Pagi itu, udara di dalam ruang kerja Sienna Baumann terasa jauh lebih tipis daripada biasanya. Meskipun sistem pendingin udara canggih di gedung pusat Baumann Pharma telah diatur pada suhu optimal, Sienna merasa seolah-olah ia sedang mendaki puncak Eiger tanpa tabung oksigen. Di atas meja mahoninya yang luas, tumpukan berkas laporan keuangan dan proyeksi kerugian akibat spekulasi pasar tampak seperti monster kertas yang siap menelannya hidup-hidup. Sienna mencoba memfokuskan matanya pada baris angka di layar monitor, tetapi huruf-huruf itu mulai menari dan memburam. Denyut nadi di lehernya terasa sangat kencang, memukul-mukul kulitnya dengan irama yang tidak beraturan. Ia mencengkeram pinggiran meja, buku-buku jarinya memutih. "Napas, Sienna. Tarik napas," bisiknya pada diri sendiri, nam

