6. PERNIKAHAN DINI
Di ajak kerja jadi tukang masak
Penulis: Lusia Sudarti
Part 6
"Begini Bu,..oh iya perkenalkan, nama saya Aditya." ia mengulurkan tangan untuk berjabat.
"Saya Maria, silahkan duduk Pak," jawab Ibu serta mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Apakah Ibu mempunyai Anak perempuan yang sudah enggak sekolah lagi Bu? Saya sedang mencari pegawai untuk dipekerjakan sebagai tukang masak (pembantu) di bascamp gimana Bu? Apakah Ibu mempunyai Anak yang bisa memasak dan nggak sekolah?" ujar Pak Aditya.
"Ada Pak, tapi sebentar saya tanya dulu, bersedia apa enggak?" jawab Ibu.
"Silahkan Bu."
Ibu pun bergegas menuju kamarku.
Aku yang mendengar perbincangan mereka segera meninggalkan pintu menuju pembaringan pura-pura tidur.
"Lita...," panggil Ibunya.
Maria memasuki kamar Lita.
"Ya Bu, ada apa?" jawabku sambil bangun.
"Lit ada yang mau ajak kamu kerja jadi tukang masak dimedco? gimana Lit?" tanya Ibu, beliau menatapku dengan tatapan serius sekali.
"Gimana ya Bu?" hatiku berat untuk menerima tawaran itu.
"Sebenarnya aku masih mau sekolah Bu," lirihku pedih.
"Lit, cobalah belajar untuk menerima keadaan, dan kamu bisa punya penghasilan dan ditabung.
kamu bisa beli perhiasan," bujuk Ibuku kembali seraya memegang bahuku.
Hatiku teramat pedih sebetulnya, dan jujur aku takut jauh dari keluarga. Jauh dari semua, takuut. Masih banyak lagi yang berkecamuk dihatiku ini. Pilu sekali hatiku saat ini.
Tapi kenapa Ibuku tidak peka dan seolah memaksa," lirihku.
Dengan berat hati aku pun meng-iya kan.
Ibu tersenyum setelah mendapat persetujuan dariku."
"Iya Pak, tapi bagaimana nanti disana?" Ibu sedikit khawatir.
Ketika Ibu kembali menemui tamunya.
"Disana fasilitasnya ada Bu, dan gajinya tiga ratus ribu satu bulan, untuk bulan-bulan pertama, seandainya pekerjaannya bagus, akan meningkat Bu," Aditya menjelaskan semua tentang pekerjaan Lita kelak.
"Baiklah, saya percayakan anak saya, sebentar saya panggil dulu, sudah siap apa belum." Ibu berlalu menuju kamar.
"Lit, apa sudah selesai?" Ibu mengetuk pintu kamarku.
"Iya, Bu," Lita membawa tas ransel sedikit besar. Melangkah menuju kedepan dimana Aditya menunggu.
Setelah pamitan dengan kedua orang tua, aku naik mobil yang dikendarai Aditya menuju tempat yang baru, dimana aku bekerja.
Didalam perjalanan tiada pembicaraan, hening. Aku bingung bagaimana nanti disana? Baru kali ini aku berpisah.
Dan menjadi tukang masak.
Dari kaca spion, aku melirik dengan ekor mata, Aditya mencuri pandang kepadaku beberapa kali, tapi aku acuh, seolah tak menyadari semua.
Ternyata lumayan jauh perjalanan ini, dan lokasi bascamp berada ditengah hutan.
"Iiihh, mengerikan sebetulnya, tapi mau gimana lagi. Ini kehendak Ibuku," bathinku meracau tidak karuan.
Hingga tak terasa, kami telah sampai pada tujuan.
**
Akhirnya aku berpisah dengan keluargaku untuk bekerja," lirihku.
Entah apa yang ada dibenak Ibu, hingga begitu tega menyuruhku bekerja.
Setelah sampai, aku turun dari mobil hellen dan aku mengedarkan pandangan.
Terasa sunyi dan asing bagiku.
"Ayo Dek, itu campnya," Ia menunjukkan sebuah bangunan dan juga paramarta, sejenis rumah yang lengkap fasilitas didalamnya, juga bisa dipindahkan.
Aku mengikuti Aditya, dan duduk disebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.
Aditya masuk kedalam bangunan, mungkin untuk memberitau bahwa aku sudah sampai.
Tak lama kemudian, ia pun keluar bersama seorang laki-laki paruh baya. Mungkin beliau bosnya." gumamku.
Dan dari setiap mess yang kulihat semua penghuninya laki-laki..
Yaa Allah laki-laki semua," lirihku.
"Eeh sudah datang," Terdengar suara lembut Bapak yang baru tiba dan menghampiriku.
"i-iya pak," sahutku sembari
menunduk takut dan malu.
Maklum baru kenal, jadi senjata malu-malunya keluar, hehehe.
Rupanya Bapak itu tahu aku takut, ia tersenyum kepadaku.
"Jangan takut, nama saya Hadi, saya manager disini," ia memperkenalkan diri.
"Oh iya siapa namanya?" tanyanya lembut.
"Saya,"
Aku mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Lita Pak nama saya," sambungku kemudian.
"Hmm nama yang bagus dan orangnya ayu..," canda Pak Hadi seraya tersenyum tulus.
"Ah Bapak bisa aja, namanya juga perempuan Pak ya pasti ayu. Kalo laki baru ganteng," sahutku membalas ucapan Pak Hadi.
"Bener juga ya," Pak Hadi tersenyum mendengar ucapanku.
Kami bercerita panjang lebar bersama Pak bos, tentang proyek ini, tentang asal Beliau. Ternyata Beliau berasal dari Sumatera Utara.
"Lita, Bapak mau jemput Ibu dulu, kunci pintunya ya?" Bapak berpesan kapadaku.
"Iya Pak," aku beranjak masuk dan mengunci pintu seperti pesan beliau.
Setelah Bapak pergi, aku merebahkan diri sejenak.
Sore ini Ibu, Istri Pak Hadi datang, sepertinya aku tidak terlalu takut karna ada temen perempuan meski itu Istri bos," gumamku seorang diri.
***
Aku kedapur melihat stok makanan dan bahan-bahan untuk dimasak, tapi sepertinya stok sudah pada habis.
Hanya ada satu kaleng sarden ABC. Segera kusiapkan alat tempur juga bumbu untuk mengekskusi sarden.
Setelah siap, kusimpan dahulu karena nasi belum matang, aku menyiapkan piring dan semua kebutuhan makan, sambil menunggu nasi..
Tok!
tok!
tok!
Daun pintu diketuk dari luar.
Aku bergegas membukanya, sayup-sayup terdengar suara laki-laki dan perempuan.
Ternyata Istri bos yang datang.
Mereka berdiri diambang pintu dan mengulas senyum ketika melihatku.
Aku membalas senyum mereka dengan canggung.
Setelah berkenalan mereka pamit untuk memasuki kamar mereka berdua.
Aku pun demikian sambil merebahkan diri, aku menilai sikap dan penampilan Ibu bos.
'Cantik rupanya Istri bos, dan masih muda," gumamku seorang diri.
???
Hari menjelang malam, aku menyusun menu makan malam.
Ibu mencicipi masakanku.
Ia mengecap sesaat. "Heem, lumayan," pujinya.
"Usia kamu berapa Lit?" sekilas Ibu memperhatikanku.
"Empat belas Bu," aku menjawab dengan jujur.
"Oh, pantes, masih imut," selorohnya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Lita baru saja berhenti dari sekolah Bu," sahut Bapak.
"Oh kenapa kok berhenti," Ibu menoleh sekilas kepadaku dan Bapak.
"Sakit Bu, tiga bulan, saat orang tuaku datang kesekolah, namaku telah dicoret oleh pihak sekolah," mereka berdua mengangguk tanda mengerti.
Lalu suasana hening dan acara makan telah selesai.
"Lit, Ibu sama Bapak mau istirahat dulu ya?" ia memberikan satu plastik gorengan untukku.
"Iya Bu, terima kasih," aku menerima plastik dari Ibu, ia hanya mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah masuk kekamar mereka.
Aku termenung seorang diri. Membayangkan jika aku saat ini masih duduk dibangku sekolah, pasti akan sangat menyenangkan.
Aku tersenyum seorang diri, kala teringat kejadian-kejadian lucu jika harus mempraktekan tugas.
Tugas tentang iklan atau reklame yang sering ditayangkan ditelevisi.
FLASHBACK ON
"Lita maju," ujar Ibu guru yang bernama Candra. Lita dengan santai maju kedepan kelas, ia membawakan iklan yang saat itu sedang buming, kalo istilah sekarang yaitu viral.
"Badan pegel linu, sering lemah letih lesu.
Kalo minum sendi badan sehat selalu.
Sendi jamu pegel linu, sendi jamu paling jitu," ujarku lantang didepan kelas, Ibu guru dan teman-teman satu kelas bertepuk tangan.
Aku kembali ketempat dudukku setelahselesai dengan tugasku.
"Kemudian Darman," Ibu guru memanggil temanku untuk giliran membawakan iklan.
"Nyamuuuk,"
"Hahahaha!"
Satu kelas tertawa dengan keras, hinggan kelas pun menjadi gaduh, bukan hanya teman-temanku, Ibu guru pun demikian.
"Sudah Anak-Anak, kita dengarkan dulu teman kalian membawakan iklan," teriak Ibu guru sambil mengetuk meja dengan perlahan dan suasana menjadi hening, hingga Darman melanjutkan iklannya.
Setelah selesai, suasana menjadi riuh kembali, memang Darman Anaknya humoris.
Aku tersenyum sendiri jika mengingat kenangan masa-masa sekolah.
FLASHBACK OFF
Aku menulis didiaryku, mencatat apa yang aku alami, agar kelak dapat k****a sebagai kenangan.
Sambil menunggu kantuk menyerang.
Malam ini, aku sendiri, jauh dari orang tua dan saudara. Aku merasa sebatang kara. Akhirnya aku pun terlelap.
Tak terasa dalam waktu sehari keadaan berubah, dan tanpa terasa air mataku kembali luruh mengenang semua perjalanan hidup ini.
Bersambung
Enggak kebayang nih Mak, masih usia 14 tahun, tapi di paksa jadi pembantu. Padahal cita2 nya setinggi langit.