BAB 5.

1542 Words
  Seattle, 19.00. "Halo" "Kau dimana?" "Aku di rumahmu, mam menyuruhku membawa Allea kemari" "Mam meminta Allea menginap,  kau dimana?" "Aku masih di kantor" "Sebentar lagi aku pulang, kau mau ku jemput" "Tidak usah, aku pulang saja sendiri, kita bertemu di rumah" "Baiklah,  hati-hati di jalan" "Iya,  kau juga.. Halo" Pip.!! Hera mematikan ponselnya, memasukannya pada saku coat coklat yang dipakainya. Allea sedang menggambar bersama dengan ibu Adrian di tuang tengah. Hera menghampiri keduanya. Dan mengambil tempat di sisi kiri Allea, karena ibu Adrian berada di sisi kanan Allea. "Allea jangan nakal, mam pulang dulu ya"ucap Hera pada Allea. Allea mengangguk. "Iya.. Hati-hati mam"ucap Allea seraya melambaikan tangannya pada Hera yang terlihat asik menggambar. "Nenek aku pamit, Mam aku pulang dulu"pamit Hera. "Hati-hati di jalan, kau sungguh tidak mau minta Adrian untuk menjemputmu"seru mam berkata. Pasalnya matahari sudah terbenam, dan langit mulai menggelap. "Tidak.. Aku baik-baik saja, aku bisa pulang sendiri, aku pamit mam, nenek aku pergi. Allea jangan nakal"ucap Hera lagi sebelum pergi. "mommy sangat cerewet. Allea tidak akan nakal"ucap Allea memberenggut membuat Hera mencubit pipinya gemas. ** 22.00 pm. Adrian sudah sampai di rumah, waktu bahkan sudah menunjukan pukul 10 malam. Hujan deras mengguyur kota Seattle, suara gemuruh petir sesekali menghiasi langit malam. Matanya menatap bingung pada rumah miliknya. Lampu masih redup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. "Hera belum pulang?"gumam Adrian kebingungan. Pasalnya sudah cukup lama setelah Hera mengatakan akan pulang, tapi wanita itu tidak terlihat berada di dalam rumah. Adrian memasuki rumah miliknya. Dan benar saja, sendal rumah Hera masih berada di dalam rak, wanita benar-benar belum pulang. Karena tentunya sandal itu akan dipakai Hera jika wanita itu ada di dalam sana. Adrian menyalakan semua lampu rumahnya, lalu mendudukan dirinya di atas sofa panjang berwarna putih berbulu halus yang begitu nyaman di ruang tengah. Adrian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Tangannya mulai sibuk bermain di atas layar ponsel miliknya. "nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi"Sebuah suara operator saat dirinya mencoba untuk menghubungi Hera. Beberapa kali Adrian kembali mencoba untuk menghubunginya, tapi lagi-lagi suara tersebut yang menganggapi panggilannya. "Aishh yang benar saja dimana dia ?!!!"gerutu Adrian khawatir. Adrian beranjak dari duduknya, keluar dari rumah menuju mobil miliknya. Adrian mencoba menghubungi ibunya, setidaknya mencoba memastikan keberadaan Hera sebelum pergi mencarinya.   "Adrian ada apa ?" "Mam, apa Hera ada di sana?" "Hera belum sampai?  Dia sudah pergi sejak jam 7 malam" "Apa!"ucap Adrian terkejut. “Apa Hera belum pulang Adrian ? Pip. Lagi-lagi Adrian mencoba menghubungi ponsel Hera, namun lagi-lagi juga suara operator itu yang menjawab. "Dimana kau sebenarnya? Apa ada sesuatu yang telah terjadi?"gerutu Adrian di serang rasa khawatir. Adrian mulai melajukan kembali mobilnya pergi, untuk mencari keberadaan Hera. ** Ceklek/// Hera membuka pintu rumahnya. "Eoh tidak dikunci"ucapnya terkejut, mendapati rumahnya yang tidak terkunci, hanya tertutup rapat. Semua lampu sudah menyala, Hera dibuat bingung karenanya. "Apa ada pencuri, tapi tidak mungkin, pencuri bodoh mana yang menyalakan semua lampu rumah sang korban" Hera melangkah masuk, berjalan menuju dapur rumahnya untuk menaruh makan malam yang dibelinya tadi, sempat mampir di sebuah rumah makan cepat saji, dan tak sengaja bertemu denan teman SMA, hingga akhirnya terjebak dalam nostalgia masa SMA. Maklum wanita, kalau sudah bertemu dengan pembicara asik,  bermaksud menghabiskan waktu 5 menit malah menjadi 5 jam. (Ada yang begitu?!  Banyak. ) “ADRIAN”teriak Hera memanggil nama Adrian. Tapi tidak ada sahutan darinya. Hera sudah melihat sepatu Adrian di rak, suaminya itu memang sudah pulang. Kemungkinan ia keluar lagi dan pergi ke suatu tempat. Hera mencoba mencari keberadaan suaminya itu di dalam rumahnya. Bahkan ia pergi menuju ke kamarnya, tapi Adrian tidak ada di sana. Hera mengganti pakaiannya, lalu kemudian mengambil satu kotak makan malamnya yang ia beli dua untuk Adrian juga. Hera mulai memakan makan malamnya, seraya menatap TV plasma yang menayangkan sebuah drama telenovela. Tapi perasaannya begitu resah, waktu sudah menujukan pukul 22.45, sosok Adrian belum juga datang. Berkali-kali dia melirik jam yang berada di sebelah kanan dari tempatnya duduk yang bertengger manis pada dinding rumahnya. Hera meraih ponsel yang berada di dalam tasnya, yang masih berada di atas sofa, tak jauh dari tempatnya duduk. "Ya ampun!"ucapnya terkejut saat mendapati ponsel miliknya mati total, Hera lupa kalau ponselnya lowbet, pulang sejak tadi tapi belum juga di charger olehnya. "wanita bodoh, kenapa aku bisa melupakan benda penting ini"Hera bergegas mencharger ponsel miliknya, lalu menyalakan ponselnya. Panggilan 31, message 15. "Ya tuhan... Bodohnya aku"Hera langsung melakukan panggilan pada Adrian, tapi pria itu tak kunjung mengangkat ponselnya. CEKLEK// Hera tersentak, suara pintu rumahnya terbuka, dan hanya Adrian setelah dirinya yang tahu password rumah ini. Hera beranjak dari sofa, berlari dengan cepat ke arah pintu. "Adrian"panggilnya saat mendapati Adrian yang berada di ambang pintu rumahnya. Hera terkejut, Adrian tidak dalam keadaan baik, pria itu terlihat begitu pucat, tubuhnya basah kuyup, bahkan rambutnya masih meneteskan beberapa tetes air. Hera mendekati Adrian yang masih berdiri di dekat pintu. Pria itu terlihat begitu lemas. "Kau baik-baik saja?"tanya Adrian dengan suara yang begitu lemah, wajahnya terlihat pucat dan matanya yang begitu sayu. "Adrian ma...,  maafkan aku" BRUKK// "Adrian” ** Dengan perjuangan yang cukup besar, Hera membopong tubuh Adrian menuju kamar mereka, menidurkan tubuh pria itu yang saat ini terlihat tidak sadarkan diri. Hera menjadi panik. Hera mengambil handuk kering dan membasuh rambut Adrian. "Bagaimana ini"gumam Hera begitu panik. Hera beralih mengambil beberapa pakaian Adrian, lalu menaruhnya di samping tubuh pria itu. Hera membuka dasi Adrian. "Ya tuhan! Aku harus bagaimana sekarang" Hera menatap kemeja Adrian yang basah dengan begitu frustasi. Ia memang sering tidur dengan Adrian, tapi Hera tak pernah sefrontal ini untuk membuka pakaian Adrian, ia tetap saja malu. "Haruskah?" Dengan rasa gugup yang begitu tinggi, dengan perlahan tangannya meraih kancing baju Adrian, membukanya dengan cepat, lalu menggantinya dengan baju kaus yang kering. "Lalu sekarang aku harus bagaimana? "gerutunya, matanya menatap celana Adrian yang basah. "Okk cukup, kalau yang itu aku tidak bisa" Hera mengambil baju basah Adrian, menaruhnya di tempat cuci lantai bawah. Lalu mulai memasak air panas. Setelah panas, Hera membawa sebaskom air dengan kain kering ke dalam kamar nya. "Ya ampun! Kau sudah sadar " Hera terkejut saat Adrian sudah terduduk di pinggir kasur. Hera melirik celana Adrian, pria itu sudah menggantinya. Dalam diam dia bernafas lega. Hera tidak bisa melakukannya. "berbaringlah, tubuhmu demam"ucap Hera seraya memeluk kepala Adrian,  membuat pria itu bersandar pada perutnya, tangannya meraba kening Adrian. Hangat. "Kau demam, kau lapar?  Kau mau ku masakan bubur"Adrian menggeleng lemah, sebagai jawaban atas pertanyaan Hera. Tubuhnya begitu lemah, Adrian hanya ingin berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya, "Aku mau tidur, temani aku tidur" ** Hera dan Adrian kini berbaring di atas kasur mereka, Adrian memeluk Hera begitu eratnya seraya memejamkan mata. Hera dapat mendengar jelas debaran jantung Adrian. "Apa terjadi sesuatu padamu? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa kau susah sekali untuk dihubungi?"tanya Adrian, masih dengan memejamkan matanya. Hera mengeratkan pelukannya pada Adrian. Tubuh Adrian terasa dingin. Hera merasa bersalah, Adrian sakit semua ini karena ulahnya. "Maafkan aku, tadi aku membeli makan malam dulu, lalu tak sengaja bertemu dengan teman SMA, kami berbicara cukup banyak, ponselku lowbet, jadi tidak tahu kalau kau menghubungiku, dan aku tidak bisa menghubungimu" "Lain kali cobalah untuk menghubungiku saat kau akan pulang terlambat, kau mengerti. Setidaknya beritahu aku dimana kau. Agar aku bisa menjemputmu. Ini sudah malam, jika sesuatu terjadi.. huh!" “aku tidak mau membayangkannya”desah Adrian frustasi. "maafkan aku"ucap Hera menyesal. Hera semakin memeluk Adrian dengan erat, tidak peduli kalau akan terbagi demam karena gol. Darah mereka yang sama, menurutnya Adrian harus sehat, tak masalah jika dirinya yang demam. “kau pergi kamana ? aku pikir kau di rumah karena lampu sudah menyala”ucap Hyumi. “aku melihat lampu masih padam semua, dan kau belum pulang. Ini sudah begitu larut, kau bahkan pamit denganku sekitar jam 7. Kau pikir apa yang ada di dalam pikiranku” “aku berkeliling untuk mencarimu. Kau tahu betapa paniknya aku” Hera mendongak, untuk menatap Adrian. Suaminya itu masih memejamkan mata. Hera menyentuh pipi Adrian. Mengusapnya lembut. Pipinya terasa panas. Adrian demam. Ketika Adrian membuka mata, mereka saling bertatapan. “maafkan aku” Adrian menghela nafas lelah. Lalu mengangguk lemah. “mau bagaimana lagi. Rasanya aku ingin marah padamu, tapi melihat kau baik-baik saja setelah berbagai pikiran buruk berputar di kepalaku karena tidak ada kabar darimu. Seketika lenyap sudah” “jangan membuatku khawatir” "Aku mencintaimu"ucap Hera mencium pipi Adrian sebelum akhirnya kembali memeluk pria itu dengan erat. Adrian membalas pelukan Hera, mengusap punggungnya dengan gerakan lembut. Hera bangkit menjadi terduduk, lalu mengusap kening Adrian. “Adrian kau harus makan, atau kau akan sakit”seru Hera. Adrian menggelengkan kepalanya, menolak. “tidak. Kau harus makan. Aku akan ambil makanan dan obat, agar kau tidak terkena demam” Hera beringsut turun dari tempat tidur. Pergi menuju lantai bawah untuk mengambil makanan yang ia beli ketika pulang tadi. Sebuah makanan cina. Ketika Hera kembali Adrian bergerak mendudukan dirinya dan menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang tempat tidur. Adrian menepuk sisi ranjang nya agar Hera bisa duduk di sebelahnya. Hera mengambil tempat di sisi Adrian lalu memberikan makanan tersebut pada Adrian. “apa kau akan membiarkan suamimu ini makan sendirian, setelah membuatnya demam seperti ini”ucapan Adrian membuat Hera memberenggut, Adrian benar-benar manja pikirnya. Pada akhirnya Hera menyuapi Adrian, hingga makanannya habis dan memberikannya pil penurun demam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD