Part 15

791 Words
"Tuan, di sini berangin. Ayo kita kembali!" kata Simon sambil menatap wajah pucat tuannya. Christian mengabaikan Simon. Ia malah berjalan ke ayunan dan mengamatinya dengan penuh minat. Baru saja, ia berada di pintu masuk halaman belakang dan melihat Fiona memanjat dinding. Dia belum pernah melihat seorang gadis dari keluarga terpelajar seperti keluarga jenderal dapat memanjat tembok dengan begitu terampilnya! Talinya cukup kuat. Christian menariknya, berbalik dan duduk di rangka ayunan. Dengan penasaran ia berkata kepada Simon di sampingnya, "Dorong!" "Tuan, kesehatan Anda sedang tidak baik ..." Simon begitu cemas hingga hampir berkeringat. Apakah aktivitas berat seperti ini benar-benar cocok untuk tuannya? "Dorong!" Christian menyipitkan mata dan menatap dinding halaman. Wajah tampan pemuda itu tanpa ekspresi. "Ya!" Melihat wajah tanpa ekspresi tuannya, hati Simon bergetar. Sulit sekali memahami pikiran tuannya dalam situasi seperti ini. Ia tak berani bicara omong kosong. Ia mengulurkan tangan dan mendorong, dan ayunan itu pun ikut berayun. Dengan posisi dan tendangan yang sama, Simon merasa adegan selanjutnya seperti tiruan yang dilakukan Nona Fiona tadi. Simon sangat ketakutan. Simon begitu ketakutan hingga dia gemetar saat melihat tuannya juga melompat ke tembok. Untungnya, tuannya tidak bersandar di dinding seperti Fiona tadi. Sebaliknya ia berdiri dan tampak tegap diatas tembok. Christian berdiri di dinding, matanya tertuju pada setetes darah di dinding. Ia mengerutkan kening, lalu menatap setetes darah di depannya. Setetes demi setetes, dari puncak tembok ke pohon, bahkan sepanjang batang pohon ke suatu tempat, lalu menghilang. Ada bekas roda dan itu pasti mobil. Dia mengangkat matanya yang indah dan memandang ke kejauhan dan yang terlihat hanyalah bagian belakang sebuah mobil. Dia benar-benar gadis kecil yang pintar. Dia benar-benar berpikir untuk menggunakan cara ini agar bisa kabur. Lalu tidak ada yang bisa dilihat. Karena matanya focus ke mobil di kejauhan, tubuhnya tanpa sadar linglung. Christian terpeleset dan jatuh dari dinding. Christian jatuh ke tanah saat itu. Simon ketakutan menyaksikan tuannya jatuh dari dinding tinggi, lalu ia melihat tuannya bergantung memegang dinding tinggi di satu tangan. Dia memegang dadanya dengan tangan yang lain dan terbatuk-batuk hebat, lalu meluncur turun. "Tuan, apakah Anda baik-baik saja, Tuan!" Simon berguling dan merangkak dengan kaki lemas, lalu mengulurkan tangan untuk memegang Christian. "Aku baik-baik saja, ayo kembali!" Christian perlahan berdiri setelah batuk beberapa kali dan berkata ringan, tetapi dia tidak menggerakkan kakinya. "Tuan, apakah Anda ingin saya mengambil kursi roda?" tanya Simon. Christian mengangguk dan menunjuk ke arah ayunan. Simon buru-buru membantunya duduk di ayunan yang bisa digunakan sebagai kursi jika tidak goyang. "Tuan, tunggu di sini, saya akan segera kembali!" Simon melihatnya duduk dan segera berlari kembali untuk mengambil kursi roda. Pria tampan itu memejamkan mata, bulu matanya yang panjang dan lentik berkibar dua kali. Bibir tipisnya sedikit melengkung dan postur tubuhnya yang malas menunjukkan rasa sakit, tetapi itu bukan ekspresi dingin yang dilihat Simon barusan. Bank Western tidak jauh dari Rumah Jenderal Andrew, dan mereka tiba dalam waktu lima menit. Setelah mengetahui niat Fiona, kepala Bank Western meminta petugas di sampingnya untuk mencari Liontin Rubi segi enam peninggalan Nyonya Bianca. "Terima kasih, Tuan!" Melihat Liontin Rubi segi enam, Fiona merasa lega seperti telah selamat dari kematian! Kepala Bank hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, dia menghela napas dan menatap lengan Fiona yang terluka. "Fiona, Apa ini luka akibat serangan pelayan kemarin? Biarkan dokter kami memeriksanya, apakah itu serius?” "Terima kasih, Tuan!" Fiona berterima kasih padanya. Semua orang di Negara Bagian Northwest tahu bahwa Bank Western punya dokter Perusahaan yang memiliki keterampilan medis terbaik. Biasanya, mereka akan mengadakan acara bakti sosial pengobatan gratis setiap bulan dari Bank Western untuk Masyarakat yang tidak mampu. Oleh karena itu, Bank Western memiliki reputasi yang baik di Northwest. Selain Bank Western ada juga rumah amal terbesar di kota Northwest yang di pergunakan untuk menampung anak terlantar dan orang tua yang terlantar. Ada juga beberapa dokter hebat disana seperti dokter Nina yang terbiasa melakukan pengobatan gratis. Keluarga Jenderal sering mengunjungi Rumah amal ini dalam rangka mengantarkan sumbangan. Nyonya Bianca sangat mengenal Dokter Nina. Karena sering mengikuti Neneknya ke berbagai acara amal, Fiona juga mengenal orang-orang seperti Dokter Nina. Fiona masuk ke ruang dokter bersama Kepala Bank Western. "Fiona, lama tidak berjumpa" Fiona melihat bahwa dokter itu ternyata adalah Dokter Nina. “Dokter, bagaimana kabarmu?” Dokter Nina mengangguk dan menjawab santai. “Aku sekarang bertugas disini jika di Rumah amal sedang tidak ada kegiatan. Bagaimana kabar nenekmu?” Dokter Nina sering mengobati neneknya. “Dia baik-baik saja.” Jawab Fiona lagi. Dokter Nina melirik lengan Fiona yang berdarah. “Kapan kamu terluka? Apakah rumor itu benar?” Kening Dokter Nina berkerut. Fiona hanya mengangguk. “Itu benar.” Jawabnya singkat. Tak perlu menjelaskan terlalu banyak. Orang-orang seperti Dokter Nina bukan orang bodoh yang akan tertipu dengan rumor. Dokter Nina membuka kain kasa yang membalut luka Fiona dan tertegun cukup lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD