Chapter 1 : Napas di ujung bolpen
Sinar kuning matahari berjalan di sela-sela pohon-pohon Zaitun yang berbaris rapi di depan jendela Pajara dimana Amina menyembunyikan dirinya dari hiruk pikuk deru mesin pemantau jantung di kamar operasi, hiruk pikuk pasien di rumah sakit, yang paling penting bunyi monitor jantung yang berhenti berdetak… tiiiiitttt… flat datar. Tidak ada, tidak ada !. Tidak juga pengkhianatan yang telah merusak kepercayaannya pada cinta manusia.
Sepuluh ribu kilometer lebih jarak yang ia tempuh dari Jakarta menuju Puglia. Beberapa kali transit yang ia lalui demi menempati Pajara (Pondok Batu kering khas Puglia). Kenapa Puglia, tempat itu seperti mempunyai magnet bagi Amina. Tidak ada alasan, hanya hatinya yang mengatakan kalau ia harus ke Puglia.
Amina beranjak untuk mengerjakan sholat maghrib, bersimpuh menghadap Sang Pencipta adalah satu satunya kekuatan Amina yang tersisa dalam dirinya. Kekuatan yang menghidupkan dan juga mengambil kehidupan itu.
Biasanya setelah magrib ia tidak melepas mukenanya, ia langsung tadarus membaca beberapa lembar Al Quran secara random untuk menguatkan jiwanya dan kemudian dilanjutkan dengan sholat isya.
Isya tidak menjadi penutup sholatnya, di sepertiga malam Amina selalu bangun untuk kembali bermunajat kepada Penciptanya, memperkuat relung batinnya. Malam itu, setelah menyelesaikan doa-doa curhatan hatinya, Amina mendengar suara keras menghempas ke pintu kayunya. Dengan cepat Amina berdiri, jantungnya berdegup kencang, ia sendirian di tengah padang perkebunan ini, nyalinya benar-benar ditantang, tapi ia ingat, semua yang akan terjadi tentu atas kehendakNya, ia bangkit melangkah ke pintu, mengambil lampu badai dan perlahan membuka pintu. Saat pintu terbuka, cahaya lampu badai jatuh pada sosok pria yang bersandar terduduk di dinding luar. . Jas mahal nya robek, kemeja putihnya kini berubah warna menjadi merah pekat basah.
Pria itu mendongak diambang batas kesadarannya melihat Amina. Terdengar suara lirih. “Malato… Aiuto..”
Mata Amina langsung beralih ke d**a pria itu. Suara itu… Sucking chest sound, ia tak pernah lupa. “Ya Allah,” bisik Amina.
Ketakutannya sebagai wanita yang sendirian di hutan kalah oleh tanggung jawabnya sebagai seorang penyembuh. Ia melihat mata biru pria itu yang mulai meredup, memohon untuk tidak dibiarkan mati di kegelapan.
Amina segera menarik pria itu ke dalam pondoknya. Pria itu berat, namun adrenalin memberi Amina kekuatan. Saat Amina mengunci pintu, ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.. Di luar, suara mobil pengejar mungkin masih jauh, tapi di dalam ruangan sempit itu, perang untuk menyelamatkan satu nyawa baru saja dimulai.
Pria itu lumayan besar, tegap dengan badan yang atletis, wajah Italia Selatan dengan look mediteranian nordic yang tidak bisa dipungkiri, garis rahang yang tegas, alis tebal melengkung dan hidung yang lancip. Napas tertahannya , berat dan ia memegang d**a kanannya dan bersuara lirih, “Malato..malato..” Amina tidak paham, tapi ekspresi wajah pria itu sudah menggambarkan kesakitannya. Amina memperhatikan dengan cermat, d**a itu tidak bergerak bersamaan, bagian kanan tertinggal, ia memperhatikan leher pria itu, mulai merabanya.. Tidak simetris. Dan Vena itu… Amina dengan cepat membuka kemeja pria itu tanpa sungkan dan malu, karena ia harus bekerja cepat, dan ketika kancing kemeja sudah terbuka semua, seketika ia panik, dari situ Amina sudah tahu itu tension pneumothorax. Tidak ada waktu pikirnya, terbayang kembali wajah mungil di kamar operasi.. Tidak..tidak.. Aku tidak mau menjadi malaikat maut untuk kali yang ini, ya Allah berikan aku kekuatan, keberanian, beri makhluk ini perpanjang kehidupan. Ia tak membawa apapun, abbocath 14, tidak ada, itu senjata yang harus dipakai untuk kondisi ini, tapi benda itu tidak ada. Akalnya berputar, ia membuka tasnya mengeluarkan bolpen yang ia punya, mungkin satu-satunya yang terbawa di tas itu. Pas sekali, bolpen plastik itu, ia membuka tutupnya, mengeluarkan isinya, meninggalkan tabung plastik kosong. Sekarang ia perlu antiseptik. Ia melihat ke sekelilingnya, di area dapur ia melihat sebotol whisky.. , Amina mengambilnya, ia melihat sebilah pisau dapur, “aku juga perlu ini..” desisnya. “Karena aku mungkin tak mampu mendorong pen plastik ini ke dalam dadanya aku perlu sesuatu yang tajam.” Amina menyiramkan isi botol whisky itu ke d**a pria itu, kemudian ke bolpen dan pisau. “Tak ada waktu, aku berkejaran dengan hitungan menit.” ia menumpahkan isinya sebagian pada d**a pria itu. “What’s your name? Tanya Amina.
