Bab 7

1160 Words
7. PERNIKAHAN DINI Makan bareng Majikan Penulis: Lusia Sudarti Part7 ****** Tak terasa dalam waktu sehari keadaan berubah, dan tanpa terasa air mataku kembali luruh mengenang perjalanan hidup ini. Setelah selesai menyiapkan makan malam, aku masuk kekamar untuk membaringkan tubuh yang sedikit lelah. Aku merenungi kisah hidupku,...Yaa Allah." Tok! Tok! Tok! Aku terkejut ketika terdengar daun pintu kamar ada yang mengetuk. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan yang datang kedapur sekaligus kamarku. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya. "Siapa?" tanyaku. "Lit ini Ibu ayo kita makan bareng," ternyata Ibu yang memanggilku beliau mengajakku untuk makan malam bersama. "Nanti aja Bu," jawabku, sembari membuka pintu kamar. "Enggak ada tapi-tapian ayo kita makan," tegas Ibu. "Baiklah Bu," jawabku pelan. Aku pun segera bangkit menuju meja makan, disana sudah ada Bapak yang menunggu. "Ayo makan Lit?" ujar Bapak. "Iya pak," jawabku. Kami pun makan dengan tertib hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Aku yang selama hidupnya belum pernah bergaul dengan orang-orang yang berpengaruh, tetapi aku bisa cepat sekali memyesuaikan diri, aku mengamati cara-cara orang penting makan, bertutur dan berperilaku, tak heran jika aku menjadi kesayangan kedua bosku. Waktu makan malam pun telah selesai, aku segera membersihkan meja makan, mencuci piring dan sebagainya. Sedangkan kedua bosku bercengkrama dimeja makan. Di luar pekerja berkumpul, mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing, ada pula yang bermain gitar dan bernyanyi.. Setelah selesai makan dan membereskan semua, aku ingin segera masuk kekamar, namun dicegah oleh mereka. Akhirnya aku pun berbincang sejenak. "Lit mending kamu ikut gabung sama mereka!" titah Bapak kepadaku. "Males pak, mereka semuakan laki," jawabku. "Enggak apa kali Lit!" sambung Ibu, beliau menatapku sejenak. "Bapak sama Ibu juga mau gabung sama mereka kok," jelasnya. "Baiklah Bu," akhirnya aku menyetujui saran mereka untuk ngumpul bareng yang lain. Aku segera melangkah mengiringi mereka berdua menuju teras yang telah ramai. Aku duduk dibale-bale bambu seorang diri. Ketika ada Kak Yudi yang baru saja tiba. Kemudian aku menyapanya, ia membawa gitar. "Eh ada Kak Yudi," ujarku. "Iya nih Lit lagi bosen aja didalam bas camp. Jadi ikut gabung sama yang lain. Lit bisa bernyanyi gak nih?" tanyanya. "Bisa dikit kak," jawabku malu. "Oh ya, kalo gitu nyanyi yuk, Kakak yang ngiringi pake gitar gimana Lit," ia bersemangat. "Boleh Kak, tapi jangan diketawain ya kalo suaraku fals?" ucapku lagi. "Tenang aja, lagu apa nih?," ia bertanya. "Eemm tak ingin sendiri," jawabku. "Oke," sahutnya, lalu mulai memetik gitar, dengan petikan klasik. Kak Yudi pun memainkan gitarnya dengan sangat merdu. "Aku masih seperti yang dulu, Menunggumu, sampai akhir hidupku, Kesetiaanku tak luntur hati pun rela berkorban, demi keutuhan kau dan aku. Biarkan lah aku memiliki, semua cinta yang ada dihatimu, Apa pun kan ku berikan, Cinta dan kerinduan, Untuuk muu dambaan hatiku. Malam ini tak ingin aku sendiri Kucari damaaii bersama bayangan muu Hangat pelukan yang masih kurasakaaan Kau...kasiiihh, kaauu sayaang. Plok! plok! plok...! Tepuk tangan terdengar riuh, aku pun terkejut Karna tak menyangka mereka semua mendengarkan nyanyianku. malu? Pasti tapi juga bangga. "Wah Lit, ternyata suara kamu juara ya?" pujinya. "Enggak kok Kak biasa aja," sergahku sambil nyengirr. Aku bercanda bersama karyawan-karyawan disana, cepat sekali aku menyesuaikan diri dengan mereka, mereka pun menghargaiku yang supel dan gampang bersosialisasi. Setelah puas bernyanyi, aku merasa sudah mengantuk Malam pun semakin larut, aku melirik jam yang ada ditanganku. "Heem Kak udah malam nih aku masuk dulu!" Pamitku. "Oh iya Lit, mimpi indah ya?" ucapnya. "Iya Kak makasih," ujarku. Di balas anggukkan seraya tersenyum. Aku pun pamit sama Bapak dan Ibu. mereka berbincang bersama Partner kerjanya. "Bu, Pak, saya pamit dulu, udah