DETEKSI HALUS

1561 Words
Lampu-lampu kristal di sepanjang koridor sayap kanan kediaman Baumann mulai meredup saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Hans dan tim pelayannya baru saja menyelesaikan patroli terakhir mereka, memastikan setiap pintu terkunci dan setiap tamu yang tidak diinginkan telah kembali ke lubang mereka masing-masing. Marc Fischer berdiri di balik kegelapan pilar batu, mengatur napasnya hingga detak jantungnya melambat ke titik yang hampir tak terdengar oleh telinga manusia biasa. Baginya, menembus penjagaan di rumah ini bukan tentang kekuatan fisik, melainkan tentang memahami aliran energi di udara. Setiap kali seorang penjaga lewat, ada riak dalam tekanan udara yang bisa ia rasakan. Marc melangkah dengan kaki yang hampir tidak menyentuh lantai marmer, sebuah teknik langkah awan yang ia pelajari di puncak Gunung Kunlun ribuan tahun lalu. Tubuh Marc Fischer yang lemah memang membatasi kecepatannya, tetapi ingatan jiwanya tentang keseimbangan tetaplah absolut. Ia berhenti di depan pintu kamar Sienna. Ada dua pengawal bertubuh besar yang berjaga di sana, namun mereka tampak mengantuk, terbius oleh kebosanan malam yang sunyi. Marc mengambil dua butir kecil kerikil yang ia ambil dari taman tadi sore. Dengan sentakan pergelangan tangan yang halus, ia menjentikkan kerikil itu ke arah vas bunga besar di ujung koridor yang berlawanan. Suara denting kecil itu cukup untuk membuat kedua pengawal itu menoleh dan berjalan beberapa langkah untuk memeriksa sumber suara. Dalam hitungan detik yang sempit itu, Marc sudah menyelinap masuk ke dalam kamar Sienna, menutup pintu tanpa suara sedikit pun. Kamar itu sangat luas, namun terasa mencekam. Aroma obat-obatan kimia yang tajam beradu dengan wangi lavender yang pucat. Sienna terbaring di tengah tempat tidur king-size miliknya, dikelilingi oleh berbagai monitor medis yang menampilkan grafik detak jantung dan saturasi oksigen yang stabil secara menipu. Bagi Dr. Ulrich, grafik itu adalah bukti bahwa pasien baik-baik saja. Namun bagi Marc, monitor itu hanyalah kebohongan digital. Marc mendekat ke sisi tempat tidur. Wajah Sienna tampak sangat pucat di bawah sinar bulan yang menembus jendela. Marc memejamkan matanya sejenak, melakukan teknik pernapasan dalam untuk membangkitkan Penglihatan Mata Dewa miliknya. Perlahan, dunia fisik di sekitarnya mulai memudar. Dinding, kain sprei, bahkan kulit Sienna menjadi transparan dalam benak Marc. Ia melihatnya sekarang. Di dalam tubuh Sienna, aliran darahnya bukan lagi berwarna merah murni dalam penglihatan energinya, melainkan diselimuti oleh kabut ungu gelap yang berputar-putar seperti pusaran air di sekitar saraf tulang belakangnya. "Sangat halus," bisik Marc hampir tanpa suara. "Ini bukan sekadar racun yang merusak jaringan. Ini adalah racun yang mengikat jiwa." Ia mengulurkan tangannya, membiarkan ujung jarinya melayang beberapa milimeter di atas dahi Sienna. Ia tidak menyentuh kulitnya, karena sentuhan fisik akan memicu reaksi penolakan dari racun yang sensitif itu. Marc mulai mengalirkan seutas kecil qi murni melalui ujung jarinya, menggunakannya sebagai radar untuk mendeteksi kedalaman sumbatan di tubuh istrinya. Saat energi emas milik Marc bersentuhan dengan kabut ungu di dalam tubuh Sienna, ia merasakan sebuah hantaman dingin yang sangat tajam. Itu bukan dinginnya es biasa, melainkan dinginnya kebencian yang telah dikristalkan dalam bentuk ramuan kimia. Marc mengerutkan kening. Deteksi ini memberitahunya sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang ia duga sebelumnya. "Ini melibatkan aspek energi spiritual," gumam Marc. "Paman Urs mungkin yang memberikan obatnya, tapi siapa yang menciptakan formula ini? Orang itu pasti memahami struktur meridian manusia dengan sangat mendalam." Ia menyadari bahwa racun ini bekerja dengan cara menghisap energi kehidupan dari organ-organ vital dan mengumpulkannya di satu titik di pangkal leher. Titik itu bertindak sebagai bendungan. Semakin banyak energi yang tertahan, semakin besar tekanan pada saraf motorik Sienna, yang akhirnya menyebabkan kelumpuhan. Namun, bagian yang paling licik adalah jika seseorang mencoba membedah atau menyedot racun itu secara medis, bendungan itu akan pecah dan menyebarkan racun langsung ke otak, membunuhnya seketika. Sienna tiba-tiba merintih dalam tidurnya. Kelopak matanya bergetar, menunjukkan bahwa ia sedang mengalami mimpi buruk yang hebat. Marc melihat suhu tubuh Sienna yang tertera di monitor mulai turun drastis. Alarm kecil mulai berbunyi pelan di mesin pemantau suhu. "Tahan," perintah Marc pada dirinya sendiri. Ia menekan titik saraf di pergelangan tangan Sienna dengan tekanan yang sangat spesifik, mengirimkan gelombang kehangatan kecil untuk menenangkan jantungnya yang mulai bergejolak. Sienna perlahan mulai tenang kembali, napasnya yang tadi tersengal menjadi lebih teratur. Marc menatap wajah wanita itu dari dekat. Meskipun dalam kondisi sakit, ada ketegaran yang luar biasa di garis rahangnya. "Kau berjuang sendirian di dalam sana, bukan?" tanya Marc lembut. "Dikelilingi oleh orang-orang yang menunggu kematianmu, kau masih berusaha mempertahankan kerajaanmu. Persis seperti putri bangsawan yang kukenal dulu." Marc menyadari bahwa ia tidak bisa membersihkan racun ini dalam satu malam. Qi-nya saat ini terlalu lemah untuk melakukan pembersihan total tanpa membahayakan nyawa Sienna. Ia butuh bahan-bahan tertentu untuk memperkuat pondasi tubuh Sienna sebelum ia bisa menarik keluar racun itu secara paksa. Tiba-tiba, telinga Marc menangkap suara langkah kaki di koridor. Suara itu bukan langkah kaki pengawal yang berat, melainkan langkah kaki yang cepat dan ringan. Seseorang sedang menuju ke kamar ini dengan tergesa-gesa. Marc segera menarik tangannya. Ia melirik ke sekeliling ruangan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi selain di balik tirai beludru yang berat di dekat jendela besar. Dengan satu gerakan yang cair, ia menyelinap ke balik kain tebal itu, tepat saat pintu kamar terbuka. Seorang wanita masuk. Itu adalah Clara, asisten pribadi Sienna. Wajahnya tampak cemas, matanya sembab seperti baru saja menangis. Ia membawa sebuah baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Clara mendekati tempat tidur, menatap Sienna dengan pandangan penuh kesedihan. "Maafkan saya, Madam," bisik Clara sambil mulai menyeka dahi Sienna. "Saya tahu Tuan Marc mencoba membantu semalam, tapi saya terlalu takut untuk membelanya di depan Tuan Urs. Saya pengecut." Marc mengamati dari balik tirai. Ia melihat Clara mengeluarkan selembar tisu kafetaria yang sudah kumal dari saku seragamnya. Itu adalah tisu yang diberikan Marc di rumah sakit. Clara menempelkan tisu itu ke hidung Sienna sejenak, berharap sisa aromanya bisa memberi ketenangan pada majikannya. Melihat tindakan Clara, Marc merasa sedikit lega. Setidaknya ada satu orang di rumah ini yang masih memiliki hati nurani. Namun, Marc juga melihat sesuatu yang berbahaya. Di atas meja nakas, ada sebuah botol obat baru yang diletakkan oleh perawat jaga sebelumnya. Marc mengenali labelnya. Itu adalah suplemen saraf yang sama yang ia kritisi di rumah sakit. "Jangan berikan itu padanya, Clara," batin Marc, seolah mencoba mengirimkan pesan mental. Seolah mendengar bisikan gaib, Clara ragu-ragu saat hendak mengambil botol obat itu. Ia menatap botol itu, lalu menatap tisu di tangannya. Ia teringat kata-kata Marc bahwa obat-obatan itu justru akan mempercepat kerusakan. Setelah terdiam cukup lama, Clara akhirnya mengambil botol itu dan memasukkannya ke dalam laci meja nakas, menggantinya dengan segelas air putih biasa. "Aku akan memercayai instingku kali ini," gumam Clara pelan pada dirinya sendiri. Setelah selesai mengurus Sienna, Clara merapikan selimut dan bergegas keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati. Marc menunggu hingga langkah kaki Clara menghilang sepenuhnya sebelum ia keluar dari balik tirai. Ia kembali berdiri di samping Sienna. Waktu hampir menunjukkan pukul satu pagi. Marc tahu ia harus segera kembali ke kamarnya sebelum patroli Hans berikutnya dimulai. Namun sebelum pergi, ia memutuskan untuk melakukan satu hal lagi. Ia mengambil satu jarum perak yang selalu ia sembunyikan di dalam jahitan lengan mantelnya. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menusukkan jarum itu ke titik Baihui di puncak kepala Sienna. Ia hanya memasukkannya sedalam beberapa milimeter, lalu segera mencabutnya kembali. Setetes kecil darah hitam pekat muncul di lubang bekas tusukan itu. Marc segera menyekanya dengan ujung jarinya. Darah itu terasa sangat dingin, hampir membekukan ujung jarinya. Marc bisa merasakan sisa-sisa energi jahat yang berdenyut di dalam tetesan darah itu. "Ini lebih dari sekadar konspirasi keluarga," pikir Marc. "Ini adalah rencana yang melibatkan pengetahuan alkimia terlarang. Siapa pun yang berada di belakang Urs, mereka mengincar sesuatu yang lebih besar dari sekadar perusahaan farmasi." Ia menatap Sienna untuk terakhir kalinya malam itu. Dengan tusukan kecil tadi, ia telah sedikit meredakan tekanan pada otak Sienna, yang setidaknya akan memberinya tidur yang lebih nyenyak tanpa sakit kepala yang menyiksa selama beberapa jam ke depan. Marc berjalan menuju pintu, memantau posisi pengawal melalui getaran suara di lantai kayu. Saat ia merasa jalur sudah aman, ia membuka pintu sedikit dan menyelinap keluar, kembali menjadi bayangan di koridor yang gelap. Kembali di kamarnya yang kecil dan dingin, Marc duduk di tepi tempat tidur. Ia melihat ujung jarinya yang tadi menyentuh darah Sienna. Kulitnya kini tampak sedikit membiru, tanda bahwa racun itu mencoba menyerang tubuhnya juga. Marc segera menjalankan sirkulasi qi internalnya, membakar habis residu racun itu hingga kulitnya kembali normal. "Tubuh ini masih terlalu rapuh," keluh Marc. "Jika aku ingin menyelamatkannya, aku tidak bisa hanya mengandalkan deteksi halus. Aku butuh ramuan peningkat qi untuk diriku sendiri, dan aku butuh cara untuk mendapatkan bahan-bahan itu tanpa memicu kecurigaan Urs." Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang keras, namun matanya tetap terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya melayang pada kaitan antara penyakit di Grisons tiga puluh tahun lalu dan kondisi Sienna sekarang. Ada sebuah benang merah yang sangat tipis, dan Marc bersumpah akan menarik benang itu hingga seluruh konspirasi ini terurai di depan matanya. Di luar, salju mulai turun kembali dengan lembut, menutupi Zurich dalam keheningan yang pucat. Di rumah besar keluarga Baumann, semua orang mengira mereka sedang mengendalikan takdir, tidak menyadari bahwa di salah satu sudut rumah, seorang Tabib Agung baru saja mulai memetakan jalan menuju kebangkitan istrinya dan kehancuran mereka semua. Marc menutup matanya saat fajar hampir tiba, bersiap menghadapi hari esok yang pastinya akan penuh dengan penghinaan baru. Namun kali ini, ia membawa pengetahuan yang akan menjadi fondasi bagi serangan baliknya yang pertama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD