mana. “Kita honeymoon, tapi dengan catatan Bunda nggak boleh melarang aku sama Xella tinggal di sini.” *** “Lo pergi sendiri.” Bukan sebuah pertanyaan, tetapi ketetapan dari Xella karena gadis itu merasa bahwa Sakha selalu seenaknya sendiri dalam bertindak dan memutuskan sesuatu. “Honeymoon sendiri maksudnya main solo? Buat apa punya istri kalau nggak dipakai,” jawab Sakha sekenanya. “Alasan utamanya udah gue bilang. Gue nggak mungkin mengecewakan Bunda. Lagian anggap aja liburan sebelum kembali jadi mahasiswa rajin. Tenang beasiswa lo aman kalau nurut sama gue.” Xella semakin melengos meninggalkan Sakha di kamar. Mereka baru tiba sewaktu Merida datang, barang-barang milik Xella pun masih ada di koper karena belum sempat dibereskan. Saat Sakha mandi dan Xella duduk di ruang tamu tiba-tiba bell apartemen berbunyi. Sosok Merida datang bersamaan dengan Sakha yang selesai mandi. Mereka belum membahas banyak hal terkait pernikahan ini, perjanjian apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan kedua belah pihak. Pembagian kamar yang lebih utama. Seperti tadi saat Sakha menguasai kabar, berbaring bermain ponsel sedangkan Xella kebingungan mau rebahan di mana sehingga gadis itu duduk di sofa ruang tamu sembari mikir. Saking lelahnya Xella tertidur dengan posisi duduk. Gadis itu lelah. Segalanya terlalu mendadak. Nama baiknya di kampus sedang jadi bahan perbincangan, setelah menikah Xella belum otak-atik ponsel kecuali untuk kepentingan. Dia takut diserbu mahasiswa lain karena kabar yang beredar di toilet bersama Sakha. “Sejujurnya lo cantik walau nggak masuk type gue, tapi sayang awal hubungan ini jelek sekali.” “Lo jelek!” Dengus Xella mendorong wajah Sakha yang tepat di atasnya. “Mau macam-macam, ya?!” “Iya,” jawab Sakha. Lalu menduduki tangan Xella membuat gadis itu memekik menjambak rambut Sakha. “Kenapa lo hobi banget jambak rambut gue, sih? Ada waktunya lo jambak-jambak Xella yang jelas bukan sekarang,” godanya menaikkan alisnya naik turun seraya tatapannya jatuh pada d**a Xella yang sontak langsung menyilangkan kedua tangan untuk menutupinya. “m***m banget, sih!” “m***m ke istri halal, sah, ibadah juga. Apa salahnya?” “Salahnya karena mata lo jelalatan ke sana ke sini. Nggak ada sopan santun walaupun gue istri lo sekalipun.” Xella membantah persepsi Sakha perihal itu. “Gue mau kejelasan pernikahan ini.” “Emang kurang jelas, ya?” tanya Sakha berpura-pura bingung. Dia paham apa yang diinginkan oleh gadis itu. “Soal kamar—” “Nggak ada list pisah kamar.” “KOK LO GITU, SIH, KA?!” “Gitu gimana?” tanya balik Sakha. “Lo yang aneh. Tidur mah tidur aja nggak usah berlagak pisah kamar lagian di apartemen ini cuma kamar utama yang bisa dihuni. Yang lain atapnya bocor. Ada juga kamar mandinya nggak ada lampu, banyak kecoa emangnya lo—” “TERSERAH!” Padahal yang diomongin Sakha adalah dusta. Entah apa rencana laki-laki itu. Xella murka. Pergi dari apartemen tanpa izin kepada suaminya bahkan laki-laki itu pun cukup acuh. Saat Xella menoleh tidak ada tanda-tanda Sakha muncul. “Ih ngeselin banget.” Xella mendengus. Cewek emang gitu, walaupun kesal berharap dikejar, setidaknya ditenangkan. Xella berjalan mengikuti jalur aspal, dia bingung mau ke mana. Nggak bawa uang nggak bawa ponsel selayaknya orang hilang. Saat duduk di trotoar pikiran Xella kembali ke masa dulu. Dulu sekali dia hidup mewah, enak, tanpa memikirkan besok makan dengan apa. Kehidupan menjungkirbalikkan keadaan tenangnya saat orang ketiga masuk ke keluarganya mengobrak-abrik segalanya. Xella yang manja menjadi tangguh, hidup keras bersama ibunya yang seorang buruh cuci dan tukang jahit. Lalu beberapa bulan melamar kerja sebagai perancang gaun-gaun di tempat Merida. Takdir seolah bermain-main dengan Xella bahwa mertuanya adalah bos ibunya. "Xella?" tanya seseorang antara ragu dan yakin. Begitu kepalanya mendongak, orang itu berucap syukur. "Lo ngapain di sini?" "Eng ... lo sendiri ngapain di sini? Jalan kaki? Mobil lo mana?" Lawan bicaranya terkekeh lalu mengulurkan tangan yang diterima ragu oleh Xella. "Mau es krim, La?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD