"Daddy bangun... bangun... cepatlah bangun"
Sang Putri kecilnya itu terlihat begitu ribut membangunkan sang ayah yang masih tertidur di atas ranjang dengan begitu lelap.
"Daddy, ini sudah jam 11, daddy tidul mulu nih... "sungut Allea yang masih mencoba untuk membangunkan Adrian.
"Allea, daddy sedang demam, daddy harus istirahat"ucap Adrian masih dengan memejamkan mata, suaranya terdengar begitu serak.
"Benalkah?"pertanyaan Allea membuat Adrian membuka matanya dan menemukan putrinya tengha terduduk tepat di sampingnya.
"Iya.. Coba sentuh kening daddy"Adrian memajukan wajahnya ke arah sang Putri, gadis kecil itu menyentuh kening daddynya.
"Panaskan? "Tanya Adrian lagi.
"tidak.. "Ucap Allea dengan wajahnya datar.
"Aish.. Putri daddy ini, daddy demam sungguh.. Uhukk.. Uhukk.. Akh., daddy batuk, daddy harus istirahat"
Adrian kembali berbaring dan memejamkan matanya, putrinya hanya bisa menatap sang ayah dengan bingung. Allea mengembungkan pipinya gemas. Ia merasa kesal dengan Adrian yang kembali tidur dan bukannya bangun seperti apa yang ia minta.
"Kalau tidak bangun, mam akan malah"ucap Allea lagi.
"Bilang pada mam, daddy demam harus banyak istirahat"Adrian menggeliat, meurbah posisinya menjadi tengkurap.
"Daddy..... "Teriak Allea, bahkan gadis kecil itu tak henti-hentinya menarik-narik tangan Adrian ,tetapi pria itu malah menenggelamkan wajahnya pada bantal.
"ARGHHHH... "teriak Adrian kencang.
Adrian langsung bangkit menjadi terduduk, tangannya mengusap kaki kanannya yang begitu kesakitan. Rasa perih itu terasa membakar kakinya. Adrian mengusap kakinya yang terasa sakit.
"Hahahahahah... "tawa Allea meledak. Adrian menatap putrinya protes, tapi bocah perempuan itu terlihat begitu senang melihat Adrian yang kesakitan.
“Allea"gerutu Adrian pada Putri kecilnya dengan mimik wajah kesakitan.
Allea terlihat tertawa geli saat melihat Adrian yang merintih kesakitan, gadis kecil itu dengan senang tertawa seraya menunjukan hasil tangkapannya.
Yaitu sebuah bulu kaki Adrian yang berada di tangan kanannya dengan gelak tawa.
"Pasti mam yang mengajari ya"tuduh Adrian, lagi-lagi Allea tertawa. “Huaa... Rasakan ini"
Adrian menarik Allea, menggelitik tubuh gadis kecil itu. Membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Rasakan ini, Putri daddy"
"Hahahahaha... jangan.. Sudah, maafkan aku, maafkan aku,.. Akh... Hahahahaha"
Adrian tak henti-hentinya menggelitik tubuh sang Putri kecilnya, tawanya membuat kebahagiaan sendiri bagi Adrian. Membuat Adrian ikut tertawa senang karenanya.
"ALLEA... DADDY SUDAH BANGUN?"
Keduanya terhenti, Allea bangkit turun dari kasur Adrian dan berjalan menuju ambang pintu kamar.
"IYA MAM"teriaknya. Lalu tubuhnya berbalik menghadap Adrian, yang masih terduduk di atas tempat tidur.
"Daddy mandi, tubuh daddy bau"ucap Allea meledek Adrian seraya mengerutkan hidungnya.
"Apa! "Protes Adrian. Kedua matanya membesar, menatap putrinya tak percaya.
"Hahhhaha.... Wuekk"Allea meledek Adrian, memeletkan lidahnya lalu berlari kabur ke lantai bawah. Meninggalkan Adrian yang terkekeh di tempatnya terduduk.
Adrian hanya bisa menggelengkan kepelanya keheranan. Putrinya itu mamang sangat super aktif. Sifat Hera sangat menurun pada Allea. Putrinya itu benar-benar jahil seperti Hera.
**
Setelah membersihkan diri, Adrian turun ke bawah, mendapati Hera yang tengah bergulat dengan masakan. Adrian berjalan menghampiri Hera, wanita itu berdiri membelakanginya, terlihat sibuk dengan masakannya.
Adrian memperhatikan Hera, lalu menghampirinya dan memeluk tubuh Hera dari belakang, wanita itu terlonjak kaget, terlihat dari tubuhnya yang tersentak kaget karena kehadiran Adrian yang begitu tiba-tiba.
"Adrian, kau mengejutkanku"protes Hera.
"Kau masak apa –humm ?"tanyanya seraya mencium curuk leher Hera sebelum menaruh dagunya di atas bahu Hera.
"Lihat saja nanti, ini resep baru dari mam"
"Menjauh dariku, aku sedang memasak"perintah Hera, tapi tidak di gubris Adrian.
"Aku mau menagih jatah pagi ku sebagai seorang suami"
"Jatah apa huh! Jangan ganggu aku, lagi pula jangan begini, ada mam dan bagaiman kalau Allea melihat"
"Mereka tidak ada,.. Hanya sebentar, morning kiss ,kenapa kau suka sekali lupa"rengeknya dengan wajah berpura-pura kesal. Hera hanya bisa menggelengkan kepalanya terheran. Kadang-kadang sifat kekanakan Adrian muncul dan itu sangatlah menyebalkan karena begitu menganggu.
Adrian bukanlah pria dimana jika di larang untuk melakukan sesuatu maka ia akan menurut untuk tidak melakukannya, atau berhenti melakukannya. Adrian sangatlah tidak bisa di larang, itulah kenapa Hera terkadang kesal pada Adrian.
"Menyingkirlah, kau tidak lihat aku sedang sibuk, jangan sampai sodetku yang memberikan morning kissnya, biarkan aku memasak dengan damai”
"Nyonya Refano sangat galak, seram sekali"gerutu Adrian masih dengan memeluk Hera tanpa sedikit pun melonggarkan pelukannya.
“Adrian cepat lepaskan aku. Kenapa kau tidak mau menurut”gerutu Hera.
“seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu”Ucapan Adrian membuat Hera mengulum senyum.
"Cepat duduk, atau lihat putrimu yang sedang bermain di halaman belakang bersama mam"seru Hera memerintah.
"Baiklah mam"ucap Adrian yang langsung melenggang pergi ke belakang rumah.
Hera terkekeh, sikap Adrian terkadang begitu menggemaskan dimatanya. Walau sebenarnya ia kerepotan juga, jika sifat kekanakan pria itu menyebalkan.
"Iya.. Mam, aku akan segera ke sana"
Hera menoleh mendapati sang ibu mertua yang terlihat baru saja menerima sebuah panggilan di ponselnya.
"Hera, maafkan aku,.. Sepertinya mam harus segera pulang, ada teman nenek yang mau datang jadi mam harus menyiapkan segala sesuatunya, kau tahu bagaimana nenek bukan"
"Iya mam.. Aku sangat paham bagaimana nenek"jawab Hera seraya terkekeh.
"Oh ya.. Mam, bawa saja ini, aku masak banyak dan sudah matang"
"Baiklah"
Hera menyiapkan makanan yang akan dibawa mam, dan menyiapkan untuk makan siang mereka. Ibu Adrian pamit pulang, sementara ketiganya menghabiskan makan siang bersama.
Hingga akhirnya Hera dan Allea berakhir dengan duduk bersandar di jendela kaca, Hera tengah asik mengajarkan nama-nama binatang dalam bahasa inggris pada Allea, bocah perempuan itu terlihat begitu antusias dengan pelajaran private yang dilakukan Hera padanya.
Adrian ikut duduk bersandar di samping Allea, memperhatikan kedua orang itu yang terlihat asik dengan buku mereka.
"Sedang membaca apa-hum?"Tanya Adrian lalu menaruh kepalanya di atas kepala sang putri.
"Daddy, belat"protes Allea yang merasa tidak nyaman dengan tingkah jahil yang Adrian buat. Pria itu malah terkekeh, bocah perempuan itu terlihat begitu imut saat sedang kesal.
"Jangan ganggu putrimu Adrian"ancam Hera, yang malah membuat Adrian terkekeh.
Bukan Adrian namanya ,kalau sekali dibilang maka pria itu akan menurut. Dengan tangan jahilnya, pria itu mencolek pinggang sang putri kecilnya. Lagi-lagi, hingga berkali-kali.
"Daddy.... "Protes Allea yang merasa kesal dengan tingkah jahil Adrian yang benar-benar menganggunya.
"jangan ganggu putrimu"ancam Hera dengan melototkan matanya pada Adrian, yang malah membuat pria itu terkekeh geli.
Menurut Adrian keduanya begitu menggemaskan saat sedang kesal, dan itu malah membuatnya makin ingin menjahilinya.
Lagi-lagi tangan jahil Adrian berulah, bukan hanya Allea, Adrian juga melakukannya pada Hera, dan pinggang adalah tempat sensitifnya, bagaikan di sengat listrik, hal itu membuat Hera terlonjak kaget.
"HEI"protes Hera dan Allea berbarengan.
"Allea ayo kelitiki daddy"
"Iya"
Keduanya langsung menggelitik Adrian, membuat pria itu kegelian karenanya.
"Rasakan ini"
**
Hera mengelus rambut Allea yang tertidur di dalam pelukannya, sementara Adrian, pria itu terduduk seraya bersandar disebelahnya dan memeluk Hera, membuat wanita itu bersandar padanya.
"Adrian"
"Humm... "
"Besok ada sosialisasi didaerah Phonix, aku boleh ikut kan? Kau sudah janji padaku, aku tidak perlu bekerja tapi boleh ikut dalam sosialisasi bukan"ucap Hera menagih apa yang Adrian sudah janjikan padanya. Adrian memang sudah berjanji akan menuruti apa yang Hera inginkan dengan bergabung dalam komunitas social.
"Haruskah?!!"Tanya Adrian tanpa minta. Jujur saja Adrian lebih senang jika Hera hanya di rumah menjaga putrinya dan menunggunya pulang kerja seperti aktifitas seorang ibu rumah tangga pada umumnya.
"Kau sudah janji. Kau ingat”ucap Hera mengingatkan Adrian lagi. Dengan apa yang dulu ia janjikan untuk menuruti Hera, membiarkan Hera mengikuti komunitas social.
Adrian menoleh pada Hera, wanita itu tengah menatapnya dengan penuh harap. "Kau janji ingat"ucap lagi mengingatkan.
"Baiklah,.. Tapi Allea bagaimana ?”Tanya Adrian, mengalah. Ia memang sudah berjanji untuk mengijinkan Hera ikut komunitas sosila sesekali.
"Gantian kau yang jaga dia, ajak saja dia ke kantor, Allea pasti senang. Aku kan tidak mungkin mengajaknya ke Phonix"
"Tapi... Kenapa harus aku, maslahnya membawa ke kantor, aku takut tidak bisa mengawasinya, akan ku titip pada mam"Adrian tidak bisa membayangkan jika ia membawa Allea ke kantornya. Ia pasti tidak bisa bekerja. Allea adalah anak yang superaktif. Sangat-sangat akitf. Dan Adrian yakin ia tidak akan bisa menjaga Allea dengan benar jika ia meninggalkan nya bekerja.
"Kau ini suka sekali merepotkan mam, jangan seperti itu, dia Putri yang penurut"
Adrian menghela nafasnya, mengalah. Adrian memang tidak bisa menolak perkataan Hera, apalagi jika istrinya itu menunjukan wajah memelasnya."Baiklah,.. Memangnya besok kau pergi jam berapa? "
"Aku pergi jam 07.00, setelah membereskan rumah, Allea dan kau, baru setela itu aku pergi"
"Hah! Aku tidak bisa menolak bukan, tidak ada gunanya kau meminta ijin padaku, ujung-ujungnya aku harus menuruti permintaanmu"ucapan Adrian membuat Hera terkekeh.
"Ckckck.. Setidaknya aku mengatakannya padamu, dari pada aku pergi diam-diam"ucapan Hera membuat Adrian menatap Hera dengan kedua mata menyipit.
"aku suka gagasan itu nyonya Refano. Kau memang harus selalu meinta ijin padaku dan bukannya pergi diam-diam dan membuatku kesal setengah mati karena harus mencari keberadaanmu yang tidak bisa diam dalam satu wilayah dengan cukup lama”
Hera memutar kedua bola matanya malas. Adrian itu suka berlebihan. Garis bawahi itu. Berlebihan, dan berlebihannya itu membuat Hera keheranan.
“ya. Sekarang aku sudah minta ijin bukan. Aku di ijinkan. Aku tidak sabar untuk besok. Ingat jaga putrimu. Jangan sampai ada lecet sedikitpun di tubuhnya. Luka goresan atau apapun itu”ucap Hera mengingatkan.
Hera sudah tahu bagaimana sikap putri mereka yang super aktif. Hera bahkan dapat membayangkan betapa repotnya Adrian besok. Hera rasa ia tak sabar akan mendengar cerita dari mulut Adrian bagaimana ia menjaga putrinya sehari saja.
“aku tidak akan membiarkan putriku terjatuh. Kau tenang saja. Jangan lupa mencharger ponselmu, awas kalau aku tidak bisa menghubungi ponselmu. Tidak ada komunitas lagi untuk selanjutnya”ancaman Adrian membuat Hera memberenggut.