Pagi itu kota sibuk seperti biasa. Jalanan dipenuhi deretan mobil, suara klakson bersahut-sahutan, dan orang-orang berjalan cepat mengejar waktu. Namun bagi Anya, dunia terasa berbeda. Semalam masih terbayang jelas tatapan Fandi, kata-kata anehnya, dan kemarahan Arfan saat membaca pesan di ponselnya.
Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambut panjangnya yang tergerai. Seragam kerjanya tampak rapi, tapi wajahnya pucat.
"Apakah aku sanggup bertahan di tengah semua ini?" pikirnya.
Suara pintu kamar terbuka. Arfan masuk, mengenakan setelan jas gelap. Wajahnya seperti biasa tegas, dingin, tapi matanya menyimpan kelelahan.
“Kamu siap berangkat?” tanyanya datar.
Anya mengangguk pelan. “Arfan kalau semua ini terlalu berbahaya untukku, mungkin lebih baik aku menjauh dulu.”
Arfan menghentikan langkahnya, menatapnya tajam. “Tidak justru kalau kamu menjauh, mereka akan lebih mudah menyerangmu. Selama kamu ada di sisiku, aku bisa melindungimu.”
Anya terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Arfan yang membuatnya tidak bisa membantah.
Di sisi lain kota, di lantai tertinggi gedung kaca yang menjulang, Fandi berdiri di depan jendela besar kantornya. Tangannya memegang secangkir kopi, namun matanya menatap jauh ke luar seakan melihat dunia sebagai papan catur.
Seorang bawahannya masuk membawa berkas.
“Bos, kami sudah menempatkan orang-orang di sekitar kantor Arsya Group. Target akan lebih mudah diawasi.” ucap bawahannya.
Fandi menaruh cangkirnya, lalu menoleh. “Bagus tapi ingat, jangan menyentuhnya. Aku ingin dia datang padaku dengan kemauannya sendiri. Tugas kalian hanya membuatnya merasa bahwa Arfan tidak mampu melindunginya.”
Pria itu mengangguk, lalu keluar. Fandi kembali menatap ke luar jendela.
Senyum tipis terukir di bibirnya. “Anya cepat atau lambat, kau akan melihat siapa pria yang sebenarnya lebih pantas berdiri di sisimu.”
Hari itu, kantor Arsya Group dipenuhi ketegangan. Anya duduk di meja kerjanya, berusaha fokus pada dokumen-dokumen di depan mata. Tapi matanya terus melirik ke arah jam. Ia ingin waktu cepat berlalu.
“Anya.” panggil seorang pria.
Suara itu membuatnya menoleh. Seorang pria muda, salah satu rekan kerja, berdiri di sampingnya.
“Ada yang mencari kamu di lobi. Katanya penting.” ucapnya.
Alis Anya berkerut. Siapa yang bisa mencarinya di jam kerja? Ia turun ke lobi, dan matanya langsung melebar ketika melihat siapa yang berdiri di sana.
"Fandi." Lirihnya.
Dengan setelan jas biru tua, ia tampak lebih mempesona dari biasanya. Tatapannya langsung tertuju pada Anya, senyumnya hangat seolah mereka sudah lama akrab.
“Anya,” sapanya tenang. “Aku tidak bermaksud mengganggumu, tapi aku ingin bicara sebentar. Lima menit saja.”
Anya menelan ludah. “Aku sedang bekerja. Aku tidak bisa..”
“Aku tahu,” potong Fandi halus. “Tapi bukankah seorang teman boleh sekadar menyapa? Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kota ini bisa sangat berbahaya untuk gadis sepertimu.”
Anya merasakan tatapan orang-orang di lobi yang mulai memperhatikan mereka. Dengan berat hati, ia akhirnya mengangguk. “Baiklah. Lima menit.”
Mereka duduk di sebuah sudut kafe kecil di dekat lobi. Fandi menatapnya dalam, membuat Anya merasa tidak nyaman.
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku mendekatimu,” kata Fandi akhirnya. “Sederhana saja aku melihat sesuatu dalam dirimu yang berbeda. Kau bukan hanya sekretaris biasa, Anya. Kau punya cahaya yang bahkan orang-orang besar pun sulit abaikan.”
Anya menunduk, merasa jantungnya berdetak tak karuan. Kata-kata Fandi lembut, namun di baliknya ia merasakan bahaya.
“Arfan tidak pernah memberitahumu siapa aku sebenarnya, bukan?” lanjut Fandi. “Dia hanya bilang aku orang berbahaya. Tapi pernahkah kamu bertanya, kenapa dia bekerja padaku selama ini? Kenapa dia ada di sisiku bertahun-tahun?”
Anya terperanjat. “Apa maksudmu?”
Fandi tersenyum samar. “Arfan adalah tangan kananku. Dia pria berbakat, tapi terlalu dingin. Semua orang takut padanya, kecuali aku. Dan sekarang dia menyembunyikanmu dariku. Kau tidak penasaran kenapa?”
Anya terdiam, dadanya sesak. Kata-kata Fandi menusuk seperti jarum.
Sementara itu, Arfan sedang memimpin rapat dengan timnya di gedung lain. Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari Reno.
“Target bersama Fandi. Lobi Arsya Group. Segera.”
Arfan berdiri mendadak, membuat semua orang di ruangan terkejut.
“Rapat selesai aku ada urusan.” Tanpa menjelaskan, ia langsung melangkah keluar.
Mobilnya melaju cepat menembus jalanan kota. Di dalam, wajahnya penuh amarah. Dia sudah berani masuk ke wilayahku.
Di kafe kecil itu, Anya masih duduk gelisah. “Aku harus kembali bekerja,” katanya akhirnya, berusaha mengakhiri percakapan.
Fandi mencondongkan tubuh, menatapnya intens. “Anya aku hanya ingin kau tahu, ada pilihan lain. Kau tidak harus selalu bergantung pada Arfan. Jika suatu hari kau merasa lelah, pintu untukmu selalu terbuka di sisiku.” ucapnya.
Saat itulah, suara langkah cepat terdengar. Arfan muncul dengan tatapan membara.
“Fandi.” Suaranya dingin, penuh ancaman. “Apa yang kau lakukan di sini?” ucapnya penuh selidik.
Fandi bersandar santai di kursinya.
“Arfan. Tepat waktu seperti biasa. Aku hanya berbicara dengan seorang wanita cantik. Tidak boleh, ya?” ucapnya pongah.
Arfan menatap tajam, lalu menarik tangan Anya berdiri. “Ayo kita pergi.” membawa Anya menjauh.
Fandi tidak menahan, hanya tersenyum tipis. “Ingat, Anya. Dunia ini penuh rahasia. Jangan percaya begitu saja pada seseorang, bahkan jika dia mengaku akan melindungimu.”
Anya menoleh sebentar, lalu mengikuti Arfan keluar. Namun kata-kata Fandi menggema di kepalanya, menciptakan keraguan yang tak bisa ia usir.
Di dalam mobil, keheningan mencekam. Arfan menggenggam kemudi erat, rahangnya mengeras.
Anya akhirnya bersuara pelan, “Arfan apa yang dia katakan itu benar? Kau tangan kanannya?”
Arfan terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Ya aku pernah jadi tangan kanannya. Tapi itu masa lalu. Sekarang aku hanya ingin menjauh darinya.”
Anya menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Kenapa kau tidak pernah bilang padaku?”
Arfan menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke jalan.
“Karena aku tidak ingin kau melihat sisi gelapku. Aku tidak ingin kau takut padaku.” jawab Arfan.
Air mata jatuh di pipi Anya. Perasaannya bercampur takut, marah, bingung, tapi juga tetap mencintai pria yang kini ada di sampingnya.
Di luar sana, Fandi duduk kembali di kafe dengan senyum puas. Ia tahu benih keraguan sudah tertanam dalam hati Anya. Dan benih itu akan tumbuh, perlahan tapi pasti, memisahkan Arfan darinya.
Malam menjelang. Di apartemen, Anya berdiri di balkon, memandang kota yang berkilauan. Arfan berdiri di belakangnya, diam.
“Arfan,” suara Anya lirih, “aku ingin percaya padamu. Tapi semua ini terlalu berat untukku.”
Arfan mendekat, memeluknya dari belakang. “Aku tahu. Tapi kumohon bertahanlah bersamaku. Jangan biarkan dia merenggutmu dariku.”
Anya menutup mata, membiarkan air matanya jatuh. Di kejauhan langit malam dipenuhi cahaya lampu kota, tapi di antara mereka, bayangan Fandi sudah mulai meretakkan fondasi yang mereka bangun bersama.