ngantuk!" Mereka menoleh kepadaku. "Iya Lit, jangan lupa kunci pintu ya?" titah Bapak. "Iya Pak," "Ya udah, sana masuk, itu kedua matamu udah memerah!" Sambung Ibu. Aku mengangguk dan melangkah masuk kekamarku. Ku hempaskan tubuhku diatas kasur yang empuk, Dan bersiap mengukir mimpi, yang pasti tentang indahnya sekolah.. Nasib..nasib," lirihku seorang diri, ketika tatapannya menuju kelangit-langit yang terbuat dari seng. Lama sekali kedua netraku enggan terpejam. Angan dan fikranku jauh menerawang. Hingga tanpa sadar ia telah terpejam. ??? Keesokan harinya, aku bangun pukul 04:00, aku segera melakukan aktivitasnya. Memasak nasi dan menyiapkan menu untuk makan siang. Jika di pagi hari, bosku jarang sarapan pagi Roti tawar, dioles blueband dan diberi toping telor ceplok mata sapi dan minum nescafe hangat. Setelah itu aku menyiapkan satu plastik roti tawar, menggoreng telor ceplok dan menyiapkan blueband, dan menyiapkan sayuran untuk makan siang. Setelah siap, aku memutuskan untuk mandi dan mencuci pakaianku sendiri. Dikamar mandi aku bernyanyi-nyanyi dengan riang. "Ceria banget nih kamu pagi ini Lit!" Tiba-tiba Lita dikejutkan oleh suara lembut majikannya yang telah berada dibelakangnya ketika keluar dari kamar mandi, seketika Lita menoleh kebelakang dengan raut wajah terkejut, hampir saja ia tak melompat karenanya. "Astagfirrullah Bu, bikin jantungan aja!" Serunya seraya menggaruk rambutnya yang terbalut handuk. "Hehehe, masa gitu aja kaget kamu!" Ibu terkekeh melihat Lita yang seperti melihat hantu disiang bolong. "Ibu tiba-tiba ada dibelakang saya, terus pake handuk kimono putih, pake masker putih pula, hehehe," Lita pun terkekeh pula melihatnya serba putih. Endang adalah nama majikanku, usut punya usut ternyata Ibu Endang adalah Istri kedua bos, pantes aja masih sangat muda. Usianya sekitar 30 an, sedangkan Bapak sekitar 50 tahunan. Jauh bukan, tapi biar ajalah ya! Aku menjemur pakaianku yang habis aku cuci dibelakang camp. Sembari menunggu Ibu Endang untuk sarapan aku masuk kedalam kamar untuk merapikan rambutku. Karena aku hanya membantu, Istri bos yang memasak sayuran dan menu yang lain. Aku hanya membantu ala kadarnya, sambil mengambil ilmu tentang cara memasak. Untuk kujadikan pengalaman kelak, agar aku punya keahlian walau aku tak berpendidikan. Dari luar terdengar, suara perbincangan antara Bapak dan Ibu, untuk sarapan pagi. Aku bergegas keluar kamar menuju kedapur menyiapkan nescafe dan menyiapkan sendok serta garfu. "Pagi Bu, Pak!" Ujarku menyapa mereka yang memasuki dapur. "Pagi Lit," sapa mereka berdua seraya tersenyum. Mereka duduk dimeja makan, seperti biasa aku selalu sarapan bareng mereka berdua. "Kamu betah disini Lit?" Endang bertanya dengan lirih ketika selesai sarapan. "Enggak tau Bu, jalani dan nikmati aja dulu," jawabku sambil menatap raut wajah beliau. "Mudah-mudahan kamu betah ya?" Sambung Bapak, ia mengelap bibirnya dengan tisu. Bapak sudah rapi, ia bersiap untuk berangkat kerja kelapangan. Setelah bos berangkat, Ibu pamit untuk kembali keruangannya. Sedang aku membereskan meja kemudian aku pun masuk kekamar, karena belum waktunya memasak. Aku termenung seorang diri, anganku berada dirumahku. Tak terasa aku sudah hampir satu bulan jauh dari orang tuaku, apa kabar ya mereka?" gumamku. Apakah mereka ingat kepadaku?" lirihku kembali. Sedih hatiku, tak dapat berkomunikasi dengan mereka. Aku rindu teman-temanku, aku rindu kamarku. Aku rindu semuanya, tak terasa air mataku mengalir, entah kapan terakhir aku meneteskan air mata? Saat ini, air bening itu menetes kembali, mewakili hatiku. Saat ini usiaku menginjak empat belas tahun, dan aku benar-benar tidak menduga, jika akan seperti ini perjalan hidup yang harus kulalui. Bersambung Bagaimanakah kisah lita selanjutnya??? Terus ikuti perjalanan lita.. NB:cerita ini yang di angkat dari kisah nyata. semoga para pembaca ku semua, terhibur dan Mohon krisan nya,untuk yang lebih baik. selamat menikmati?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD