Jebakan yang Tak Terlihat

935 Words
Kota itu tidak pernah tidur. Lampu-lampu neon masih berpendar di sepanjang jalan meski malam sudah larut. Namun di dalam hati Arfan hanya ada gelap. Ia duduk di meja makan apartemennya, menatap secangkir kopi yang sudah dingin. Anya sudah tertidur di kamar, lelah dengan semua tekanan kuliah dan pekerjaan. Tapi bagi Arfan malam justru baru saja dimulai. Pikirannya dipenuhi wajah Fandi. Senyum licik itu, tatapan tajam penuh obsesi, dan suara dinginnya saat menyebut nama Anya. Itu bukan lagi sekadar ancaman samar. Itu adalah pernyataan perang. Arfan meraih telepon genggamnya, memutar nomor seorang pria yang sudah lama bekerja bersamanya di balik layar. Begitu tersambung, suara di seberang terdengar berat dan serak. “Arfan? Sudah lama kau tidak menghubungiku.” ucap seorang pria “Aku butuh bantuanmu, Reno.” ucap Arfan tanpa basa basi. “Seseorang sedang mengincar seseorang yang penting bagiku. Aku ingin kau pasang orang-orangmu untuk melindunginya secara diam-diam.” ucapnya lagi. Hening sejenak di seberang. “Aku tahu nada suaramu. Ini bukan urusan kecil kan?” tanya pria itu. Arfan menatap kosong ke arah jendela. “Ini urusan hidup dan mati.” jawab Arfan. Keesokan harinya, Anya berjalan keluar dari gedung kampusnya dengan langkah cepat. Hujan semalam menyisakan udara lembap yang menusuk kulit. Saat ia hendak menaiki bus kota, ia merasa ada tatapan yang mengikutinya. Beberapa pria asing berdiri di seberang jalan, seolah sedang mengamati sesuatu. Hatinya berdegup kencang. Sejak beberapa hari terakhir, ia memang merasa ada yang berbeda. Entah hanya perasaan, atau memang ada yang membuntutinya. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya. Kaca jendela perlahan turun, memperlihatkan seorang pria berpenampilan rapi dengan senyum karismatik. “Anya, bukan?” ucap pria itu. Anya terdiam. Ia mengenali wajah itu. Wajah yang sering muncul di majalah bisnis dan berita televisi. Fandi CEO muda karismatik yang namanya kerap disebut sebagai pesaing utama Arsya Group. Bos dari perusahaan yang selalu berseberangan dengan tempat Anya bekerja. “Maaf, kita belum pernah berkenalan. Namaku Fandi.” Suaranya lembut, berbeda jauh dari aura dingin yang biasanya melekat dalam berita. “Kebetulan aku lewat dan aku melihatmu kebingungan. Mau kuantar?” tawar Fandi. Anya mundur setapak. “Terima kasih, tapi saya bisa naik bus.” tolak Anya halus. Fandi tersenyum, tidak terlihat tersinggung. “Keras kepala rupanya. Tapi aku mengerti. Wanita sepertimu memang pantas berhati-hati. Dunia ini terlalu penuh orang licik.” Ia menatap dalam, seakan menyiratkan sesuatu yang lebih. “Tapi ingatlah, tidak semua orang yang terlihat berbahaya benar-benar musuhmu.” Anya merasa merinding. Ia buru-buru melangkah pergi, namun kata-kata itu menancap dalam di kepalanya. Di sisi lain kota, Arfan sedang bertemu Reno di sebuah kafe kecil. Pria itu bertubuh tegap dengan wajah penuh bekas luka. “Aku sudah menempatkan dua orang untuk mengawasi Anya dari jauh.” katanya sambil menyalakan rokok. “Tapi Arfan kau harus tahu satu hal. Fandi sudah mengirim tim bayangan untuk mengikutinya. Kalau bukan karena aku cepat tanggap, gadis itu mungkin sudah ditarik masuk ke dalam permainan mereka.” katanya lagi. Arfan mengepalkan tangan di bawah meja. “Aku sudah menduga. Dia bahkan berani muncul langsung di depan Anya.” Reno menatap tajam. “Kalau begitu, hanya masalah waktu sebelum dia tahu segalanya. Kau sadar, kan? Kau sedang bermain di dua sisi. Satu langkah salah, kau dan gadis itu habis.” Arfan mengangguk pelan. “Aku tahu tapi aku tidak akan mundur.” ucap Arfan Malam itu, Anya tiba di apartemen dengan wajah pucat. Arfan yang sudah menunggunya langsung menyadari ada sesuatu yang salah. “Ada apa?” tanyanya cemas. Anya menggigit bibir lalu berkata lirih, “Aku bertemu Fandi tadi. Dia bilang hal-hal aneh. Seperti memberi peringatan. Arfan, siapa sebenarnya dia?” tanya Anya. Arfan terdiam. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya. Ia menuntun Anya duduk di sofa, lalu menatapnya dalam. “Fandi adalah orang yang berbahaya. Dia bukan hanya pengusaha, dia juga punya jaringan yang bisa menguasai siapa saja. Dan sekarang dia sudah mengincarmu.” lirih Arfan. Mata Anya melebar tubuhnya bergetar. “Mengincarku? Tapi kenapa?” Anya terlihat ketakutan. Arfan menunduk menggenggam erat tangan Anya. “Karena kau milikku.” Anya meneteskan air mata, separuh takut, separuh tersentuh. “Arfan, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya lirih. Arfan menarik napas panjang. “Kita harus tetap bertahan. Aku akan melindungimu. Apa pun yang terjadi, jangan pernah bertemu dia lagi. Jangan pernah percaya satu kata pun darinya.” ucap Arfan mencoba menenangkan Anya. Tiba-tiba, telepon genggam Arfan bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang sangat ia kenal, Fandi. “Cantik sekali wanita itu. Kau beruntung, Arfan. Tapi ingat tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku. Mari kita lihat siapa yang lebih kuat menjaga miliknya.” isi pesan Fandi. Arfan memukul meja hingga gelas di atasnya bergetar. Wajahnya dipenuhi amarah yang ditahan. “Dia sudah terlalu jauh.” Anya memeluknya erat, tubuhnya gemetar. Arfan menutup matanya, berjanji dalam hati "Aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke tangannya. Sekalipun aku harus berhadapan dengan iblis itu." Ucapnya tegas. Di ruang kantor megahnya, Fandi duduk sambil menatap layar besar. Kamera pengintai yang tersembunyi di sekitar apartemen Arfan menampilkan gambar jelas wajah Anya yang sedang menangis di pelukan Arfan. Fandi menyeringai puas. “Cantik sekali ketika rapuh. Tak lama lagi dia akan tahu siapa pria yang lebih layak ada di sisinya.” Ia menuangkan minuman ke gelas kristal, meneguknya perlahan, lalu bergumam, “Permainan ini baru saja dimulai” Suasana kota kembali larut dalam malam, tapi perang diam-diam antara dua pria itu telah dimulai. Cinta dan ambisi kini bertabrakan, menciptakan arus berbahaya yang siap menelan siapa pun yang terjebak di dalamnya. Arfan tahu, langkah berikutnya akan menentukan segalanya. Tapi satu hal pasti ia tidak akan pernah menyerahkan Anya tanpa perlawanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD