8. Mancing

1032 Words
Sejujurnya Athaya sudah berusaha menolak ajakan Ghufran untuk pergi memancing karena kehadiran Ofar bikin dia nggak nyaman. Tapi lagi-lagi, Athaya tidak mampu menentang Ghufran. Pagi-pagi sekali Athaya sudah kerepotan bikin bekal untuk mancing. Sedangkan Ghufran sibuk mempersiapkan alat pancingnya. Pukul sembilan pagi, mereka semua sudah berkumpul di depan teras rumah. "Naik mobil saya saja ya, Far." Tawar Ghufran. Ofar mengangguk. "Boleh, Mas." Lalu mereka mulai naik ke dalam mobil Ghufran. Ofar duduk sendirian di kursi penumpang belakang tepat di belakang Ghufran agar Ofar bisa leluasa curi-curi pandang ke arah Athaya. Sedangkan Jasmine hanya mau duduk di pangkuan Ibunya—di kursi penumpang depan. Mereka akan menuju ke villa Ghufran yang letaknya dekat dengan puncak. Di sana juga tersedia kolam pancing. Di sepanjang perjalanan hanya hening yang berpendar kecuali suara musik yang mengalun indah di stereo mobil. Sampai akhirnya Ghufran bosan dengan suasan dan mematikan musiknya karena perjalanan masih panjang. "Sayang, nyanyi dong biar nggak bosan. Daripada diam-diam terus." Ghufran menoleh sejenak ke arah istrinya. "Hehe, nggak ah, Mas." Athaya tersipu malu. Padahal selama ini, diam-diam Ghufran sering ngintip Athaya sedang nyanyi sambil membersihkan rumah. "Aku aja yang nyanyi gimana, Mas?" Ofar menawarkan diri. "Om bisa nyanyi?" Jasmine memutar kepalanya ke belakang menatap Ofar. "Bisa dong, sayang." Ofar mulai menyanyikan lagu dari The Script yang berjudul The Man Who Can't Be Moved. Lagu ini menggambarkan persis seperti kisah Athaya dan Ofar. Itulah mengapa Ofar nyanyi penuh penarasaan. Jangankan untuk menoleh ke belakang melihat Ofar nyanyi, bahkan untuk bernapas saja sulit bagi Athaya. "Baguuuss Om!" Jasmine bertepuk tangan ketika lagu sudah berakhir. Di tengah perjalanan mereka berhenti dipombensin untuk mengisi bahan bakar dan juga sholat Zuhur. "Mas, mau gantian nggak bawa mobilnya? Takutnya Mas capek nyetir." Tawar Ofar ketika mereka berkumpul lagi di depan mobil. "Boleh, deh." Jawaban Ghufran membuat Athaya melotot lebar. "Aku gimana?" Athaya menunjuk dirinya sendiri. "Gimana apanya, sayang?" Tanya Ghufran. "Aku nggak mungkin duduk di depan bareng Ofar." Athaya berbisik di telinga Ghufran. "Nggak apa-apa, sayang. Lagian aku pengen baring bentar di kursi belakang. Capek banget badanku habis kita berhubungan tadi malam," balas Ghufran berbisik. Mau tak mau Athaya terpaksa duduk di depan bersama Ofar. Mobil kembali melesat membelah jalanan. Hanya hening yang berpendar di antara mereka. Lambat-laun Ghufran tertidur di kursi belakang penumpang, dan Jasmine tidur di pangkuan Athaya. "Tha ...," panggil Ofar tiba-tiba bikin Athaya kaget. Karena seharusnya Ofar menyebut Athaya dengan embel-embel 'Mba' bukan nyebut nama seolah mereka sudah lama kenal. Athaya pura-pura tidak dengar. "Boleh minta air dikit nggak, aku haus banget," lanjut Ofar. Athaya mengambilkan sebotol air mineral dan diberikan pada Ofar. "Mana bisa aku minum sendiri, aku lagi nyetir." Athaya mengernyit. Ada apa sih dengan Ofar? Athaya membuka tutup botolnya. "Nih, kamu bisa pegang sendiri." "Boleh minta tolong nggak?" Athaya mengerang kesal. Sepertinya Ofar sengaja! Athaya menoleh ke belakang sejenak dan memastikan kalau Ghufran masih tertidur. Kemudian Athaya membantu Ghufran untuk minum. "Maksih, Tha." Ofar tiba-tiba menyentuh tangan Athaya. Athaya langsung menarik tangannya menjauh dari gapaian Ofar. Benar-benar kurang ajar! *** Akhirnya mereka sampai di villa setelah sempat mengalami kemacetan yang panjang. Mungkin efek dari tanggal merah, jadi banyak juga orang-orang yang liburan di puncak. Athaya membawa makanannya ke dapur untuk langsung mempersiapkan makan siang. Tak lama Ofar muncul sambil mengambil segelas air. Athaya masih kesal dengan sikap Ofar yang semena-mena padanya selama di mobil tadi. Athaya tiba-tiba menyodorkan pisau, membuat Ofar kaget. "Apa ini, Tha?" Ofar mengangkat tangannya sebatas d**a. "Jangan pernah macem-macem denganku di depan Ghufran! Aku nggak suka sama sikap kamu yang berlebihan, seolah-olah kita saling kenal!" Athaya bicara penuh amarah. "Kenyataannya kita memang saling kenal, kan?" "Tapi aku nggak mau Ghufram sampai tahu kalau kita memang kenal. Aku nggak suka kamu pegang-pegang aku dengan semberono." Ofar mengangkat alis. "Dulu aja, kamu sendiri yang minta dipegang-pegang. Sekarang kok berbeda." "Ya bedalah dulu dan sekarang! Aku sudah menikah. Kamu paham nggak sih?" Ofar tertawa mengejek. "Menikah ya? Yayaya, sekarang aku lagi coba deketin istri orang." "Aku peringati sama kamu ya...." Athaya semakin mendekatkan ujung pisaunya ke hadapan Ofar. "Jangan pernah macem-macem denganku di depan Ghufran!" "Berarti kalau di belakang Ghufran boleh dong?" Ofar tersenyum smirk. Membuat Athaya ingin menancapkan pisau itu ke leher Ofar. Tapi hati kecilnya masih mencintai Ofar. "Sayang ...." Ghufran tiba-tiba muncul. Matanya melotot kaget ketika melihat Athaya mengulurkan pisau pada Ofar. "Kamu ngapain?" "Ha?" Athaya tersadar dan langsung menyingkirkan pisaunya. "Bukan apa-apa, Mas." "Ini, Mba Athaya pamerin pisau ke aku. Katanya bahannya bagus." Ofar mencari alasan meski terdengar nggak masuk akal. "He?" Ghufran bengong, setelahnya tertawa geli. "Ada-ada saja." Kemudian berjalan mendekati Athaya. "Udah siap makan siangnya, sayang?" "Udah, Mas." "Yuk kita makan dulu. Setelah itu kita langsung mancing." Ghufran menatap Ofar. Ofar mengangguk menyetujui ajakan Ghufran. *** Pukul tiga sore, Ofar dan Ghufran mancing berdua di salah satu kolam pancing yang tak jauh dari villa mereka tinggal. "Rokok, Mas?" Ofar menyodorkan rokok pada Ghufran sambil menunggu ikan tangkapannya. "Saya nggak merokok, Far." Ghufran menolak dengan halus. "Oh iya, saya lupa kalau Mas Ghufran kan Dokter Paru. Masa mau merusak paru-parunya sendiri." Ghufran hanya terkekeh geli. "Oh ya, Jasmine umurnya sudah berapa tahun, Mas?" Ofar melontarkan pertanyaan pertamanya. "Ng, sudah lima tahun," Ghufran menjawab. "Kenapa belum mau nambah anak lagi, Mas?" "Kita sih udah berusaha berkali-kali, tapi emang belum rezeki." Jawaban Ghufran membuat Ofar semakin yakin kalau Jasmine adalah anaknya. Karena sampai sekarang pun mereka sudah mencoba, masih belum dikaruniai seorang anak. "Kamu sendiri?" Ghufran menatap Ofar. "Sudah berapa anakmu?" "Ha? Anak?" Ofar justru kaget. "Loh, katamu kamu sudah menilah," sambar Ghufran cepat. Ofar menelan ludah sejenak. Ia sampai lupa sudah bercerita dengan Ghufran, kalau iasudah menikah. "Ng, belum Mas. Aku dan istri belum dukaruniai anak," jawab Ofar ragu. "Nggak apa-apa, Far." Ghufran menepuk pundak Ofar. "Tetap berjuang." "Heheh, iya, Mas." "Tadinya, aku sempat berpikir kalau aku dan Athaya susah dapat anak karena aku ini kurang subur. Wah, ternyata nggak nyangka kalau secepat itu Tuhan memberikan kami kepercayaan untuk dikaruniai momongan." Pengakuan Ghufran yang menyatakan bahwa ia "kurang subur" membuat Ofar syok. Berarti tidak salah lagi, kan. Kalau Jasmine memang darah dagingnya. Tapi, bagaimana caranya Ofar bisa membujuk Ghufran untuk tes DNA. "Kenapa menung, Far?" Ghufran menepuk pelan pundak Ofar ketika lelaki itu termenung. "Eh, nggak apa-apa, Mas."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD