AJ#4 Pertemuan pertama dengan Zack

1626 Words
“Hai Alya,” sapa laki-laki jangkung dengan jas dokter yang tersamping di tubuhnya, dia berjalan mendekat ke arahku, duduk tepat di sebrang meja. “Seperti biasa, telat terus, sekarang rekor baru ya kak buat telatnya,” Aku kesal langsung melipat lengan di depan d**a, “aku udah nunggu sesuai janji jam 9 tepat di cafe dan sekarang udah jam 12 kak Fincent! Kalau telat terus, aku gak mau bantuin kakak buat bikin alat pengobatan!” ancamku yang langsung membuat kak Fincent gelagapan. “Duh adik aku yang paling manis, paling cantik banget. Jangan kayak gitu dong ancamannya, 2 alat yang udah di resmikan sama pemerintah, bener-bener berguna buat kakak kerja Alya. Bayangin nih, sekarang ada korban tambahan di perbatasan sama di desa ujung, karena alat kamu mereka bisa selamat dan tetap hidup.” Aku mendecih, menyembunyikan perasaan bangga dengan diri aku sendiri, gak sia-sia pengorbanan aku selama 2 tahun terakhir ini. Apalagi ucapan kak Fincent sedikit menyentuh hati, aku sendiri penasaran sama kabar korban-korban yang semakin bertambah tiap harinya. Apa ada alasan khusus kenapa korbannya bertambah? “Malah bengong kan,” dengus kak Fincent yang sedikit mencondongkan tubuhnya, kembali ke tempatnya setelah menjitak kepalaku sekali. “Ais nyebelin banget!” “Hahaha jadi gimana persiapan untuk 3 hari lagi? Semuanya aman?” aku hanya mengangguk malas, “kakak gak mau kayak yang lain bilang ke kamu buat jangan bikin mereka kecewa, kakak cuman pengen bilang sama adik kakak yang gak pernah mau kakak manja untuk selalu kuat dengan beban yang udah kamu pilih.” Aku merunduk menyembunyikan air mata yang menggenang, “A-aku harusnya kayak kakak, seengaknya aku gak dapet beban kayak gini kak. Terkadang bikin mereka puas dengan mimpi mereka, terlalu berat kak, aku cape terus terlihat baik-baik aja,” keluhku yang mulai terisak. Aku merasakan kursi di sampingku bergerak, “Coba liat kakak sekarang,” aku merasakan daguku diangkat, “kalau kamu cape, berhenti dulu. Bukan tanggungjawab kamu buat mereka puas dengan apa yang mereka ingin kan oke? Kamu itu terlalu baik, jangan kayak gitu.” “Dari sisi mana kakak bisa bilang kalau aku ini baik? Aku udah pernah dipenjara karena sikap ngeyel aku, terus aku hampir bakar lab khusus peracikan obat karena sikap aku yang ceroboh. Aku gak baik, aku cuman berusaha untuk bisa selaras dengan kak Fincent, kak Adrian, sama Aurel. Kalian sempurna, sedangkan aku? Ayah sama ibu gak pernah anggap aku ada.” Aku mengangkat kepala sejajar dengan kak Fincent yang sudah tersenyum miris, fakta mengerikan yang selalu berusaha aku kubur, bahkan sampai aku ada di posisi ini, cuman kak Fincent yang setia ngebuka lengannya buat aku. “Kayaknya sekarang waktu yang tepat buat cerita sama kamu, kenapa---“ Aku langsung menggelengkan kepala, “Gak untuk saat ini kak, bukan aku gak mau tau tapi aku gak mau terlalu memupuk harapan yang hanya semu belaka. Kak Adrian pernah bilang, dia sayang sama aku tapi di satu sisi dia pengen aku mati,” ringisku lirih. “Gak kayak gitu Alya, kamu salah tafsir dengan ucapan kak Adrian!” tekan kak Fincent, dia memegang kedua bahuku sedikit kencang, mungkin akan berbekas nanti, tapi itu sama sekali gak bisa ngalihin perasa sakit dari perasaan aku. “Apa yang salah kak? Itu kan yang diinginkan sama kak Adrian dan Aurel, bahkan sodara kembar aku yang lahir bareng sama aku, tumbuh bersama, pernah ada di kandungan yang sama, tetep berharap aku lenyap tanpa alasan yang jelas,” desisku dengan suara rendah, “aku sekarang cuman punya kakak yang masih peduli sama keberadaan aku, peduli aku masih hidup atau engga,” aku mengusap air mata yang lolos dari pelupuk mataku. Bergegas mengambil tas yang tadi aku letakan di atas meja, keluar dari cafe setelah meletakan uang di atas bill, menulikan telinga saat mendengar teriakan dari kak Fincent yang berusaha mengejar aku. Berusaha keras aku untuk pergi menjauh, berlari tanpa tau ku harus berhenti dimana, seenggaknya kak Fincent gak berhasil mengejar aku. “Bahkan dunia semakin gak adil kan!” teriakku saat berhenti di gedung tua, bangunan yang cukup menyeramkan dari luar. Aku mengusap air mata yang mulai lancang keluar, menengadah menatap awan yang menghitam, menutup seluruh cahaya matahari. Bahkan langit tau gimana perasaan aku sekarang, aku mengadahkan tangan, menunggu air hujan menetes. “Gak bagus perempuan sendiri di hutan, apalagi hujan bakalan turun,” ucap suara yang membuat aku menghentikan tingkah abstrak. “Siapa kamu?” tanyaku saat sudah membalikan badan, menatap laki-laki yang berpakaian seperti petani di desa ujung, tapi perawakannya dan nada bicaranya berbeda. “Harusnya aku yang bertanya sama kamu, kamu siapa? Tujuan kamu ada di tempat ini apa?” dia malah bertanya, berjalan mendekat membuat aku harus berjalan mundur. “Aku Alya, salah satu ilmuwan yang masih junior di sini.” “Alya,” gumamnya seperti mengingat sesuatu, “nama yang unik. Kenalin nama aku Zack,” dia mengulurkan tangan dengan senyum simpul. Aku menatap sesaat uluran lengannya sebelum membalasnya, “Nama yang sedikit berbeda dari yang selalu aku dengar di kota. Jadi apa kamu tinggal di sini Zack?” “Ya aku tinggal di sini, apa ada masalah? Apa kurang meyakinkan?” aku menggelengkan kepala, dasar mulut kurang sopan! Aku memukul pelan bibirku saat sadar dengan apa yang aku ucapkan tadi, tapi gak berlangsung lama karena beberapa detik kemudian lenganku ditahan sama Zack, dia malah menggenggam lengan yang tadi aku pakai untuk memukul bibir yang selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, seperti tadi! “Em.. maaf tapi sebelumnya bisa lepasin tangan aku dari tangan kamu dulu?” ucapku pelan, berusaha melepaskan pegangan lengannya yang terasa menyakitkan, dia meringis malu. “Maaf maaf Alya, aku punya kebiasaan yang cukup buruk untuk itu.” “Gak papa cuman ha—hachim...” aku langsung menutup mulut, memejamkan mata karena malu udah bertingkah kurang sopan lagi di depan manusia yang baru aja aku temuin. “Pasti kedinginan, di sini cuacanya emang sedikit menyebalkan karena suhunya cukup rendah,” jelasnya dengan suara rendah, bahkan terdengar renyah, pas untuk membuat seseorang nyaman mengobrol lama dengan dia. “Dari dulu juga kita tau kalau daerah sini punya cuaca yang cukup ekstrim apalagi, dan lagi aku yang berasal dari di daerah kota yang suhunya gak selalu stabil belakangan ini, bahkan suhunya cukup panas 2 hari terakhir ini,” keluhku tanpa sadar, mungkin karena suasana yang dia buat cukup membuat aku merasa nyaman. Dia mengangguk, mengeluarkan satu buah kain tebal yang dia sampirkan ke pundakku, cukup hangat untuk mengalihkan suhu dingin di sini,“Aku gak punya apa-apa di sini tapi mungkin kain ini bisa sedikit membantu kamu.” “Maaf jadi malah ngerepotin kamu di sini.” “Gak masalah Alya, aku malah seneng dapet temen baru di sini.” Zack berjalan menuju gedung tua itu, membuka pelan pintu itu dengan hati-hati, tapi sayangnya bunyi decitan tetap terdengar dengan jelas. Dia meringis sembari menatap ke arahku, aku hanya bisa membalasnya dengan senyum memaklumi. “Di hutan cukup sulit dapet makanan layak, apalagi cuaca yang semakin dingin, banyak hewan yang udah pindah tempat ke yang lebih hangat, jadi maaf cuman ada sayur dan beberapa ikan yang udah aku bakar tadi.” Aku tersenyum lebar, “Zack aku gak lapar kok, tadi sebelum aku sampai di tempat ini. Aku udah makan kok, bahkan tadi sampai kekenyangan.” “Kamu gak kayak warga dari kota yang sombong dan gak mau nyapa warga biasa yang gak setara dengan kalian semua, apa daya yang cuman bisa bercocok tanam dan mencari makan dari hutan,” ujarnya seperti tamparan keras untuk aku, emang kata-katanya bukan buat aku tapi rasanya seperti ada palu yang memukul tepat di relung d**a, menyesakkan. “Kadang beberapa orang memandang dari profesi yang mereka lakoni, tapi menurut aku itu gak terlalu penting, antara satu dengan yang lain punya hubungannya kok. Kebayang kalau gak ada petani dan pemburu, belum tentu aku bisa tenang makan, tanpa perlu bersusah payah ngejar hewan buruan.” Zack malah tertawa kencang, cukup menggelegar dengan tubuh yang bergerak mengikuti tawanya yang masih tetap sama kencangnya. Zack menghentikan tawa, menyeka air mata yang keluar dari ujung matanya, menatap sekilas ke arahku. “Kamu bisa berpikir kayak gitu, atau mungkin kamu ngerasa gak enak hati karena aku udah bantuin kamu bisa masuk ke rumah ini? Apalagi dalam beberapa menit lagi bakal ada badai hujan di luar sana, ucapnya dengan senyum menyebalkan, dia menatap ke arahku, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutku. “Aku gak tau kenapa kamu terlihat membenci orang-orang kota, mungkin iya karena hampir kebanyakan dari kami masih enggan berteman dengan orang yang tidak setara, tapi bukan berarti itu bukan gak mungkin kan kalau ada yang masih mau berteman sama kalian. Aku orangnya nekat, salah satunya kayak gini, nekat buat berbaur dengan orang-orang di luar kota. Kalau kamu dengerin pidato para petinggi---“ “Kalian orang kota gak boleh sembarangan masuk ke wilayah di luar tembok wilayah kota, dan begitu pun sebaliknya karena takut terjadi perpecahan, rasis,” komentar Zack yang mengambil salah satu kentang bakar di meja, menyantapnya dengan santai. “Kamu ngerasa aneh dengan apa yang diucapkan sama petinggi-petinggi itu?” Dia malah mengernyitkan dahi, mungkin bingung dengan pertanyaan aku yang aneh, bukannya setuju dengan ucapan petinggi, aku malah terlihat kontra dengan ucapan petinggi yang mengkotak-kotakkan manusia di sini. Semua orang itu sama, gak ada yang berbeda! Ekspresi Zack tiba-tiba berubah menjadi serius, “Harusnya aku di sini yang bertanya kayak gitu sama kamu, orang kota seharusnya lebih faham dengan itu semua, bukan warga yang tidak dipedulikan seperti aku. Kamu mau meledek aku karena aku bukan orang kota yang sama seperti kamu?” tanyanya lagi dengan salah satu sudut bibir terangkat. “Eh bukan kayak gitu Zack, aku juga kurang setuju sama pemerintah yang---“ “Sebenernya kamu tau tentang buronan yang dicari sama pemerintah?” aku menautkan kedua alis, kenapa dia tau tentang buronan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD