Semakin jauh melupakan jiwa itu tetap ada dan terus merujuk pada satu kesalahan tempo hari. Tangan saat membelai tempat duduk itu saja membuat hati Robert terasa pedih, apalagi ketika ia memandangi pigura besar tertempel di dinding. Wajah tanpa senyuman yang dulu sempat merayunya dengan segala kecerdasan itu sudah menjauh darinya. "Maafin Daddy Nak!" Entah berapa kali Robert merasa sesal itu melindungi pikiran dari amarah untuk Bevan. "Daddy memang bukan orang tua yang baik buatmu." Terus melangkah. Ia semakin dekat dengan foto keluarga dan jelas Robert menderita melihat wajah-wajah yang kini tampak mengasingkannya. "Kalian, kenapa membiarkan Daddy sendirian? Daddy… Sangat merindukan kalian semua." Robert menyentuh bagian d**a terasa sesak ketika ia menarik napas. La

