Nyonya Elina menuruti ucapan Batara. Wanita itu meletakkan tas jinjingnya di atas meja sembari melihat Batara yang sedang berjongkok di lantai untuk melebarkan celana piyamanya. Tanpa diperintah wanita itu bersedia dengan sukarela memakai kembali celana piyamanya. “Batara mana?” tanya Nyonya Elina setelah duduk di sofa. “Mi…Ini aku, Batara,” ujar Batara dengan tatapan pilu. “Benarkah?” “Iya, Mi.” “Kalau begitu dengarkan baik-baik omongan Mami. Sekali saja kamu menjadi anak yang penurut. Singkirkan sejenak egomu. Sebentar lagi Barata akan menikah dengan gadis yang begitu dicintainya. Kamu jangan kemana-mana dulu. Setelah Barata menikah, Mami nggak akan mengganggu lagi. Sampaikan semua yang mami katakan pada Batara.” Tanpa terasa Batara menitikkan air matanya. Nyonya Elina tidak

