Pagi di Zurich menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti danau, namun di dalam paviliun kecil yang terletak di sudut terpencil kediaman Baumann, Marc Fischer sudah bergulat dengan kenyataan pahit. Ia duduk di depan sebuah komputer tua yang layarnya memancarkan cahaya kebiruan yang kontras dengan remang subuh. Jemarinya yang panjang bergerak dengan presisi, menjelajahi berbagai forum botani rahasia, pangkalan data perdagangan herbal global, hingga arsip-arsip kolektor artefak alam yang paling eksklusif. Daftar tujuh ramuan langka yang ia tulis semalam masih tergeletak di samping papan ketik, namun harapan yang sempat membuncah perlahan memudar menjadi rasa frustrasi yang dingin. Akar Kayu Arwah Seribu Tahun, bahan utama yang sangat ia butuhkan untuk membangun kembali pondasi dantiannya,