“Lo ren zo “ jawab pria itu terbata-bata, ia masih sadar. Mukanya terlihat pucat, menahan sakit yang amat sangat, nyawanya sudah siap lepas landas dari tubuhnya.
“Bagus Lorenzo, ini akan sedikit sakit,” kata Amina menenangkan, “Tapi kita akan lalui ini, terus bersamaku..”
Amina mulai menghitung, “Sela iga satu, dua, garis mid clavicula, dan dengan keyakinan penuh ia menusukkan sedikit ujung pisau disitu membuat sayatan agar sedikit kulit disitu lebih mudah ditembus dengan ujung bolpen plastik, dan dengan satu hentakan kuat dan presisi, ia menusukkan ujung tabung bolpen itu menembus kulit yang sudah sedikit tersayat dan otot d**a Lorenzo,
Pshhhhhhh!
Udara terkompresi menyembur keluar melalui lubang bolpen itu. Suaranya seperti desis kematian yang pergi. d**a Lorenzo yang tadi tegang dan kaku seketika turun. Pria itu tersentak, kelopak matanya bergetar, dan ia menghirup udara dengan rakus melalui mulutnya.
Amina memegang tabung bolpen itu agar tetap di posisinya, napasnya sendiri tersengal-sengal. Cairan merah mulai merembes di sekitar plastik murah itu, tapi Lorenzo kembali bernapas.
“Una Penna (Sebatang bolpen)…” bisik Lorenzo setelah beberapa saat, suaranya lemah namun penuh kekaguman saat ia menyadari apa yang baru saja dilakukan wanita ini.
Amina menatap tangannya yang bersimbah darah, memegang alat tulis yang baru saja ia ubah menjadi alat bedah. “Aku ingin berhenti menjadi dokter, Lorenzo. Tapi sepertinya hidupmu menolak untuk membiarkanku pergi.”
Bolpen berdarah ini menjadi saksi bermulanya hubungan mereka.
Sebagai ahli bedah thorax, Amina tahu bahwa menusukkan bolpen hanyalah langkah darurat untuk menyelamatkan nyawa Lorenzo yang sudah diujung napasnya. Jika tabung itu dicabut tanpa sistem Water Seal Drainage (WSD), paru-paru Lorenzo akan kolaps kembali..
Udara yang terperangkap itu telah keluar, tapi pekerjaan Amina baru saja dimulai. “Jangan bergerak, Lorenzo. Tabung ini harus tetap di sana sampai aku membuat katup searah, atau kau akan tamat,” tegas Amina.
Ia bangkit dengan panik, matanya menyapu ruangan. Sebuah pondok pertanian tua selalu punya barang sisa. Ia berlari ke area dapur kecil dan gudang penyimpanan di bagian belakang pondok.
Ia menemukan sebotol Limoncello (minuman keras Italia) yang masih setengah penuh di rak. Menumpahkan ke tangannya untuk membasuh tangannya. Kemudian meletakkannya dekat Lorenzo. Ia membutuhkan selang. Di sudut ruangan, ada gulungan selang plastik kecil yang biasa digunakan petani untuk sistem irigasi tetes atau pembersih tangki anggur. Ia menyambar sebotol minyak zaitun murni yang baru diperas, botol kaca bening yang akan menjadi ruang segel airnya.
Amina kembali ke sisi Lorenzo. Dengan tangan gemetar namun gerakan yang pasti, ia memotong selang irigasi itu. “Aku butuh air steril,” gumamnya. Ia mengambil air minum kemasannya, menuangkannya ke dalam botol kaca bening hingga terisi sepertiga. Memasukkan selang kedalam botol itu hingga tenggelam, dan menaruh satu selang yang lebih pendak di sebelahnya, tapi selang itu tidak menyentuh air, ia berusaha mengikatkan keduanya agar tetap bergandengan dan yang pendek tidak jatuh ke dalam air. Kemudian ia mencari plastik di dapur yang ia bisa pakai untuk menutup botol itu hingga kedap, mencoba mengikat erat dengan benang benang kasur yang ternyata banyak di dapur itu.
“Itu hanya pembuka jalan, Lorenzo. Sekarang aku harus memasang drainase permanen,” kata Amina dalam bahasa Inggris,, suaranya kini dingin dan fokus, mode bedahnya telah aktif sepenuhnya.
“Sekarang kamu harus berbaring di atas tempat tidurku.” Amina membantu Lorenzo untuk bangun dari posisinya di lantai dan memapahnya menuju tempat tidur yang juga ada di ruangan itu. Pondok ini hanya ada satu ruangan serba guna, dimana di situ juga langsung ada tempat tidur Amina. “Sekarang berbaringlah dulu, aku persiapkan semua perlengkapan yang aku perlukan, jaga bolpen itu tetap di tempatnya, karena itu nyawamu.”
Lorenzo menyeringai mendengar peringatan itu, “Jangan lama-lama ya.”
Amira segera bergerak mencari segala yang ia perlukan. Amina tidak menggunakan lubang bolpen tadi. Ia menggunakan pisau lipat kecil yang tadi ia pakai untuk menorehkan di sela iga 2 mid clavicula tadi. Ia kembali ke dapur mencari api dan sisa minuman keras tinggi alkohol.
“Maaf kemejamu harus aku lepas.” bisik Amina cepat tanpa ragu ia membantu Lorenzo melepas kemejanya dari belakang memposisikan lengan Lorenzo ke atas, membuka akses ke area samping d**a pria itu. Dengan jemarinya yang gemetar namun akurat, ia meraba sela iga kelima, tepat di antara garis ketiak depan dan tengah (linea aksilaris anterior dan media).
Ia menyiramkan area yang ia raba tadi dengan Limoncello kemudian Ia mencuci tangannya dengan Limoncello itu juga. “Yah pokoknya cukup steril lah, aku tak punya pilihan” gumam Amina dalam bahasa Indonesia.
“Tahan Lorenzo. Ini bagian yang paling berat.”
Tanpa pembius, Amina melakukan insisi kecil. Ia mengguna klem improvisasi berupa sebuah tank kecil yang ia temukan di dapur yang juga sudah ia basuh dengan alkohol minuman keras yang banyak di dapur, untuk membuka jalan menembus otot interkostal. Begitu rongga pleura terbuka , ia memasukkan ujung selang irigasi yang sudah ia runcingkan ke arah belakang atas paru-paru.
Seketika, darah gelap dan udara menyembur masuk ke dalam selang. Amina dengan cepat menghubungkan ujung luar selang itu ke botol minyak zaitun yang sudah ia isi air sistem WSD buatannya.
Blub… blub…
“Selesai” bisik Amina. Ia menjahit pinggiran selang ke kulit Lorenzo menggunakan benang jahit biasa yang sudah direndam alkohol agar selang tidak bergeser.
“Sebentar, sekarang batuk.“ perintahnya pada Lorenzo, “sekuat tenaga,”
Lorenzo terbatuk, wajahnya meringis menahan sakit yang luar biasa.
Gelembung udara muncul di dalam air botol kaca itu. Amina menahan napas, air di dalam selang naik sedikit tapi tidak masuk ke dalam dadanya. Sistem katup searah itu bekerja. Air berfungsi sebagai segel, udara bisa keluar dari paru-paru Lorenzo, tapi tidak bisa masuk kembali.
“Berhasil,” bisik Amina, ia menyandarkan botol itu di lantai, memastikan posisinya lebih rendah dari tubuh Lorenzo agar cairan tidak mengalir balik.
“Itu WSD paling primitif yang pernah kubuat, tapi itu akan menjagamu tetap bernapas sampai orang-orang mu datang.”
“Bolpen ini bisa kulepas sekarang. Paru-parumu sudah punya jalan keluar yang benar.”
Tapi tak sampai disitu. Penyebab Tension Pneumothorax itu ternyata masih disitu. Sebuah luka bekas lintasan peluru. Amina menyuruh Lorenzo untuk duduk, ia memeriksanya, “Kamu beruntung, peluru itu hanya lewat, tapi apa yang disebabkannya adalah Tension Pneumothorax, aku hanya butuh membersihkan ini.”
Amina membersihkan luka itu dengan minuman keras yang ada di dapur pondok itu.
Lorenzo menatap botol kaca di lantai yang kini berisi gelembung-gelembung nyawanya. “Kau benar-benar penyihir, Amina. Bukan dokter.”
Amina menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya yang ternoda darah. “Bukan sihir, Lorenzo. Hanya fisika sederhana dan keinginan gila agar tidak ada lagi orang yang mati di tanganku.”
“Sekarang berbaringlah, mungkin kamu ingin beristirahat. Aku tak akan mengganggu”
Lorenza segera tertidur, kecapean yang melandanya dan keadaan yang sudah aman membuat dirinya tenang dan bisa tertidur pulas hingga pagi. Amina malam itu tidur di sofa yang ada di ruangan itu. Sesekali ia terbangun melihat pasiennya itu. Amina tak percaya, ia kini kembali harus merawat pasien.