BAB 7.

1518 Words
Refano Corp, 07.56 KST. Adrian berjalan dengan langkah tegap, sesekali kepalanya tertunduk, membalas sapaan hormat yang dilakukan para pegawainya di pagi hari, hanya saja pagi ini sedikit berbeda. Para pegawai tidak ada yang menyapanya dengan canggung, mereka semua tersenyum manis, benar-benar begitu manis. Namun Adrian tidak memusingkan hal itu, kakinya terus melangkah kedalam lift, untuk menuju ruangannya yang berada dilantai 7. TING. Suara pintu lift terbuka, Adrian keluar dari sana, berjalan menuju ruangan pribadinya. "Selamat Pagi presdir"Lagi-lagi Adrian hanya menundukan kepalanya sedikit saat seorang karyawan menyapanya, dan Adrian juga kembali tidak memusingkan karyawan tersebut yang tersenyum manis dihadapannya. "EVAN"teriak Adrian pada sekertarisnya itu. "eoh"bukannya balas menyapa, Evan malah terbengong di tempatnya berdiri, menatap kedatangan Adrian yang kini berjalan menghampirinya. Bahkan tangan Evan sampai terhenti, padahal dirinya sedang sibuk meneliti sebuah berkas penting di tangannya. "Jam berapa meeting kita di mulai?"Tanya Adrian pada Evan yang terbengong membuat Adrian memutar kedua bola matanya malas. “Evan kau mendengarku”Mata Evan mengerjap beberapa kali, menatap Adrian dengan rasa tidak percaya. "kau ..."ucap Evan keheranan. "sapa paman Evan"perintah Adrian pada putri kecilnya yang berdiri di sampingnya. "Selamat pagi paman Evan"sapa Allea melambaikan tangan kanannya sementara tangan kirinya memeluk boneka kelincinya, hal itu sukses membuat Evan terlihat gemas. Evan tersneyum dan sebelah tangannya mengusap kepala Allea dengan gemas. "Kau membawa Allea kemari, apa tidak salah? Kau keracunan sarapan ya?!"Tanya Evan keheranan, karena seumur-umur sejak Hera bayi Adrian tidak mau membawa Allea ke kantor. Ini adalah hari perdana dimana Adrian di repotkan oleh kehadiran Allea di kantornya. Adrian memutar kedua bola matanya malas, jujur saja. Dia juga tidak mau membawa Allea,.. hanya saja, istrinya itu mengomel untuk membawa dan menjaganya selagi dia tidak ada. "Hera sedang pergi, melakukan kebaktian sosial, jadi aku yang harus menjaga Allea hari ini"jelas Adrian membauat Evan membalas nya dengan ber oh ria. "kau tidak menaruhnya di rumah keluargamu ?" Adrian menghela nafasnya lelah. Adrian sendiri rasanya sangat ingin menitipkan Allea di sana, entah kenapa ia sendiri mengikuti pesan Hera untuk menjaga putri mereka. Seolah bukan Adrian yang biasanya. "tidak, Hera memarahiku, dia bilang kalau sampai aku menitipkannya dia akan murka dan aku...tidak boleh tidur di kamar. Dia bilang jangan terlalu merepotkan mam, kau tahu bagaimana Hera bukan” Evan terkekeh karenanya. Alasan itu cukup masuk di akal, walau sebenarnya itu bukanlah gaya Adrian yang sebenarnya. "ckckckckck...aku rasa aku begitu paham"ucap Evan. "jadi, jam berapa meetingnya?"Tanya Adrian emncoba untuk mengalihkan topic. Evan melirik jam yang berada di pergelangan tangan kirinya."20 menit lagi, kau mau membawa Allea ke ruang meeting?" ** Adrian memasuki ruang meeting, dengan sebelah tangannya yang menggenggam tangan Allea, putri kecilnya. Adrian duduk di tempatnya dengan Allea yang berada di sebelahnya. Semua mata tertuju pada mereka, namun Adrian tak menggubrisnya. "Allea jangan berisik ya”seru Adrian mengingatkan Allea. "iya daddy"jawabnya. Seraya menganggukan kepalanya. Evan terkekeh, memperhatikan kedua orang itu yang terlihat begitu lucu di matanya. Semua orang sudah masuk dan menempati kursi mereka. "okk...meeting kita mulai, matikan lampunya"ucap Adrian memerintah. KLIK/// "oh. Daddy, lampunya mati? Daddy belum bayal listlik"sahut Allea membuat karyawan yang ada diruangan itu menutup mulut mereka rapat-rapat. Menahan tawa. "sudah sayang, tapi lampunya harus dimatikan kalau infokusnya mau nyala, lihat..biar terang"ucap Adrian menjelaskan. "ohh... paman Evan tidak duduk"tunjuk Allea pada Evan yang sedang berada di depan untuk menjelaskan presentasinya. "tidak karena paman Evan mau berbicara, jadi harus berdiri di sana"jawab Adrian lagi untuk menjelaskannya pada Allea. "ohh..."jawab Allea. "okk, aku mulai"ucap Evan kemudian setelah terkekeh karena melihat tingkah Allea yang menggemaskan. Evan mulai membahas tentang proyek pembukaan cabang baru di daerah Texas, dan menjelaskan setiap struktur bangunan dan target pemasaran toko. "DINOSAULUSS, HAHAHAHAHA"Adrian hanya bisa menepuk jidatnya, putrinya ini benar-benar mengganggu konsentrasinya. "daddy...dinosaulus"ucapnya begitu heboh. "lanjutkan"ucap Adrian kemudian. Allea turun dari kursinya, lalu berjalan ke sekeliling ruangan, lalu menyapa beberapa karyawan dan hal itu membuat Adrian frustasi. "Allea kemari "panggil Adrian, namun gadis kecil itu malah bersembunyi dibalik punggung salah satu karyawannya. "Allea, sayang.. kemari"perintah Adrian lagi. "Tidak....hahahahaha"tawa Allea meledak. Tingkahnya malah membuat semua karyawan tertawa, sementara Adrian hanya bisa menghela nafas karena frustasi, Adrian bangkit dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Allea yang masih setia bersembunyi di balik tubuh salah satu karyawannnya. "jangan ganggu bibi kau mengerti, ayo duduk kembali duduk saja bersama appa"Adrian menarik tangan Allea dan kembali mendudukannya di kursi. "tapi Allea capek duduk mulu"ucap Allea memberenggut, "sebentar saja, setelah itu kita akan beli ice cream. Allea mau ice cream kan?”Tanya Adrian yang membuat Allea menganggukan kepalanya. "iya" Evan kembali melanjutkan presentasinya, menjabarkan secara detail tentang hal tersebut. "jadi ada yang mau bertanya, mungkin beberapa orang dari kalian akan dimutasikan ke sana, jadi kalian semua harus siap, bagi karyawan yang terpilih" "Suatu ketika ada tiga beruang" "yang tinggal di sebuah gubuk" "daddy beruang, mam berunag dan bayi beruang…” Adrian menoleh pada sang Putri kecilnya yang terlihat asik sedang bernyanyi seraya menggambar seekor beruang di kertas miliknya, dokumen yang berisi catatan proyek perusahaan cabangnya. "ARGHHHHH"teriak Adrian frustasi. " kau baik-baik saja?"tanya Evan yang melihat Adrian terbengong. "kau mau membawa Allea ke ruang meeting?" Adrian tersadar, hal tersebut hanya khayalan yang berada di pikirannya. Adrian menggelengkan kepalanya menolak. Ia tidak mau, jika bayanganya barusan akan terjadi menimpanya “tidak, dia diruanganku saja, Deren dimana ?" ** Setelah selesai meeting, Adrian membelikan sebuah spageti untuk makan Allea sementara dirinya menyantap sebuah makanan lain yang lebih sehat. Gadis kecil itu terlihat lucu, mulut dan pipinya di penuhi dengan saus spagethi. Tangan Adrian beralih mengusap wajah putrinya yang terlihat begitu lucu. "Kau suka?" "Iya"ucap Allea bersemangat. Deren yang sedang duduk di sebelah Allea dan menyantap makannya menatap iri kepada Adrian dan Allea. "Wah... Kalian berdua membuatku iri, aku ingin cepat menjadi seorang daddy"ucap Deren, seraya menyendokan sebuah Spagethi ke dalam mulutnya. "Kalau begitu cepatlah menikah” ucap Adrian sarkatis. Deren menghela nafasnya frustasi. Kedua bola maatanya berputar malas. “Aku juga maunya begitu, pacar saja tidak punya" "Kalau begitu cepatlah cari pacar! Aku yakin ada yang menyukaimu "ucap Evan membuat Deren mengangguk-anggukan kepalanya setuju. "Kau benar EVAN, tampan, hidup mapan, punya senyum manis, dan ceria, romantis, siapa yang tidak suka denganku"ucapan Deran membuat Evan memuta kedua bola matanya malas. Temannya itu jika tingkat kepercayaan dirinya muncul, memnag terkadang suka terdengar cukup menyebalkan. "Aku... "sela Adrian yang membuat Evan dan Deren menoleh ke arahnya. "Aku tidak menyukaimu, yang pertama karena kau suka berisik, yang kedua jangan bicarakan hal semacam itu di sini karena ada putriku yang berusia 3 tahun, kalau mau membicarakan hal itu di luar saja, kalau kalian membahasnya lagi, akan ku tendang kalian berdua" "Allea... Dengar daddymu, dia galak sekali"ucap Deren pada Allea, gadis kecil itu malah tertawa dan memakan makanannya dengan begitu lahap. "Daddy dan putrinya, sama saja,."gerutu Deren yang membuat Evan terkekeh. "Tentu saja, Dia putriku"sela Adrian lagi. "Oh iyaya.. "ucap Deren membenarkan. Tentu saja, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Difat anak itu tidak akan jauh berbeda dengan ayahnya. "Hahahahah... "Tawa Evan meledak. "dasar bodoh"lanjut Evan, yang membuat Deren menjitak kepala Evan dengan sendok miliknya. ** Home. 21.00 pm. Adrian membaringkan tubuh Allea di atas tempat tidurnya, setelah mandi, makan dan bermain sebentar,. Akhirnya dia tertidur, tidak sulit membuat Allea tertidur. Gadis kecil itu terlihat begitu lelah. Adrian mengelus rambut putrinya, lantas bibirnya tersenyum dengan begitu manis. "Kau mirip dengan mammu, daddy akui itu,.. Tapi mata dan hidung mu seperti daddy... Kau setuju Allea"ucap Adrian bermonolog. "Ckckckck"ia terkekeh memikirkan ucapannya sendiri. Adrian menyelimuti putrinya, kemudia meninggalkan kecupan selamat tidur hingga akhirnya ia pergi keluar dari kamar sang Putri kecilnya, kembali turun ke lantai bawah menuju ruang tamu. Adrian berbaring di atas sofa, matanya menatap layar ponsel miliknya yang memasang wallpaper dirinya dan Hera juga Putri kecil mereka Allea. "Kau kemana -huh?"senyum Adrian tersungging di wajah tampannya tat kala menatap foto Hera. "Belum menelponku sejak tadi" Adrian mencoba menghubungi Hera namun wanita itu tidak mengangkat telponnya sama sekali. "HEI"protesnya kesal. Ia sudah memperingati Hera untuk tidak mengabaikan teleponnya. Dan sekarang wanita itu malah melakukannya. "Awas kalau kau pulang nanti.. Aku akan menghukummu, hingga kau tidak bisa bangun dari tidurmu" "Hahahaha"tawa Adrian meledak, saat mengingat hukuman yang telah di siapkannya untuk sang istri. Adrian kembali menatap foto Hera, bibirnya tersenyum menatapnya. "Aku merindukanmu" ** Adrian terbangun. Sedikit terkejut saat menyadari dirinya yang masih berbaring di sofa dengan TV yang masih menyala. Adrian melirik jam dinding. 02.00 am. Lalu matanya melirik pada layar ponsel miliknya. "Kau belum pulang, dan tidak menghubungiku, kau dimana sekarang"gerutu Adrian. Anehnya tidak ada kabar apapun, ini sudah pagi dan Hera belum menghubunginya sama sekali. Adrian merasa perasaannya gelisah. Karena ini tidak biasanya. Adrian mencoba kembali menghubungi Hera, 1 panggilan.. 2 panggilan... 3 panggilan... Tersambung seketika itu juga senyum dibibir Adrian mengembang. Ia pikir Hera tidak akan pernah mengangkat teleponnya. "sayang,... Kau kemana saja, kenapa?.."gerutu Adrian kesal. "Halo.... Kau kenal dengan pemilik ponsel ini"Suara orang asing yang menjawab teleponnya pada ponsel Hera. Hal ini membuat Adrian panik. Dan seketika ucapannya terhenti. "Iya,.. dengan siapa saya berbicara ?"tanya Adrian pada seorang pria yang mengangkat ponsel milik istrinya. "Dimana orang pemilik ponsel ini"Tanya Adrian dengan nada suara sedikit membentak. Ia menjadi gelisah. Sesuatu terjadi menimpa istrinya. Adrian merasakannya. Tidak mungkin seperti ini. ketakutan merayap masuk menyelimuti Adrian. "Dia....... "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD