bc

The Obsidian Heart: Legacy Of Lies

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
tragedy
serious
like
intro-logo
Blurb

Reza dihadapkan pada dilema moral besar: melanjutkan jalan balas dendam yang penuh kebohongan atau memilih kebenaran yang dapat menghancurkan sebagian kerajaannya demi keadilan sejati dan melindungi Anjani. Setelah pergulatan batin yang mendalam, ia memilih kebenaran. Reza dan Anjani menyusun strategi berisiko tinggi, mengungkap pengkhianatan internal yang dipimpin oleh Pak Hendra, dan akhirnya menghadapi dalang dalam konfrontasi klimaks di depan umum. Kemenangan ini datang dengan harga mahal; Reza harus mengakui kesalahannya, merekonstruksi Grup Obsidian di atas integritas baru, dan menerima cinta serta penebusan yang ia temukan bersama Anjani. Ia menemukan makna sejati dari kekuasaan: bukan untuk balas dendam, melainkan untuk membangun dan melindungi.

chap-preview
Free preview
bab 1. Tahta Obsidian
Bab 1. Tahta Obsidian Pagi menyingsing di atas cakrawala Jakarta. Reza Aditya, CEO Grup Obsidian, sudah duduk tegak di meja makannya. Pandangannya terpaku pada tablet, menelusuri laporan keuangan global dengan ketenangan membeku. Dari penthouse-nya, seluruh kota tampak tak berarti di bawah kendalinya. Dia menyesap kopinya, tak ada emosi yang kentara di wajahnya yang tajam. Hari telah dimulai. Telepon di sampingnya bergetar. Dia mengangkat tanpa ragu. "Ya, Budi?" "Rapat dewan direksi siap, Pak Reza. Jam sembilan tepat. Semua sudah hadir, menunggu Bapak." Suara Pak Budi terdengar tegang, terlalu formal. "Aku tahu." Nada Reza datar, seolah keberadaan dewan direksi adalah detail tak penting. Dia mematikan panggilan. Setelahnya, tidak ada waktu untuk ragu. Ia mengakhiri santapan tanpa menikmati, bergerak menuju kekuasaan. Mobil pribadinya melesat menembus jalanan Jakarta yang macet, tanpa ia pedulikan. Di lantai atas menara Obsidian, para direktur menanti dengan napas tertahan. Begitu Reza memasuki ruang rapat, udara berubah. Semua orang sontak berdiri. Dia hanya mengangguk tipis, gestur singkat yang memaksa mereka duduk kembali, gelisah di kursi masing-masing. Aura dominasinya terpancar jelas. Tatapannya dingin, menjelajah setiap wajah. "Mulai," ucapnya pendek. "Baik, Pak." Salah satu direktur senior menggeser catatan, keringat menetes di pelipisnya. "Agenda pertama: Rapat Koordinasi Strategi Merger." Reza mendengarkan, mata cokelat gelapnya tajam menusuk, tetapi wajahnya tetap tanpa ekspresi. Tidak ada tanda-tanda ketertarikan, hanya perhitungan. Direktur senior melanjutkan laporannya, beberapa kali suaranya tercekat. Reza tidak peduli. Dia fokus pada inti masalah. "Budi, bagianmu," katanya. "Pak Reza," Pak Budi membuka laptopnya dengan gugup. "Terkait strategi penetrasi pasar baru... kami mengumpulkan beberapa skema dari tiap divisi." "Terus." "Proyek Pengembangan Kawasan Hutan Lindung, oleh Bapak Hadi," Budi akhirnya mengucapkan nama yang membuat Pak Hadi tersentak, gugup di kursinya. Tn. Hadi berdiri. Suasana menegang. Proyek itu adalah segalanya baginya. Dia menatap Reza penuh harap. "Silakan, Hadi. Lima menit." Tn. Hadi mengangguk, mencoba meraih sisa ketenangannya. "Terima kasih, Pak Reza. Jadi, proyek ini adalah visi jangka panjang untuk mengembangkan potensi ekowisata. Target kita—" "Target angkanya saja," Reza memotong, tatapannya menyusut. "Proyeksi pendapatan lima tahunan... kami perkirakan naik tiga persen per tahun. Dengan total keuntungan..." Reza menyela lagi, bahkan sebelum Tn. Hadi selesai. "Cukup." Seluruh ruangan hening. Tn. Hadi membeku di tempatnya. Senyum tipis yang tadi sempat muncul di wajahnya perlahan luntur. "Angka tiga persen itu. Jelaskan," Reza melanjutkan, tanpa nada, namun terasa lebih mematikan dari teriakan apa pun. "Itu... proyeksi paling aman, Pak. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan potensi risiko yang minim. Ini memastikan stabilitas investasi—" "Obsidian bukan tentang stabilitas minimal," Reza berkata. Nada suaranya dingin dan menusuk. "Obsidian adalah d******i. Tujuh belas persen. Itu target standar. Tiga persen itu penghinaan." Wajah Tn. Hadi memucat. Ia mencari dukungan dari direksi lain, tetapi semua menghindari tatapannya. "Tapi Pak Reza," suara Tn. Hadi bergetar, "kita bicara investasi berkelanjutan, jangka panjang—" "Jangka panjang kita tak terputus. Itu berarti setiap proyek harus mendongkrak keuntungan tanpa keraguan." Reza memijat pelipisnya perlahan. "Kelemahan proyekmu ini terlihat jelas. Batalkan." Kata "batalkan" menggema di ruangan. Seolah sambaran petir di tengah rapat. "Batalkan?" Tn. Hadi terhuyung mundur. "Pak Reza, kami sudah mengeluarkan miliaran untuk studi kelayakan dan pembebasan lahan tahap awal. Batalkan, artinya itu semua sia-sia!" "Miliar untuk ide yang lamban dan ragu-ragu itu kerugian besar. Ini hanya kerugian kecil yang bisa diselamatkan. Aku menyelamatkanmu dari jurang, Hadi. Seharusnya kau berterima kasih." Tn. Hadi menatap Reza dengan mata berkaca-kaca, ada campuran marah dan putus asa. "Pak, saya mempertaruhkan semuanya di proyek ini. Reputasi saya, mimpi saya... ini—" "Obsidian tidak membayar mimpi, Hadi," Reza menegaskan, tidak ada jeda di antara setiap kata. "Obsidian hanya menghargai hasil nyata, d******i nyata. Proyek ini melemahkan portofolio kita. Singkirkan." "Tapi Pak—" "Keputusanku final." Reza melirik dewan direksi lainnya, mata mereka semua tertunduk. "Ada yang tidak setuju?" Tidak ada satu pun suara yang terdengar. Hanya keheningan yang menyesakkan, dipenuhi ketegangan. Tn. Hadi tahu pertarungannya telah kalah. Dia ambruk di kursinya, tatapannya kosong. "Selesai, Pak?" Pak Budi memberanikan diri. Reza mengangguk, pandangannya masih terarah pada Tn. Hadi. "Belajar dari kesalahanmu. Kali ini. Selanjutnya, tak ada ampun." Pertemuan terus berlanjut. Reza mengakhiri beberapa proyek lain, memangkas tim, dan memutarkan strategi. Setiap keputusannya tegas, tanpa kompromi, diiringi ketakutan para bawahannya. Ia adalah mesin tanpa belas kasih, takhta Obsidian di tangan baja. Tidak ada ruang untuk kesalahan, apalagi kelemahan. Rapat akhirnya bubar, meninggalkan dewan direksi yang terpukul dan Tn. Hadi yang hancur. Reza sendiri kembali ke kantornya yang luas. Hening. Pandangannya kosong, menembus kaca. Tidak ada kepuasan. Tidak ada emosi yang terukir dari 'kemenangan'-nya. Ia menarik napas, langkahnya menuju meja kerja, duduk, lalu menarik laci paling bawah di mejanya. Di sana, di antara beberapa dokumen penting, ada sebuah kotak kayu kecil. Kotak usang, bertolak belakang dengan kemewahan sekelilingnya. Dibuka pelan. Isinya hanya sebuah foto lama yang sedikit buram. Keluarga Reza yang tersenyum lebar. Ayahnya yang berwibawa, ibunya yang anggun, dan seorang adik perempuan dengan tawa riang. Di tengah, Reza muda, tersenyum lebar tanpa beban. Kenangan singkat itu menusuk, seperti sebilah pisau tumpul. Kehangatan itu, tawa itu, semuanya hilang dalam sekejap mata. Diikuti kilasan adegan gelap; reruntuhan, asap, suara sirine yang memekakkan telinga. Janji bisikan di tanah yang dingin. Sebuah sumpah, sebuah harga yang harus dibayar. Hutang darah yang kini memudar tapi tetap terukir dalam hatinya. Tangannya sedikit bergetar, namun ia mengontrolnya. Rasa sakit yang familiar muncul, tetapi Reza segera menekannya jauh ke dalam. Kekuatan, kekuasaan, itulah satu-satunya cara. Tidak ada lagi kelemahan. Dia tidak boleh rapuh lagi. Tidak akan. Ia menutup kotak, kembali menyembunyikannya di dalam laci. Gerakannya mantap, ekspresinya kembali beku. Getaran emosi yang melintas sesaat kini terkunci rapat di balik benteng dingin. Pembaca ditinggalkan dengan pertanyaan yang menggantung: Apa sebenarnya yang terkubur begitu dalam di balik persona kejam itu? Dan hutang darah apa yang mampu mengubah seseorang sekejam ini?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
44.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
5.5K
bc

JANUARI

read
50.8K
bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook