Hujan turun deras membasahi jalanan kota malam itu. Kilatan petir sesekali menyambar, menyinari gedung-gedung tinggi yang berdiri angkuh di tengah gelap. Suasana malam yang biasanya hanya dipenuhi lampu neon dan suara kendaraan kini seakan berubah menjadi panggung muram penuh rahasia.
Di dalam apartemennya yang berlokasi di lantai 20 sebuah menara modern, Arfan berdiri mematung di depan jendela besar. Tangannya menggenggam gelas berisi minuman, tapi pikirannya tidak tenang. Kata-kata Fandi siang tadi masih terngiang jelas di telinganya “Namanya Anya. Pernahkah kau mendengarnya?”
Itu bukan sekadar pertanyaan, Itu adalah peringatan. Fandi jarang sekali menyebut nama seseorang secara langsung jika ia tidak punya rencana terhadap orang itu. Dan kini, nama yang keluar dari bibirnya adalah nama perempuan yang sedang tertidur pulas di sofa apartemen Arfan.
Arfan menoleh. Wajah Anya terlihat damai, seolah-olah dunia luar dengan segala hiruk-pikuknya tidak bisa menembus ketenangan tidurnya. Tapi justru itu yang membuat d**a Arfan semakin sesak. Ia tahu Anya sedang berada dalam bahaya besar, dan semua itu karena dirinya.
"Apa yang harus kulakukan?" pikir Arfan.
Jika ia jujur, ia ingin menyeret Anya keluar dari kota ini, pergi jauh ke tempat yang bahkan Fandi tak bisa menjangkau. Namun ia juga tahu, Fandi memiliki mata dan telinga di mana-mana. Melarikan diri bukanlah pilihan.
Telepon genggamnya bergetar di meja, memecah kesunyian. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang hanya dikenal Arfan dalam lingkaran bisnis gelap Fandi. Pesan singkat itu membuat aliran darahnya berhenti sesaat
“Bos minta kita awasi seorang gadis, Namanya Anya Info lengkap segera"
Arfan memejamkan mata, menarik napas panjang. Ini lebih cepat dari yang ia duga. Fandi bukan hanya mencurigai dia sudah mulai bergerak. Itu artinya, setiap langkah Anya dari sekarang akan diawasi.
Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Anya, Arfan meraih mantel hitamnya dan keluar dari apartemen. Malam itu ia tahu, ia harus mengambil langkah. Jika ia diam, Fandi akan lebih dulu menghancurkan segalanya.
Di sisi lain kota, Fandi duduk di ruang kerjanya yang mewah. Ruangan itu gelap kecuali cahaya lampu meja yang jatuh di atas tumpukan dokumen. Di tangannya, sebuah foto kecil Anya yang diambil secara diam-diam saat gala bisnis beberapa minggu lalu. Fandi menatap foto itu lama, bibirnya melengkung membentuk senyum samar.
“Cantik terlalu cantik untuk sekadar sekretaris biasa,” gumamnya.
Seorang pria berpakaian hitam masuk, salah satu orang kepercayaannya.
“Bos, semua sudah siap. Kami hanya menunggu instruksi”
Fandi meletakkan foto itu di atas meja.
“Ikuti dia, Jangan sampai luput satu langkah pun. Aku ingin tahu siapa saja yang mendekatinya, siapa yang berbicara dengannya, bahkan apa yang dia makan setiap hari” Ia berhenti sejenak, matanya berkilat dingin. “Buat dia sadar bahwa hidupnya kini ada dalam genggaman kita.”
Pria itu mengangguk, lalu pergi. Fandi kembali menatap foto Anya. Di balik matanya yang penuh obsesi, ada sesuatu yang lebih gelap. Bagi Fandi, Anya bukan sekadar wanita cantik dia adalah simbol kekuasaan yang ingin ia genggam, bahkan jika harus melawan tangan kanannya sendiri.
Sementara itu, Arfan melangkah ke sebuah gudang tua di pinggiran kota. Tempat itu adalah salah satu markas kecil yang biasa ia gunakan untuk mengatur strategi di luar radar Fandi. Di sana ia bertemu dengan seorang informan lama, lelaki paruh baya bernama Bram.
“Lama sekali kau tidak datang ke sini,” kata Bram sambil menghisap rokok. “Ada urusan penting Arfan?”
Arfan duduk, menatap Bram tajam. “Aku butuh informasi tentang semua pergerakan Fandi beberapa hari ini, Terutama yang berhubungan dengan Arsya Group dan seorang gadis bernama Anya”
Bram menaikkan alis. “Anya? Sekretaris muda itu? Kudengar dia cukup dekat dengan pimpinan Arsya. Kenapa kau tertarik padanya?”
Arfan menahan diri. “Jangan banyak bertanya, Cukup cari tahu siapa saja yang sedang diperintahkan Fandi untuk mengawasinya”
Bram menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi Arfan kalau Fandi tahu kau ikut campur dalam urusan ini, kau bisa jadi target berikutnya”
“Aku sudah lama jadi targetnya, Bedanya kali ini aku punya sesuatu yang harus kulindungi” jawab Arfan dingin.
Bram hanya menatapnya, lalu menyerahkan sebuah map kecil. “Aku sudah dengar beberapa desas-desus. Fandi benar-benar tertarik dengan gadis itu. Hati-hati, Arfan. Obsesi Fandi bukan sesuatu yang bisa ditahan dengan mudah”
Arfan membuka map itu. Foto-foto Anya, hasil pengintaian beberapa hari terakhir, sudah tersusun rapi di dalamnya. Tubuhnya menegang. Fandi bergerak lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Ia mengepalkan tangan. “Kalau dia berani menyentuhnya, aku akan melawannya. Bahkan jika itu berarti melawan seluruh dunia"
Malam beranjak semakin larut. Arfan pulang ke apartemennya dengan langkah berat. Sesampainya di sana, ia mendapati Anya sudah bangun, duduk di sofa dengan wajah cemas.
“Kamu kemana?” tanyanya dengan suara bergetar. “Aku bangun dan kamu tidak ada. Aku takut Arfan. Aku merasa seperti ada yang mengikuti aku akhir-akhir ini”
Arfan menghampirinya, lalu menggenggam kedua tangan Anya. “Dengar aku baik-baik, Anya. Apa pun yang terjadi, jangan pernah berjalan sendirian. Jangan percaya pada orang asing, bahkan jika mereka mengaku dari perusahaanmu. Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, langsung hubungi aku”
Air mata menggenang di mata Anya.
“Kenapa aku merasa semua ini jadi semakin menakutkan? Arfan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Anya.
Arfan terdiam. Ia ingin berkata jujur, ingin menceritakan semuanya bahwa Fandi sudah mengetahui keberadaan Anya, bahwa setiap langkahnya kini diawasi, bahwa bahaya bisa datang kapan saja. Namun kata-kata itu hanya akan membuat Anya semakin ketakutan.
Sebagai gantinya, ia menarik Anya ke dalam pelukan hangat. “Percayalah padaku aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Selama aku masih hidup, aku akan melindungimu”
Di luar hujan masih turun deras. Petir menyambar langit malam, seolah ikut menjadi saksi janji seorang pria yang kini harus memilih kesetiaan kepada bos yang membesarkannya, atau cinta yang membuatnya berani melawan segalanya.
Dan jauh di sudut kota, Fandi tersenyum puas, menatap layar besar yang menampilkan rekaman pengawasan Anya.
“Permainan sudah dimulai, Arfan” bisiknya. “Mari kita lihat siapa yang akan bertahan sampai akhirnya.