SUAMI KONTRAK YANG DIASINGKAN
Salju bulan November turun membungkus Zurich dalam selimut putih yang mematikan. Di perbukitan Zürichberg, di mana rumah-rumah mewah berdiri seperti benteng kaca yang angkuh, kediaman keluarga Baumann tampak paling mencolok. Namun bagi Marc Fischer, rumah itu tidak lebih dari sebuah penjara berlapis emas yang suasananya lebih dingin daripada badai salju di luar sana.
Marc berdiri di sudut ruang tamu utama yang luasnya menyamai lobi hotel bintang lima. Langit-langit tinggi berhias ukiran klasik dan lantai marmer Carrara yang berkilau seolah memantulkan setiap tatapan rendah yang diarahkan padanya. Di tangannya, sebuah nampan perak berisi teko porselen dan dua cangkir teh terasa berat—bukan karena bebannya, melainkan karena martabatnya yang sedang diinjak-injak.
"Apa yang kau tunggu, Marc? Kau pikir teh itu akan menuangkan dirinya sendiri?"
Suara melengking itu datang dari Frau Gertrude, bibi Sienna yang selalu mengenakan perhiasan berlebihan. Ia duduk di sofa beludru sambil memandang Marc seolah pria itu adalah noda lumpur di karpet mahalnya. Di sampingnya, beberapa kerabat jauh keluarga Baumann terkekeh sinis.
"Lihat dia," bisik salah satu sepupu Sienna, cukup keras untuk didengar. "Pewaris klinik bangkrut yang kini menjadi pelayan pribadi. Kakek Baumann pasti sudah pikun saat menulis wasiat itu. Bagaimana mungkin pria 'sampah' ini yang harus mendampingi Sienna?"
Marc tidak menjawab. Wajahnya tetap datar, namun di balik mata biru jernihnya, sebuah jiwa yang telah hidup selama ribuan tahun tengah mengamati dengan tenang. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Mu Rong, sang Tabib Agung yang suaranya bisa membuat kaisar bergetar. Baginya, hinaan para manusia fana ini tak lebih dari dengungan lalat yang mengganggu.
Ia baru terbangun di tubuh Marc Fischer tiga hari yang lalu, tepat setelah Marc yang asli menenggak sebotol obat tidur karena depresi akibat kebangkrutan ayahnya dan tekanan pernikahan ini. Kini, dengan ingatan yang menyatu, Marc menyadari bahwa tubuh ini sangat lemah. Jalur qi-nya tersumbat total oleh polusi modern dan gaya hidup yang buruk.
Marc melangkah mendekat ke arah sofa tunggal di dekat jendela besar. Di sana duduk Sienna Baumann.
Sienna adalah definisi dari keindahan yang membeku. Rambut pirang pucatnya disanggul rapi tanpa cela, dan setelan jas formal rancangan desainer Paris membungkus tubuhnya yang ramping. Namun, yang paling menarik perhatian Marc bukanlah kecantikannya, melainkan aura kelabu yang menyelimuti kakinya—sebuah tanda klinis dari aliran energi yang mati.
"Teh Anda, Sienna," ucap Marc rendah. Suaranya tidak lagi gemetar seperti Marc yang lama. Ada ketenangan yang asing di sana.
Sienna tidak mendongak dari tablet di tangannya. "Letakkan saja," jawabnya singkat. Suaranya datar, tanpa emosi, namun Marc bisa menangkap getaran halus dari rasa sakit yang ia sembunyikan.
Saat Marc meletakkan cangkir itu, jemarinya secara tidak sengaja—atau mungkin sengaja—menyentuh pergelangan tangan Sienna saat ia menggeser nampan. Hanya satu detik. Kontak kulit itu membuat Sienna tersentak kecil, namun Marc sudah mendapatkan apa yang ia cari.
Denyut nadi terputus-putus. Kelemahan qi yang mendalam di meridian ginjal dan hati. Ini bukan sekadar penyakit saraf biasa, batin Marc. Seseorang telah memberikan stimulan kimia dosis tinggi dalam jangka waktu lama untuk menekan sistem imunnya. Ini adalah pembunuhan perlahan.
"Berhenti menyentuhnya dengan tangan kotor itu!" Gertrude tiba-tiba berdiri, menunjuk Marc dengan kipas bulunya. "Kau lupa posisimu? Kau di sini hanya sebagai simbol, sebagai pemenuhan syarat hukum agar Sienna bisa memegang kendali penuh atas Baumann Pharma. Jangan pernah berpikir kau benar-benar suaminya!"
Para pelayan yang berdiri di koridor juga ikut mencibir. Bagi mereka, Marc hanyalah "suami pajangan" yang tidak memiliki kuasa apa pun. Bahkan kepala pelayan, Hans, sering kali memberikan instruksi kepada Marc seolah-olah Marc adalah staf magang paling rendah di rumah itu.
"Saya hanya memastikan suhu tehnya tepat untuk kesehatannya," jawab Marc tenang sambil menarik tangannya kembali.
Sienna akhirnya mendongak. Mata hijaunya yang tajam menatap Marc dengan kerutan di dahi. Ia merasakan sesuatu yang aneh saat Marc menyentuhnya tadi. Ada gelombang kehangatan kecil yang merambat dari pergelangan tangannya menuju jantungnya, membuat rasa sesak di dadanya sedikit berkurang selama beberapa detik. Tapi, ia segera menepis pikiran konyol itu. Marc hanyalah lulusan kedokteran dari universitas kelas dua yang gagal menyelamatkan klinik ayahnya sendiri.
"Kesehatan saya bukan urusanmu, Marc," kata Sienna dingin. "Para ahli saraf terbaik di Zurich dan Basel sedang menanganiku. Kau hanya perlu diam, ikuti protokol rumah ini, dan jangan membuat malu namaku di depan umum."
"Tentu," sahut Marc dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Tapi para ahli sarafmu tidak akan bisa melihat apa yang bisa kulihat, Sienna. Teknologi medis mereka hanya menyentuh permukaan, sementara akarnya sudah mulai membusuk."
Ruangan itu mendadak hening. Gertrude tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh yang lainnya.
"Dengar itu! Si pecundang ini mencoba menceramahi kita tentang kedokteran? Di rumah keluarga yang memiliki perusahaan farmasi terbesar di Swiss?" Gertrude menyeka air mata tawanya. "Sungguh lelucon yang bagus untuk memulai pagi."
Sienna memejamkan mata, merasa lelah. "Pergilah, Marc. Aku ada rapat penting dengan dewan direksi dalam satu jam. Jangan keluar dari kamarmu sampai aku menyuruhmu."
Marc membungkuk sedikit, sebuah gestur penghormatan kuno yang elegan namun terlihat aneh bagi mereka. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan mewah itu. Saat melewati koridor, ia berpapasan dengan Hans yang sengaja tidak memberi jalan, memaksa Marc untuk menyamping.
"Kamar Anda sudah dibersihkan, Tuan Fischer. Dan tolong, jangan sentuh porselen di dapur lagi. Kami tidak ingin ada barang mahal yang pecah karena tangan gemetarmu," sindir Hans sambil berlalu.
Marc terus berjalan menuju kamarnya yang terletak di sayap kiri rumah—kamar yang paling jauh dari kamar utama Sienna. Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimutinya. Ia duduk bersila di atas tempat tidur, menarik napas dalam-dalam.
Udara di Zurich sangat tipis dan dingin, namun di dalamnya terdapat partikel energi murni dari pegunungan Alpen yang terbawa angin. Marc memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada titik dantian di bawah pusarnya.
Tubuh ini benar-benar berantakan, keluhnya dalam hati. Penyakit Sienna sangat kompleks. Itu bukan hanya racun medis, tapi juga manipulasi energi yang sangat halus. Jika aku tidak bertindak dalam tiga bulan, dia akan lumpuh total, dan setelah itu, jantungnya akan berhenti.
Ia membuka tas kulit tuanya—satu-satunya warisan dari ayahnya yang belum disita bank. Di dalamnya terdapat gulungan kain hitam. Saat dibuka, selusin jarum perak berkilau di bawah lampu kamar. Jarum-jarum itu tampak biasa, namun di tangan seorang Tabib Agung, mereka adalah instrumen yang bisa mengubah takdir.
Marc mengambil salah satu jarum yang paling tipis. Ia menusukkannya ke titik Hegu di tangannya sendiri. Seketika, aliran panas menjalar di lengannya, membakar sisa-sisa kelelahan dan racun obat tidur yang masih mengendap di sarafnya.
Sienna Baumann, kau mungkin menganggapku benalu, pikir Marc sambil menatap salju di balik jendela. Tapi kau tidak tahu bahwa orang-orang yang kau percayai di rumah ini adalah mereka yang sedang menggali kuburanmu. Dan aku, suami yang kau asingkan ini, adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menutup kembali liang lahat itu.
Ia harus memulai kultivasi secepat mungkin. Di kota modern yang angkuh ini, ilmu beladiri dan pengobatan kunonya akan menjadi senjata rahasia yang tak terbayangkan oleh siapa pun.
Tiba-tiba, suara bentakan terdengar dari arah tangga utama. Itu suara Sienna yang sedang memarahi asistennya karena laporan medis yang hilang. Marc tahu, badai di keluarga Baumann baru saja dimulai, dan ia tidak akan lagi hanya menjadi penonton yang diam.
Ia adalah Marc Fischer sekarang, namun ia juga sang Tabib Agung Mu Rong. Dan di Zurich, sebuah legenda baru akan segera lahir dari ujung jarum peraknya.