BAB 4.

1511 Words
Hera mendapati Adrian di sana. Di dalam ruangan yang sama bersamanya. Hera tak menyangka dunia ini begitu sempit. Adrian tak mengatakan apapun, tapi wajahnya sudah jelas mengungkapan betapa kesal dan marahnya dia saat ini karena Hera melanggar apa yang Adrian larang tentang menghadiri pertemuan tersebut. Hera langsung membuang wajahnya dari sana, tatapan tajam Adrian sukses membuat Hera kelimpungan. Bagaimana bisa Adrian ada di sana. "Matilah aku"gumam Hera berbisik. Pasalnya ia sudah terlanjur berbohong pada Adrian, dan sekarang ia malah dipergoki sedang berada di sini. "Hera makanlah, kenapa kau malah diam"ucap Jessi, salah satu teman sma Hera, yang duduk di sebrang Hera tepat di samping kiri Elena. "I… iya"jawabnya dengan senyum kecut yang terdengar agak gugup. "Kau baik-baik saja ?"Melvin memberikan cemilan roti isi daging yang berbentuk medium pada Hera. “terima kasih"ucap Hera yang menerima uluran cemilan dari tangan Melvin. “sama-sama. Makanlah yang banyak”seru Melvin. "Siang semuanya" JEDERRRR........ Kilatan petir di siang hari, Hera kenal suara ini, suara seorang makhluk menyeramkan yang baru saja memberikannya tatapan membunuh. "Siapa dia?"tanya Janet, Hera mendongkak secara perlahan. Mata Adrian sudah menatapnya dengan tampang datar, berdiri tepat di sebelahnya. "perkenalkan. Aku suami Hera, boleh aku bergabung"Hera terkejut,  kedua matanya sukses melebar karena terkejut. "Tentu saja boleh, ya tuhan Hera kenapa kau diam saja"ucap teman Hera lainnya heboh. Adrian meraih bangku kosong yang berada di belakangnya, lalu mendudukan dirinya tepat di sebelah kiri Hera. Hera menoleh pada Adrian, pria itu menatapnya datar lalu tersenyum, senyuman yang lebih mirip seringaian kejam bagi Hera. "Kalian serasi sekali ya tuhan. Tunggu, kau Adrian yang itu. Si pengusaha muda kaya raya itu”ucap Sesilia heboh. “anda benar sekali”jawab Adrian. Hera melirik Adrian sinis. Begitulah jika pria itu menjadi pusat perhatian. Ia akan terlihat angkuh dan sedikit sombong, tercetak jelas di wajahnya. Membuat Hera seakan ingin menyentil keningnya. "Jadi kau adalah suaminya"Adrian menoleh pada Melvin, pria itu menatapnya dengan tampang tidak suka. "Iya.. Salam kenal"jawab Adrian sekenanya. "Tidak salah pilihan Hera"puji Jessi. Jessi tak menyangka temannya itu akan memiliki seorang suami seperti Adrian. "Hera memang tidak pernah salah dalam memilih seorang pria yang dikencaninya"seru Janet. "Istriku sering berkencan?"potong Adrian pada dua orang yang duduk di sebrangnya. Hera merasa tak percaya dengan apa yang Janet katakan aia menatap Janet protes. "Siapa yang suka berkencan,  jangan mengatakan gosip yang tidak benar"potong Hera cepat. Ia melempar tatapan tajam pada Janet, seolah berkata jaga mulutmu. Apa kau sudah gila, berkata pada suamiku. "Seluruh sekolah tahu kalau kau dan Felix memiliki hubungan istimewa dulu, si kapten basket sekolah"sambung Sesilia. Hhera memutar kedua bola matanya malas. Kini ia benar-benar merasa khawatir. Adrian pasti akan menelannya bulat-bulat setelah ini."Dan ada yang bilang kalian berdua sempat berkencan dulu,  kau... Dan Melvin"lanjut Sesilia. "Aku dan Melvin tidak berkencan"gumam Hera dengan suara kecil, merasa tidak enak dengan Melvin yang berada di sebelahnya. "Hampir,.. Dulu kalau saja aku lebih lama di SMA, mungkin saja aku dan Hera akan berkencan"ucapan Melvin membuat Hera hampir saja tersedak. Bahkan semua temannya menatap Melvin terkejut. Elena menatap Melvin dan Adrian secara bergantian. "Apa?!"kejutan, hal ini membuat Hera menatap Melvin tidak percaya,  pria itu malah tersenyum manis, bahkan teman-teman Hera juga sedikit terkejut, tapi mata mereka langsung mengarah pada Adrian yang hanya duduk terdiam di tempatnya. "Kalian tidak berjodoh, takdir memilihku sebagai suaminya"ucapan Adrian membuat Hera menoleh padanya. Wajah Hera memerah, benar-benar merah, matanya menatap takut pada Adrian yang berada di sebelahnya, pria itu terlihat diam dengan tampang datarnya. "Benar kan sayang ?"Adrian mengedipkan sebelah matanya pada Hera, jantung Hera berdesir gugup. Namun ada sedikit ketakutan juga di sana. "Oh hebat, mereka baru saja melempar ku dengan batu, teganya kalian membuka rahasiaku di depan Suamiku,  Kejaaammmm"batin Hera frustasi. ** "Adrian.. " "Lakukan" "Tapi... " "cepatlah" "Hah!" "Suatu ketika ada tiga beruang" "yang tinggal di sebuah gubuk" "Dadfy beruang,  mam beruang,  bayi beruang" "Daddy beruang gemuk dan tembem" "Mam beruang ramping dan tinggi" "Bayi beruang paling imut dari semuanya" "itu karena dia sangat kecil" "MAM SANGAT HEBATTTT"teriak Allea dengan suara cerianya, sang Putri yang berumur 3 tahun, terlihat begitu ceria saat menyaksikan sang mam yang menyanyi dengan tarian. Hukuman dari sang suami karena melanggar perintahnya. Tidak berat, hanya saja hal ini menjadi begitu berat ketika kau harus melakukannya, di depan Elena,  mam,  nenek Adrian,  Elena mam,  dan dua orang sahabat Adrian . Seharusnya sekalian saja satu warga Amerika di undangnya. Prokk.. Prokk prokk. "Hera bersiaplah, ku antar kau ke America Got Talent,  ckckck"celetuk Evan yang membuat tawa mereka meledak "s****n kau Evan"balas Hera. "Satu kali lagi"ucap Adrian yang membuat Hera menatapnya tidak percaya. "aku tidak mau Adrian. Maafkan aku kenapa kau begitu tega padaku"Hera menatap memelas pada Adrian. "Lakukan"seru Adrian memerintah. "Ya ampun! Adriannnn. Kau tega sekali pada istrimu ini"mohon Hera memelas. "Semangat Hera ckckck"ucap Deren nampak senang di atas penderitaan Hera. Hera begitu frustasi,  kalau di depan Adrian atau Allea,  Hera bersedia untuk melakukannya dengan senang hati tapi. Di depan mertua, dan nenek,  ah... Rasanya ini membuat Hera frustasi. "Ini membuatku gila" ** Sesekali mata Hera melirik pada kedua orang yang sedang sibuk memainkan sebuah piano di ruang keluarga. Bibir Hera tersenyum lebar, rasanya begitu tersentuh ketika melihat keakraban Adrian dan Allea. Jika kedua nya terlihat melakukan sesuatu bersama-sama. Hera baru saja selesai mencuci piring, ia mengelap tangannya pada sebuah lap di samping rak. Lalu kakinya melangkah menghampiri kedua orang itu, yang terlihat begitu serius. Aku bersandar pada samping piano di sebelah Adrian, pria itu terlihat begitu mempesona, memainkan piano dengan begitu karismatik yang membuat wanita manapun akan jatuh cinta padanya. Khususnya Hera, Hera benar-benar jatuh terpesona pada Adrian Refano. Pria yang membuatnya tak bisa berpaling menatap ke pria lain selain dirinya. "Sudah, kau bisa" Allea tak mau kalah,  tangan kecilnya dengan lihai mencoba menekan tuts-tuts yang membuat sebuah alunan nada. Hera bersyukur, setidaknya Allea menurunkan bakat dari Adrian yang bisa mainkan sebuah alat musik. Piano khususnya, sementara Hera,  jangan tanya ! Permainan piano Hera hanya membuat telinga kalian tuli,  itu yang Adrian katakan padanya. Jahat, sedih sekali semua itu adalah kenyataan. "Allea sangat pintar,  mainkan lagu untuk momony"rengek Hera padanya. "Singkirkan tanganmu"Adrian menepis tangan Hera, wajahnya terlihat tidak suka saat Hera mencoba menekan tuts pianonya. "Pelit sekali"ucap Hera, apa dia masih marah?? Allea mencoba menekan tuts, ahh.. Putriku hebat, Hera merasa ia benar-benar bangga padanya. "Luar biasa.... Putri mommy luar biasa"puji Hera saat Allea selesai memainkan pianonya. "Hoammm... "Mata Allea menyipit, dengan mulutnya yang menguap. "Putri daddy mengantuk, saatnya tidur"Adrian mengambil alih Allea,  menggendongnya dan membawanya ke lantai atas. Menuju ke kamar Allea. Hera menutup pianonya, lalu mengekor Adrian yang berjalan menuju kamar Allea, yang tidak jauh dari kamar Hera dan Adrian. Adrian menaruh Allea di atas tempat tidur,  lagi-lagi membuat Hera terpesona dengan sikap seorang ayah yang Adrian tunjukan. Adrian menarik selimut untuk Allea,  mengusap kepala gadis kecil itu dan meninggalkan nya, setelah memberikan sebuah kecupan selamat malam dikeningnya. Hera mengikutinya yang juga memberikan ciuman selamat malam,  putri kecilnya itu begitu menggemaskan saat sedang tertidur. Hera menoleh ke belakang saat pintu kamar Allea tertutup,  pria itu meninggalkan nya di sini, begitu saja. Adrian benar-benar marah pada Hera. Hera keluar dari kamar Allea dan berjalan menuju kamar mereka. Dan Adrian ada di sana, berdiri di balkon kamar, membelakangi Hera. Hera berjalan menghampirinya, dan memeluk Adrian dari belakang. "Di sini dingin, kau belum mau tidur humm ?"Tanya Hera. "......." "Kau masih marah padaku? "Tanya Hera lagi. Tetapi Adrian tidak menjawabnya. Pria itu hanya diam tanpa mengatakan apapun pada Hera. "........" "Hah! Aku harus bagaimana sekarang ?"desah Hera frustasi karena Adrian hanya diam tanpa membalas satupun pertanyaannya. "Hanya perlu mengarahkan kedua matamu, hatimu dan ragamu padaku. Jangan beralih untuk menatap ke arah lain"Adrian kembalikan tubuhnya menjadi menghadap Hera. "Lain kali dengarkan semua perintahku, jangan lakukan hal yang tidak ku perbolehkan kau mengerti!"Adrian menaruh kedua tangannya di pinggang Hera. "Kau takut aku selingkuh ya"goda Hera seraya menatap Adrian dengan kedua mata menyipit.. Adrian memutar kedua bole matanya malas. "Dasar kau ini... Iya.. Kalau kau pergi dan meninggalkan ku, siapa yang akan menjaga Allea saat aku bekerja" "Hei"protesnya saat tangan Hera mencubit pinggang Adrian kesal. "Pria menyebalkan,  kenapa sih aku bisa mencintaimu,  sepertinya ada yang salah denganku"ucap Hera terheran. Pasalnya ia kerap kali membuat cerita romance dimana sang pria sangat romantic, namun ia malah mendapatkan suami yang sangat jauh dari kata-kata romantic. Itulah sebabnya, Hera rasa ada yang salah dengannya. "Ckckckck"Adrian terkekeh, pria ini benar-benar suka sekali membuat Hera kesal. "Jangan membuatku kesal Adrian, aku lelah memarahimu"ucap Hera memberenggut membuat Adrian mencubit pipinya gemas. "Salah sendiri, kenapa begitu menggemaskan saat sedang marah"Adrian tersenyum begitu manis pada. Hera terpengangah. Hera sangat menyukai senyuman Adrian garis keras. Adrian jarang menunjukan senyumnya pada orang lain. Hanya peda Hera dan Allea. Pria itu selalu bersikap manis.   Pria cool yang memiliki tatapan tajam yang mematikan, tapi begitu manis saat tersenyum. Boleh Hera menciumnya saat ini, Adrian benar-benar membuat Hera terpesona. KISS~ Tiba-tiba Hera mencium Adrian, terserah dengan gengsi seorang wanita. Hera mencintainya, sangat. Hera benar-benar sangat mencintai suami yang menyebalkan dari putrinya itu. Hera melingkarkan kedua tangannya di leher Adrian. Sementara Adrian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hera. “aku mencintaimu Adrian”   “aku rasa aku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD