AJ#5 Badai hujan untuk kabar penting

1614 Words
Aku sedikit bergerak mundur, lebih memilih untuk memberikan jarak dengan laki-laki yang sekarang menyeringai. Kata-kata dari tulisan yang baru saja aku baca, kembali terngiang-ngiang dalam kepalaku, seakan memberi sinyak waspada dengan situasi aku sekarang. “Kenapa kamu tau tentang buronan? Berita itu gak disebar secara luas karena takut terjadi kerusuhan, dan kamu yang ada di sini bisa tau tentang itu. Sebenernya siapa kamu? Ngapain kamu ada di negara aku? Kamu pasti yang di cari mereka bukan?!” todongku dengan beberapa pertanyaan beruntun, tapi bukan mendapat jawaban dia malah menyuar rambutnya ke belakang. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, “Akhirnya aku menemukan orang yang satu pemikiran dengan aku, tapi kamu gak perlu khawatir ada di sini, aku gak bakal bikin kamu celaka.” “Alasan apa yang membuat aku harus percaya sama kamu?” Zack mengeluarkan sebuah kalung dari balik kaos yang ia kenakan, kalung yang bermata permata hitam, terlihat cantik. “Ini satu-satunya peninggalan dari kedua orangtuaku sebelum mereka di eksekusi mati,” ucap Zack setenang mungkin, dia menarik lenganku, meletakan kalung itu di lenganku, “aku bukan orang jahat seperti yang diberitakan pemerintah, mereka menutup kejahatan yang mereka buat dengan kedatangan aku ini.” “Tapi kenapa kamu harus kabur dari satu negara dengan negara lain? Sebelumnya kamu dari negara mana? Dan kenapa kamu bisa tau bahasa yang aku gunakan?” Dia tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang putih, “Sebenernya pemerintah gak terlalu menjaga perbatasan negara, bahkan cenderung lengah. Beberapa kali aku bisa keluar masuk dengan bebas dari 4 negara secara sekaligus, gak perlu takut kalau aku bisa aja di tangkap sama para tikus-tikus berdasi. Lagian aku juga udah mengincar beberapa negara, pengen mempelajari kebudayaan dari semua negara dan mencari titik terang dari permasalahan yang ada.” “Sebentar, maksud kamu dari titik terang itu apa? Apa kamu tau sesuatu yang seharusnya kamu gak tau?” tanyaku memastikan da Zack menjawabnya dengan anggukan, “jadi bener yang dikabarin kalau kamu tau rahasia dari negara barat sama utara?” “Gak semua rahasianya, mungkin hanya sepertiga dari seluruh rahasia yang mereka simpan rapat-rapat. Lagian setiap aku nyebrang dari satu negara ke negara lain, aku selalu dapet orang yang punya pemikiran kayak kamu, bingung dengan cara berpikir pemerintah yang terlalu otoriter saat ini,” aku mengangguk setuju dengan ucapan Zack yang memang benar adanya, “kamu pasti ngerasa bukan kalau dari tahun ke tahun, cara pemerintah bikin kebijakan itu di luar logika, bahkan bikin orang cerdas seperti kamu aja bingung sama apa yang mereka buat.” “Tapi kita gak bisa bebas untuk mengeluarkan unek-unek kita, gini aja deh. Hampir semua pergerakan kita di luar rumah, selalu mendapatkan pengawasan dimana-mana, kalau kayak gini, apa bedanya kita sama mereka yang ditahan di penjara?” geramku kesal, mengusap wajah dengan gerakan kasar. “Kayaknya aku bisa percayain kamu deh,” ucap Zack tiba-tiba, “aku bakal kasih tau tentang hal yang udah aku dapet dari 4 negara yang udah aku jelajahi sudut-sudutnya, mungkin sedikit membantu rasa penasaran kamu dengan pemerintah.” “Hah? Kamu mau kasih tau aku rahasia dari negara itu?” Zack mengangguk, dan tanpa sadar aku langsung berbinar bahagia, satu langkah lebih maju. Badai hujan di luar sana udah benar-benar berhenti tepat saat mentari mulai keluar dari tempat istirahatnya, aku keluar dari gedung tua itu dengan kain tebal, udara di hutan sangat dingin dibandingkan dengan daerah kota yang pagi hari saja sudah mulai terasa panas. “Kalau udah benar-benar terang, kamu bisa keluar dari hutan. Kalau ada yang bertanya kamu dari mana, jawab aja----“ “Aku abis terperangkap dari badai hujan, dan gak sengaja nemu gubug dari para pemburu untuk beristirahat buat neduh dari badai hujan,” potongku dengan nada ogah-ogahan, memutar bola mata malas mendengar hal yang sama semenjak aku bangun tidur. “Hahaha udah sampai hafal ya, sekarang kamu masuk ke dalam. Udaranya masih dingin, kamu bisa terserang flu kalau lama-lama di sini.” “Bentar lagi, aku mau keliling hutan dulu, pengen liat hutan di sini,” aku tolak dengan halus, Zack hanya mengangguk, berlalu meninggalkan aku di perantara gedung tua. “Seindah ini daerah di luar perkotaan, kenapa pemerintah ngelarang buat masuk ke daerah ini. Gak ada yang namanya sumpek karena padetnya kota, udaranya seger, enak buat jadi tempat berfikir,” gumamku, berjalan dengan tenang ke arah hutan yang lebih dalam, tanaman liar tumbuh dimana-mana, tanaman yang langka aja aku bisa temuin di sini. “Jangan dipegang kak, itu beracun!” gadis kecil yang dikepang dua, memegang lenganku yang akan menyentuh satu bunga cantik di pinggiran pohon besar. “Beracun? Di sini masih ada tanaman beracun?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan, “kamu tau darimana de?” aku berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi gadis kecil itu. “Oma yang bilang, katanya bunga di bagian timur banyak yang beracun, tangan gak boleh sembarangan pegang. Kayaknya kakak bukan dari desa daun deh, kakak darimana?” tanya gadis kecil setelah melihat aku dari atas sampai bawah, dia memiringkan kepalanya sebelum tersenyum. Aku kembali berusaha mengingat salah satu desa di bagian timur, dan baru sadar kalau desa daun itu terkenal dengan beragam macam tumbuhan herbal yang setiap hari Rabu dan Sabtu akan dimasukan ke perkotaan untuk diolah jadi obat tablet dan sirup. “Eh.. keliatan ya kakak bukan orang sini?” tanyaku canggung, dia mengangguk dengan mantap, menatap polos wajah aku dengan pandangan penasaran. “Kakak kayaknya dari kota ya? Kalau dari desa, gak mungkin asing sama tanaman di sini apalagi tanaman beracun. Kakak bisa mati dalam hitungan jam,” tuturnya yang kembali diiringi dengan senyuman lebar, menampilkan deretan giginya yang kecil rapih. “Hahaha kamu ini, oh iya kita belom kenalan. Nama kakak Alya, kalau kamu?” Aku mengulurkan tangan kanan. “Aku Aisy kak, rumahnya di ujung hutan sana.” Ais menunjuk ke arah belakang tubuhnya, aku sedikit berjinjit untuk melihat tempat yang Aisy maksud, sepertinya masih jauh dari tempat aku saat ini. “Kamu di sini sendirian?” dia mengangguk, “gak takut gitu ada hewan buas?” “Kakak ngelucu deh, kita anak desa belajar buat jaga diri kok. Orangtua kita udah ngajarin, kalau ketemu hewan buas itu gimana, lagian pemerintah udah ngasih batas wilayah dimana ada hewan buas, jadi lebih tenang buat nyari makanan sama obat-obatan.” Aku mengerutkan dahi, “Kenapa kalian gak ke kota aja buat berobat? Fasilitasnya lengkap di sana, obat-obatannya juga lengkap.” “Kak udah peraturannya, kita anak desa yang bukan ada tugas di kota, gak boleh masuk ke sana, meskipun di sini ada bencana dan kota lebih aman, tetep aja gak boleh, apalagi cuman sebatas pengobatan yang dimana tanaman obat kita juga ada,” tutur Aisy dengan suara bergetar, dia merunduk menyembunyikan wajahnya dari aku. Aku mengangkat dagu Aisy untuk sejajar dengan wajahku, mengusap air mata yang berlinang di kedua pipinya. Aku langsung mendekap tubuh mungil itu, membiarkan dirinya puas menumpahkan air matanya, sebelum akhirnya dia mengangkat wajahnya, berusaha untuk tersenyum. Aku tau rasanya, saat terlihat baik-baik aja sedangkan hati sedang tidak ingin seperti itu. “Gak usah tersenyum kalau kamu gak mau, kakak tau kok pasti nyesek banget harus ada di posisi kalian semua ini, kalian dibutuhkan tapi gak dianggap.” Aisy memegang tangan yang aku gunakan untuk mengusap air matanya, “Aisy sedih kak karena mamah meninggal waktu Aisy nemenin mamah sakit, pertolongan di desa gak bisa bantu penyakit mamah yang waktu itu udah parah banget.” “Mamahnya Aisy sakit apa?” Aisy menggelengkan kepala, “terus tau itu udah parah darimana?” “Di desa ada 2 orang tabib buat pengobatan, kata tabib ada benjolan di leher sama punggung mamah, tapi tabib gak bisa obatin soalnya gak ada tumbuhan yang bisa di racik waktu itu. Hampir sulit desa daun nemuin obat setelah penyergapan dadakan dari pemerintah. Waktu itu yang sakit cuman bisa berharap sembuh doang dari keajaiban, karena kita gak bisa ngapa-ngapain selain berharap.” “Penyergapan? Kenapa harus ada itu di desa kalian?” tanyaku yang semakin memecah satu persatu kepingan puzzle. Aisy menggeleng pelan, gadis kecil yang malang. Aku cuman bisa mengelus punggungnya, berusaha membuat dia tegar dengan kondisi yang kian membingungkan. Sekarang aku gak habis pikir lagi sama apa yang dipikirkan pemerintah saat ini? Banyak orang di luar kota, menjerit membutuhkan bantuan, tapi mereka memilih untuk tuli. “Aisy makasih ya udah ngajarin kakak banyak hal di sini, sekarang kak Alya jadi tau mana aja yang termasuk tumbuhan beracun sama mana aja yang bisa kakak konsumsi.” Aku mengusap rambut Aisy yang dikepang dulu, sangat serasi dengan wajah Aisy yang temben dan senyumnya yang manis. “Sama-sama kak, kan kita harus saling tolong menolong. Nanti kakak ke sini lagi ya, Aisy mau kenalin kakak sama temen-temen Aisy,” ujar Aisy dengan semangat. “Boleh kok, nanti kalau ada waktu kakak ke sini lagi deh. Ya udah kakak harus pulang sekarang, tapi sebelum kakak pulang, kakak mau ngasih Aisy sesuatu biar Aisy bisa inget kakak,” aku merogoh saku di celana katun, mengeluarkan gelang hasil anyaman berwarna biru laut. “Ini buat Aisy kak? Barangnya pasti berharga buat kakak, gak boleh kasih ke Aisy kak.” “Emang berharga, kan Aisy berharga makanya kakak kasih ini buat Aisy,” ucapku yang memegang lengan Aisy. “Engga kak, kalau kakak butuh ini gimana? Kan barangnya ada di Aisy sekarang,” ujarnya dengan lugu, alisnya saling bertautan dengan bibir mempout sempurna. “Kakak bisa bikin ini ratusan buah, ini salah satu gelang hasil anyaman kakak kalau senggang waktu. Kakak pake ini biar kakak ngerasa tenang gak mumet sama kerjaan kakak yang banyak banget, kakak harap gelang kakak ini bisa bikin kamu tenang oke?” “Oke, eh ada temen kakak tuh di belakang.” Aku membalikan badan dan langsung terbelalak, “Kenapa kamu di sini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD