Menjelang petang Aruna sudah sampai di sebuah pelabuhan yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Ia berjalan kaki memasuki pelabuhan tersebut dengan perasaan was was. Suasananya cukup sepi saat ini. Beberapa kali Aruna menoleh ke kanan dan ke kiri memerhatikan sekitarnya. Ia takut ada orang yang menguntit lalu melakukan tindak kejahatan padanya. Hingga langit mulai gelap Aruna belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal cepat yang dimaksud oleh Batara dalam kertas yang diterimanya beberapa hari lalu. Aruna menyesalkan dirinya yang tidak pernah memiliki nomor ponsel Batara. Sehingga di saat mendesak seperti ini dia tidak bisa menghubungi laki-laki itu. Jantung Aruna berdebar kencang kala melihat ada dua orang pria bertubuh sedikit lebih berisi dari Batara berjalan santai menuju ke arahn

