DESISAN DOKTER ELIT

1301 Words
Rumah Sakit Universitas Zurich berdiri sebagai monumen keangkuhan sains modern. Bangunan beton dan kaca itu tampak seperti benteng yang memisahkan kehidupan dari kematian dengan presisi algoritma. Di dalam salah satu ruang VIP yang menghadap ke kebun botani yang membeku, aroma disinfektan mahal bercampur dengan aroma kopi mesin yang pekat. Sienna Baumann duduk di meja pemeriksaan, bahunya tegang. Di depannya, dua dokter pria paruh baya dengan jas putih yang kaku seperti papan sedang menatap layar monitor dengan dahi berkerut. Salah satunya adalah Dr. Hans-Ulrich, kepala departemen neurologi yang reputasinya diakui hingga ke seluruh Eropa Barat. Marc Fischer berdiri di sudut ruangan, hampir tidak terlihat. Ia sengaja memakai turtleneck hitam sederhana dan mantel panjang yang sedikit pudar warnanya, membuatnya tampak lebih seperti asisten mahasiswa daripada seorang suami. Ia baru saja "diizinkan" ikut karena Sienna membutuhkan seseorang untuk membawa tas dokumennya—sebuah penghinaan halus yang Marc terima dengan senyum tipis. "Hasil pemindaian MRI terbaru menunjukkan degradasi pada lapisan mielin di sepanjang saraf tulang belakang, Frau Baumann," Dr. Ulrich berdehem, suaranya berat dan penuh otoritas. "Kami telah menyesuaikan dosis Gilenya dan menambahkan suplemen neurotropik terbaru dari laboratorium Anda sendiri. Seharusnya, tremor di tangan Anda berkurang dalam empat puluh delapan jam." Sienna mengangguk lemah. "Tapi dokter, rasa dingin di kaki saya semakin naik. Pagi ini, saya hampir tidak bisa merasakan jempol kaki saya sendiri." Dr. Ulrich memberikan senyum kebapakan yang merendahkan. "Itu hanya efek samping psikosomatis dari stres rapat dewan direksi. Teknologi kami tidak menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah. Anda hanya perlu istirahat." Marc, yang sejak tadi diam, melangkah maju secara perlahan. Matanya tidak tertuju pada monitor yang penuh grafik warna-warni, melainkan pada leher Sienna, di mana denyut nadi karotisnya tampak tidak sinkron dengan napasnya. Di atas meja kerja Dr. Ulrich, tergeletak laporan medis fisik Sienna—setumpuk kertas tebal berisi data biokimia darah. Tanpa permisi, Marc mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang dan ramping membalik halaman laporan itu dengan gerakan yang sangat efisien, seolah ia sudah tahu persis halaman mana yang harus ia cari. "Apa yang kau lakukan?!" Suara bentakan itu memecah keheningan ruangan. Dr. Meyer, asisten Dr. Ulrich, melompat dari kursinya seolah-olah Marc baru saja menyentuh bom aktif. "Letakkan itu sekarang juga! Siapa kau berani menyentuh data pasien tanpa izin?" Meyer menatap Marc dengan kejijikan yang nyata. Ia mengenali Marc sebagai pria yang menikahi Sienna karena wasiat, berita yang menjadi bahan tertawaan di kalangan elit medis Zurich. Marc tidak segera melepaskan kertas itu. Matanya terpaku pada kadar enzim hati yang tertera di sana. Sedikit di atas normal, tapi masih dianggap 'aman' oleh standar mereka. Bodoh. Mereka tidak sadar bahwa ini adalah tanda penolakan qi tubuh terhadap logam berat yang disamarkan sebagai obat, batinnya. "Nilai kreatinin ini terlalu rendah untuk seseorang dengan massa otot seperti Sienna," ucap Marc tenang, suaranya datar namun bergema di ruangan itu. "Dan penggunaan dosis tinggi suplemen neurotropik ini justru akan mempercepat pengkristalan di saluran meridian jantungnya. Jika Anda meneruskan pengobatan ini, dalam tiga hari dia akan mengalami aritmia hebat." Ruangan itu mendadak sunyi senyap, seolah waktu berhenti berputar. Dr. Ulrich perlahan melepas kacamata emasnya, menatap Marc seolah-olah Marc adalah serangga yang baru saja mencoba mengajari manusia cara terbang. "Maaf, Tuan... Fischer, bukan? Saya dengar Anda memiliki gelar kedokteran dari universitas lokal yang hampir ditutup itu. Benar?" Marc membalas tatapan itu tanpa berkedip. "Benar. Tapi pendidikan saya tidak membatasi kemampuan saya untuk melihat apa yang salah." Dr. Ulrich tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. "Dengar, anak muda. Di rumah sakit ini, kami bekerja berdasarkan bukti empiris, data digital, dan penelitian molekuler. Kami bukan dukun yang mengandalkan 'firasat' atau istilah konyol seperti 'meridian'. Apa yang Anda katakan barusan adalah penghinaan terhadap sains." "Sains yang Anda agungkan sedang membunuh istri saya," balas Marc, suaranya kini sedikit lebih tajam. "Cukup, Marc!" Sienna membentak. Wajahnya memerah karena malu. "Kembalikan laporan itu dan duduk di sudut. Sekarang." Sienna menoleh ke arah Dr. Ulrich dengan tatapan meminta maaf. "Mohon maafkan dia, Dokter. Dia... dia hanya terlalu khawatir. Suami saya terkadang membaca terlalu banyak buku pengobatan alternatif yang tidak masuk akal." Dr. Meyer mencibir sambil merebut laporan itu dari tangan Marc. "Pengobatan alternatif? Di Zurich? Tuan Fischer, mungkin di desa terpencil atau di pedalaman Timur sana, takhayul seperti itu laku. Tapi di sini, kami menggunakan otak, bukan mantra. Ide bahwa diet atau 'aliran energi' bisa menyembuhkan degradasi saraf adalah pemikiran abad kegelapan yang konyol." "Konyol?" Marc tersenyum dingin. "Yang konyol adalah saat Anda melihat seorang pasien menderita, tapi Anda lebih percaya pada mesin yang bisa salah kalibrasi daripada tanda-tanda kehidupan yang ada di depan mata Anda." "Marc, saya bilang diam!" Sienna berdiri, meski kakinya sedikit goyah. "Keluar dari ruangan ini. Sekarang juga!" Marc menatap Sienna sejenak. Ia melihat keputusasaan di mata istrinya, sebuah ketakutan yang disamarkan oleh kemarahan. Ia tahu Sienna hanya ingin sembuh, dan ia telah menggantungkan harapannya pada orang-orang yang salah. "Baiklah," ucap Marc. "Saya akan keluar. Tapi Dr. Ulrich, simpan kata-kata saya. Tepat jam sepuluh malam nanti, saat suhu tubuhnya turun, dia akan mengalami kram hebat di diafragma. Saat itu terjadi, jangan berikan dia Diazepam. Itu akan menghentikan jantungnya." Tanpa menunggu jawaban, Marc berbalik dan keluar dari ruangan. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar tawa sinis Dr. Meyer dan keluhan Dr. Ulrich tentang betapa merosotnya standar moral pria zaman sekarang. Marc berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang panjang. Ia tidak merasa marah; emosi seperti itu sudah lama ia tinggalkan di kehidupan sebelumnya. Yang ia rasakan hanyalah urgensi. Jiwa Tabib Agung dalam dirinya meronta melihat ketidaktahuan yang dipuja-puja. Ia menuju ke kafetaria rumah sakit, mencari tempat yang tenang di dekat jendela yang menghadap ke arah pegunungan Alpen di kejauhan. Ia duduk dan mulai memejamkan mata, melakukan meditasi pernapasan singkat untuk menenangkan energi tubuh aslinya yang mulai bergejolak akibat provokasi tadi. Qi di tempat ini sangat tipis, terkontaminasi oleh energi kematian dan kesedihan para pasien, pikirnya. Tiba-tiba, Marc merasakan kehadiran seseorang. Ia membuka mata dan melihat seorang perawat muda yang tampak kelelahan sedang membawa nampan berisi obat-obatan. Perawat itu tampak bingung melihat Marc yang duduk dengan posisi punggung tegak sempurna, memancarkan aura yang berbeda dari pengunjung biasa. "Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya perawat itu sopan. Marc menatap tag nama di seragamnya: Lena. "Saya baik-baik saja, Lena. Hanya sedikit prihatin dengan cara rumah sakit ini menangani pasien di lantai atas," jawab Marc. Lena tampak ragu sejenak, lalu berbisik, "Anda bicara tentang Frau Baumann? Saya bekerja di bangsal itu minggu lalu. Sebenarnya... banyak perawat merasa aneh dengan pengobatannya, tapi siapa kami yang berani membantah Dr. Ulrich? Dia adalah dewa di sini." "Dewa yang buta tetaplah bahaya bagi pengikutnya," sahut Marc. Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan selembar tisu kafetaria, lalu menuliskan tiga nama tanaman herbal yang bisa ditemukan di toko teh herbal di Kota Tua Zurich. "Jika malam ini terjadi sesuatu yang buruk pada pasien di kamar 402, dan para dokter mulai panik, seduhkan ini. Jangan tanya kenapa. Lakukan saja jika kau ingin menyelamatkan nyawanya." Lena menatap tisu itu, lalu menatap mata Marc yang biru dan dalam. Ada sesuatu dalam tatapan Marc yang membuat Lena tidak bisa menolak. Ia melipat tisu itu dan menyimpannya di saku seragamnya. "Saya tidak menjanjikan apa-apa, Tuan," bisik Lena sebelum bergegas pergi. Marc kembali menatap ke luar jendela. Salju semakin lebat. Ia tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi keluarga Baumann. Dan ia tahu, reputasi Dr. Ulrich yang "elit" itu akan segera hancur berkeping-keping di bawah kaki kebenaran medis yang telah ia abaikan selama puluhan tahun. Bagi dunia, Marc Fischer hanyalah pecundang yang beruntung bisa masuk ke dalam lingkaran elit. Tapi bagi Marc, Zurich hanyalah panggung kecil di mana ia akan menunjukkan bahwa keajaiban sejati tidak butuh listrik atau monitor digital—ia hanya butuh sebatang jarum dan pemahaman tentang esensi kehidupan. Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang mantap. Besok, ia yakin, orang-orang sombong itu tidak akan lagi berani mendesis di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD