Part 1
Fiona Amber sebenarnya sudah mati!
Diakhir hidupnya, dia duduk di kursi pesakitan dengan mata tertutup. Menunggu tim regu tembak melakukan eksekusi mati. Dalam fikirannya berkelebat bayangan masa lalu yang kelam dan kejam.
Dia adalah wanita pertama dalam sejarah negara ini yang dihukum mati dengan cara ditembak oleh regu tembak sebanyak lebih dari sepuluh orang. Biasanya hukuman paling berat bagi perempuan hanyalah penjara seumur hidup.
Suara tawa mengejek dan sinis yang sudah dikenal terdengar samar-samar di telinganya. Semua adegan ini terbayang begitu nyata, bahkan rasa haus darah dan keputusasaan pun begitu nyata. Ada suara Valencia yang tertawa dan berbisik pada Mark.
“Dia akan mati, tujuan kita sudah tercapai.”
Mark mendengus,
“Aku sebenarnya masih ingin melemparnya ke rumah pelacuran dan membuatnya mati di bawah pria-pria kotor itu.”
“Ya, kurasa itu lebih memuaskan daripada mati di tembak seperti ini.” Balas Valencia penuh kedengkian.
“Kau sudah mendapatkan semua miliknya. Identitasnya luar biasa. Kau bisa mewarisi banyak hal dari keluarga Robert setelah membunuh j4lang ini.”
Fiona merasakan hatinya menjadi semakin dingin. b******n!
Dia merasa tuhan tidak adil.
Mengapa orang-orang jahat itu punya kehidupan yang baik sementara dia tidak? Mengapa semua rencana mereka menjebaknya berjalan mulus dan dia dipaksa selangkah demi selangkah menuju kematian? Mengapa mereka masih mengincarnya padahal dia hanya yatim piatu tanpa orang tua?
Tidak! Ini tidak adil!
Tuhan, Aku bersumpah, jika ada kesempatan kedua, aku akan merobek dan menguliti mereka semua hingga mati tanpa jasad yang utuh!
Suara pasukan bersiap menembak berdenging di telinganya. Menyentaknya dari kemarahan yang meluap. Fiona menggertakkan gigi dengan penuh kebencian.
Bahkan jika dia sudah jadi hantu, dia pasti akan mencabik-cabik orang-orang ini!
Suara ledakan memekakkan telinga dan Fiona mulai berdoa sepenuh hati sebelum kegelapan menyelimutinya.
Airmata mengalir deras di pipinya. Penyesalan atas kebodohan, kekecewaan dari persaudaraan yang munafik, kebencian akibat pengkhianatan bergema di kepalanya. Serangkaian peristiwa diputar di benaknya satu demi satu.
Tuhan, Berilah aku kesempatan kedua.
Setelah itu, ditengah gemuruh suara tembakan, penglihatannya mulai gelap dan jiwanya tersedot ke dalam kegelapan tanpa batas.
***
"Nona, Nona, bangun. Apa Nona mimpi buruk lagi?"
Suara itu samar-samar terdengar di telinganya, memecah pemandangan kegelapan. Pemandangan itu pecah dan berhamburan seperti gelembung. Fiona tiba-tiba membuka matanya dan mengepalkan tinjunya erat-erat. Kuku-kukunya yang tajam menusuk tangannya dan jantungnya berdebar kencang. Ia menatap muram ke tepi lampu atas kepalanya dan merasa kedinginan!
"Nona! Jangan takut, itu semua mimpi, itu tidak nyata!” Suara langkah kaki terdengar diiringi suara jernih seorang gadis. Tirai tempat tidur terangkat tinggi, dan wajah pelayan yang berusia sembilan belas tahun terpantul jelas di matanya.
Itu adalah Amy yang lincah dan pintar, bukan Amy yang dipukuli sampai babak belur di gudang demi melindunginya di kehidupan sebelumnya.
Ini hari kedua sejak ia terbangun dari koma akibat kecelakaan mobil pada usianya ke delapan belas tahun. Fiona melirik tangannya. Itu masih mulus seperti sebelumnya, belum ada bekas kapalan akibat melakukan pekerjaan keras.
Tubuhnya masih sama, tetapi dia telah kembali ke masa saat dia baru lulus SMA.
Ia mengulurkan pergelangan tangannya yang ramping, yang begitu putih sehingga urat-urat biru di bawah kulitnya terlihat jelas. Ia mengangkat kepala dan melihat sekeliling lagi. Itu memang kamar tidur nya di rumah Jenderal.
Bukan kamar penjara seperti ingatannya terakhir kali!
Seketika Jantungnya berdebar kencang!
Tuhan Maha baik! Benar-benar baik!
Beberapa tetes air mata mengalir tanpa sadar di pipinya yang putih halus namun pucat.
"Nona, apakah kamu baik-baik saja?" Melihat dia tidak berbicara dan hanya berbaring di tempat tidur dengan linglung sambil menangis, Amy dengan gelisah mengulurkan tangan rampingnya dan dengan cemas menekan dahi putih Fiona.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana kabar Bibi Yuly?" Fiona memegang tangan Amy dan duduk perlahan. Suaranya serak.
Bibi Yuly adalah pengasuhnya sejak kecil. Baru kemarin, ia menyuruhnya ke ruang cuci karena kata-kata serakah Bibi Fany, yang bertanggung jawab atas halamannya. Ketika Fiona tersadar kembali, ia mendapati Bibi Yuly sakit dan lemah karena terlalu banyak bekerja keras.
Kemarin dia memanggil dokter untuk merawat Bibi Yuly. Setelah bangun, dia teringat kejadian itu.
"Nona, silakan minum air dulu untuk melegakan tenggorokanmu. Jangan khawatir, Bibi Yuly sudah jauh lebih baik. Saya baru saja menjenguknya dan dia bilang tidurnya nyenyak tadi malam." Sambil membantu Fiona duduk, Amy dengan cerdik meraih secangkir air hangat di meja di samping tempat tidur dan menyerahkannya kepada Fiona.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Fiona duduk dan menyesap beberapa teguk dari cangkir tehnya. Perasaan hangat itu mengingatkannya bahwa ia selamat dari kematian.
Setelah menyerahkan cangkir kepada Amy, ia memandang ke luar jendela. Di luar jendela, Dekorasi pesta masih terpasang. Ini berarti acara yang awalnya di peruntukkan bagi kakaknya Valencia masih akan berlangsung, sebuah acara pertunangan antara kakaknya dan putra pertama Hakim Daerah Northwest akan diselenggarakan.
Dan pada hari inilah Valencia menjebaknya untuk bertunangan dengan Mark!