“Maaf maaf aku terlambat,” ucapku dengan napas terengah, mengelap peluh yang bercucuran di sekitar pelipis kepala.
Aku menatap 4 manusia yang menatap sekilas ke arahku sebelum kembali fokus dengan bahas presentasi mereka, selalu seperti ini dalam 1 bulan terakhir ini. Sedikit menyebalkan saat harus membentuk tim penelitian baru, apalagi kalau mereka udah senior dari aku, bukan gak suka, tapi mereka selalu merendahkan segala opini yang keluar dari mulut aku.
“Telat 1 menit 20 detik,” ucap laki-laki yang berkacamata, dia melepas kacamatanya dan melirik sinis sekilas ke arahku. Loh apa salah aku?
“Gak apa-apa, kita belum mulai juga,” ucap perempuan yang masih asing di indra mataku, dia terlihat jauh lebih santai dari 3 temannya yang terlalu serius.
“Makasih kak Anya, jadi sekarang apa yang bakal kita teliti?” tanyaku dengan pelan.
“Kamu punya bahan penelitian mengenai alat di rumah sakit?” aku mengangguk tidak yakin, “besok aku minta datanya karena---“
“Maaf kak Sandrina aku mau motong ucapan kakak.”
“Kamu gak tau sopan santun di sini hah? Hargain lah kakak tingkat kamu, jangan karena kamu jadi anak kesayang dari profesor yang bakal jadi penanggungjawab kita, kamu bisa seenaknya motong pembicaraan orang!”
“Udah deh Arya, gak usah mempermasalahkan hal yang gak penting. Jadi gimana?”
Aku melirik sekilas ke arah kak Arya yang sedari awal gak suka aku masuk di tim ini, kak Anya hanya tersenyum simpul mempersilahkan, sedangkan laki-laki yang berkacamata dan tadi sinis ke arahku, kak Azka, hanya berdeham pelan.
“Jadi gini kak, aku keberatan kalau misalnya kita cuman sebatas ngumpulin data selama 1 minggu ini. Bukan berarti aku menyangkal kalau kita butuh banyak data dari penelitian-penelitian yang udah pernah di lakukan, tapi biar hasil memuaskan seperti yang udah pernah terjadi. Kita butuh untuk aksi, kalau sebatas data. Aku lebih baik keluar,” ucapku dengan tegas, berusaha mengatur deru napas yang menggila.
“Jadi mau songong di sini? Heh, pengalaman kamu gak seberapa sama kita-kita di sini. Kemampuan kita juga masih jauh di atas kamu, jangan merasa paling bisa di sini.”
“Kak Azka, tolong digaris bawahi kalau aku gak merendahkan kemampuan kakak-kakak di sini. Tolong sebutkan kalimat mana yang menyiratkan aku merendahkan kakak-kakak sekalian. Aku cuman memberi usul, karena waktu untuk teknologi itu ada hanya 6 bulan. Kita sudah menghabiskan 1 bulan untuk mengumpulkan data, kita belum survive langsung dengan peralatannya.”
Kak Azka mendecih, masih tidak terima dengan ucapan aku tadi. Tapi emang salah dengan ucapan aku? Aku hanya megingatkan kalau waktu kita sebentar lagi, udah 1 bulan lebih waktu yang dipakai hanya untuk meneliti dari hasil data pembuatan alat. Gak salah, tapi sekarang banyak alat yang udah canggih, dimana kita harus survive langsung sama kekuatannya, bisa berhasil atau engga untuk dipakai, kemungkinan buruk dari penelitian ini apa?
“Aku setuju sama usulan Alya, malahan bener ucapannya tadi,” ucap kak Anya yang membuat arah pandangku langsung terarah ke arahnya, “kita gak punya banyak waktu, banyak hal yang perlu kita teliti lagi tapi bukan sebatas data tapi langsung di arena pertempuran kita. Kita belum tentu bisa nyelesaiin teknologi itu hanya dalam waktu 5 bulan.”
“Iya bener banget kata Anya sama Alya, kita belum tentu bisa selesaiin ini tepat waktu kalau kita masih bergelung dengan data doang. Jadi menurut aku mulai sekarang kita langsung terjun aja, tempat buat ngotak ngatiknya juga udah disediain kan, jadi lebih muda.”
“Bela aja terus ini junior, kalian jangan---“
“Buat kali ini aku setuju Ka, waktu kita mepet sekarang,” tukas kak Arya, dia melirik sekilas ke arahku.
“Serah, gue masih keberatan untuk itu semua!”
Aku merundukkan kepala, merasa tidak enak hati udah memancing keributan apalagi kak Azka langsung keluar dari tempat diskusi. Aku merasakan bahuku seperti di tepuk, mengangkat kepala dan langsung beradu pandang dengan mata coklat terang kak Arya. Aku mengalihkan pandangan,, menatap sekeliling yang sudah kosong.
“Gak usah ngerasa gak enak hati, Azka emang gitu orangnya, selama pendapat dia gak diterima, dia bakalan bete. Nanti juga baikan,” ucap kak Arya dengan santai, dan ini pertama kali aku denger kak Arya bisa bicara sesantai ini!!
“Kakak ngomong sama aku?” lengan kak Arya langsung menoyor pelan kepalaku.
“Di sini emang ada siapa lagi Alya? Cuman ada aku sama kamu bukan.”
Aku langsung tersenyum dengan canggung, menggaruk pelan tengkuk yang tidak terasa gatal, seperti orang bodoh aku! Buat apa selama ini gelar yang aku terima? Udah jelas di sini cuman aada aku sama kak Arya, malah nanya gitu!
“Eh iya kak, cuman aneh aja kakak ngomong sesantai itu sama aku. Biasanya kan kakak sewot kayak kak Azka tadi, jadi aneh aja.”
“Hahaha aku emang kayak gini Al, cuman emang sedikit kaget waktu tau ada junior yang ikut gabung penelitian yang penting kayak gini, apalagi kamu terpilih buat nemenin profesor di hari penting kita semua. Mungkin bisa disebut, aku iri sama kamu yang masih muda tapi banyak prestasi.”
Aku menutup pelan mulut agar tidak kelepasan tertawa, “Aduh kakak cuman denger yang baik-baiknya doang, gak denger kan kalau aku pernah dipenjara selama 3 bulan.”
Kak Arya langsung memegang lenganku, “Kamu di penjara? Mustahil Alya.”
“Aku ini orangnya penuh dengan jiwa penasaran, semuanya kayaknya dipenasarin, makanya bisa ada di posisi ini sekarang. Menurut aku, penelitian itu bermula dari rasa penasaran yang gak bisa di tahan lagi kayak aku, kalau udah penasaran pasti bakal di ulik,” jawabku dengan santai, memasukan kedua lenganku ke dalam saku jas lab.
“Jangan bilang kalau kamu dipenjara karena rasa penasaran dengan sejarah?” Aku menjawabnya dengan senyuman lebar, “gila itu udah kelewatan namanya.”
Aku mengangkat bahu acuh, “Sejarah itu unik, apalagi sejarah peperangan itu. Kakak tim mana nih? Tim penasaran kayak aku atau tim ogah ngurusin kayak gini.”
“Sebenernya---“
“Kalian lama banget sih!!” kesal kak Sandrina yang sudah mencepol asal rambutnya, membiarkan beberapa helai anak rambut jatuh di samping telinganya.
“Aku gak tau kalau kakak-kakak pada udah keluar kalau bukan di tepuk pundaknya sama kak Arya,” ringisku.
“Untung Arya nyusul, ya udah lah. Sekarang kita ke laboratoriumnya ya, Azka udah nyiapin beberapa alat dan cairan buat penelitian kita,” tutur kak Anya yang membuat aku heran.
“Kak Azka ada?” 2 perempuan itu mengangguk, “dari kapan kak? Bukannya tadi kesel ya?”
“Hahaha gak tau ya kalau sikapnya itu kayak bunglon. Malahan suka beda apa yang dia ucapin sama apa yang bakalan dia lakuin, jadi santai aja kalau dia marah. Gak beneran marah orangnya.”
Kak Azka yang jadi bahan pembicaraan tiba-tiba muncul dari balik pintu utama, membawa 2 kantung plastik dan satu cup minuman yang berlogo salah satu restauran tempat saji, dia tersenyum ke arah aku dan yang lain dengan memperlihatkan deretan giginya. Aku yang bingung dengan situasi ini, hanya bisa menautkan alis sembari mengusap tengkuk belakang.
“Maaf buat yang tadi, biasa suka kesel kalau argumen aku gak diterima,” sesal kak Azka yang menyerahkan cup minuman, aku mencium aroma kopi panas dari balik tutupnya.
“Nanti aku ganti uangnya.”
“Siapa yang minta kamu gantiin? Anggap aja sebagai tanda permintaan maaf aku.”
“Eh, ta-tapi gak enak loh kak sama kakak. Nanti aku ganti, jangan nolak,” ringisku.
Dia hanya tersenyum tipis, mengusap puncak kepalaku. Ugh.. rasanya aku seperti anak kecil kalau kayak gini. Kak Anya mengambil alih kantung plastik yang kak Azka bawa, berjalan menuju satu ruangan khusus untuk beristirahat, salah satu tempat favorit karena bisa menghilangkan penat.
“Profesor Jilly susah untuk di ajak kompromi,” keluh kak Anya memulai topik pembicaraan, lengannya mengambil satu donat dan memakannya dengan lahap.
“Dokter Xivier juga susah! Gila buat dapet persetujuan penelitian obat susah banget,” tambah kak Azka dengan berapi-api, bahkan beberapa kali matanya melotot kesal.
“Bukannya emang beliau berdua itu emang susah diajak kompromi, tapi kak kalau dokter Xavier itu sekalinya udah dapet persetujuan, bakal lebih mudah ke depannya.”
“Kamu pernah?” tanya kak Sandrina yang aku angguki, “demi apa kamu pernah? Keren, bukan keren aja tapi keren banget. Setau aku hanya 3 peneliti muda yang dapet ACC dari beliau, ternyata salah satunya ada di sini.”
Aku hanya bisa meringis malu, jarang aku mau ngasih tau orang lain profesor dan dokter mana aja yang udah aku taklukin buat penelitian, salah satu rekor yang aku dapet adalah menaklukan 6 dari 10 profesor yang terkenal sulit memberikan perizinan.
“Buat penelitian dimensi gimana?” ucap kak Anya dengan santainya, kak Azka langsung melempar bungkusan bekas makanan ke arah kak Anya.
“ANYA!!” teriak kak Azka, kak Sandrina, dan kak Arya secara serempak, kak Anya yang baru sadar langsung menatap takut-takut ke arah aku, menepuk jidatnya dan menatap berkaca-kaca ke arah ketiga temannya yang sudah menatap tajam.
“Maafin,” lirih kak Anya dengan suara yang terdengar serak, “Alya kamu gak ngerti kan.”
Aku balas dengan tersenyum lebar, “Aku boleh ikutan penelitian itu?”
“Sebentar,” ucap kak Sandrina dengan cepat, “jangan bilang kamu juga?” aku mengangguk dengan semangat, ternyata ada senior yang satu pemikiran dengan aku.
“Aku mau ikut kak!”
“Gila gila kita nambah personil! Penelitian ini bakal dikenang sama sejarah, perjalanan ke dimensi luar, kalau bisa perjalanan ke antar waktu, biar kita bisa kasih peringatan tentang dunia sekarang yang kejam, aku kan pengen liat dunia yang katanya beragam,” ucap kak Anya dengan semangat, matanya yang berkaca-kaca berubah jadi berbinar.
“Jangan terlalu bermimpi, kalau sampe gak kesampaian bakal bahaya,” sinis kak Arya, matanya masih menatap kesal ke arah kak Anya, mungkin ciri khasnya punya sikap sinis, apa-apa disinisin.
“Tapi kayaknya gak mustahil juga kak, asalkan kita serius nekunin itu.”
“Maksudnya?” aku hanya menjawab dengan senyuman, belum saatnya mereka tahu.