9. Rindu Yang Membara

1079 Words
Pukul lima sore, Ofar dan Ghufran terpaksa harus menyudahi mancing mereka dikarenakn langit sudah mendung. Bahkan saat baru mempersiapkan barang untuk pulang, hujan langsung turun dengan derasnya. Membuat semua pakaian mereka jadi basah kuyub "Ya ampun, Mas. Kenapa pulang hujan-hujanan begini." Athaya panik ketika melihat Ghufran dan Ofar pulang saat hujan turun begitu derasnya. "Nanggung, Sayang. Udah keburu basah duluan tadi di kolam pancing," jawab Ghufran sambil menepuk-tepuk pakaiannya yang basah. "Yaudah, kamu ganti baju dulu deh sana. Nanti masuk angin." Perintah Athaya. Bagaimana pun, melihat suami sakit bukan impian semua istri, kan? "Iya, sayang." Ghufran buru-buru berlari menuju kamarnya. Saat Athaya hendak pergi, Ofar menarik tangan Athaya Refleks, Athaya melepaskan sentuhan Ofar. "Ada apa sih? Sudah aku bilang jangan sentuh aku sembarangan!" Seru Athaya dengan nada sepelan mungkin agar Ghufran tidak mendengarnya. "Sorry, aku lupa." Ofar memeluk dirinya sendiri. Bibirnya juga bergetar akibat kedinginan. "Kenapa?" Athaya bertanya dengan ketus. "Boleh aku pinjam handuk? Aku lupa bawa." Athaya mendengus kesal. "Kamu selalu nyusahin aku ya." "Pleaseee...." Athaya tidak tega melihat Ofar yang sudah menggigil dan seperti orang yang ingin mati karena kedinginan. "Yaudah, kamu masuk saja dulu ke kamarmu. Aku cari dulu handuknya, nanti aku anter ke kamar kamu." "Makasih, Tha." Ofar senyum. Kemudian mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Ofar benar-benar lupa membawa handuk, bukan karena disengaja. Tapi, Karena tadi dia buru-buru. Dan Ofar juga masih payah dalam urusan packing pakaian. Ribet. Itulah mengapa ia ingin merebut Athaya kembali. Agar hidup Ofar jadi lebih terurus dengan kehadiran Athaya. Saat sudah tiba di kamarnya, Ofar segera membuka bajunya. Dan, tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk. "Ini handuk kamu, aku taruh depan pintu, ya." Suara Athaya terdengar di depan pintu kamar Ofar. "Masuk saja, Tha. Pintunya nggak kunci kok." perintah Ofar. Athaya pun masuk ke dalam kamar Ofar dan seketika terkejut. Ia reflesk menutup wajahnya dengan telapak tangan sampai bikin handuknya jatuh ke lantai ketika melihat Ofar sudah bertelanjang d**a. Ofar tekekeh geli. Padahal ia hanya bertelanjang d**a, bukan telanjang seluruh badan. Ofar mendekati Athaya dan mengambil handuknya di lantai. "Biasa aja kali, Tha. Padahal dulu juga sering lihat aku begini." Athaya akhirnya berusaha untuk bersikap biasa aja. Ia menyingkirkan telapak tangannya. "Jangan suka bahas-bahas dulu, deh. Aku sudah lupa dengan masalalu." Athaya masih ketus. "Okay." Ofar meledek. "Oh iya, ngomong-ngomong ...." Athaya mulai bicara ketika sempat hening beberapa detik. "Kamu beneran udah nikah?" "Ha?" Ofar mengangkat sebelah alisnya. "Ghufran cerita." "Oh itu." Ofar tertawa. "Aku cuma pura-pura doang. Yah, biar nggak terlalu ketahuan kalau aku lagi deketin kamu." "Apaan, sih." Athaya geleng-geleng kepala. "Nggak lucu leluconmu." "Kenapa? Kamu pasti syok kalau aku sudah menikah, kan?" "Biasa aja, tuh." "Hahaha, jangan bohongi perasaanmu lagi lah, Tha. Keliatan dari wajah kamu, kalau kamu tuh panik waktu denger kabar aku menikah." "Kenapa aku harus panik? Bagus dong, kalau kamu emang sudah menikah. Berarti kita bisa jalani hidup kita masing-masing." Dan kamu nggak mengusik kehidupan rumah tangga aku yang sudah bahagia ini." "Bahagia? Tapi, aku tidak pernah melihag raut kebahagiaan sedikitpun ada di wajahmu." "Jangan sok tahu, deh. Emangnya kamu siapa? Bisa membaca raut wajahku segala." "Aku yakin, kamu akan ngerasain sakit hati seperti yang aku rasain sekarang kalau kamu melihat aku dengan orang lain." Athaya memutar bola mata jengah. Meski dalm hatinya ingin berkata 'IYA' tapi Athaya nggak mungkin mengungkapkan yang sebenarnya kepada Ofar. "Dasar Freak." Athaya lalu berbalik badan hendak keluar dari kamar Ofar. Tapi Ofar kembali menarik tangan Athaya sampai tubuh Athaya kembali berhadapan dengan Ofar. "Jangan membohongi perasaanmu, Tha." Kini jarak tubuh mereka hanya beberapa senti saja. Bahkan, Athaya bisa merasakan deru napas Ofar yang begitu hangat dan berat. "Lepasin, nggak!" Athaya berusaha mencekal sentuhan Ofar. Tapi usahanya sia-sia. Ofar menatap tangan Athaya yang dipegang olehnya sejenak, lalu kembali menatap mata Athaya lekat-lekat. "Bahkan, matamu saja seperti sedang bicara setiap kali melihat Aku, kalau kamu begitu merindukan aku, dan mencintai aku. Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu bisa memelukku saat di rumah kamu? Kamu lupa? Kamu memelukku sangat erat dan hangat seolah-olah kamu membutuhkan aku." Athaya melotot, Ofar sudah kelewatan batas. Ia mendorong Ofar, agar segera melepaskan tangannya. Lalu menampar wajah Ofar. "Jangan pernah bermimpi!" Ofar jadi lepas kendali, ketika Athaya ingin berbalik badan lagi. Ofar kembali menariknya hingga mereka berhadapan, lalu Ofar menarik pinggang Athaya agar bersentuhan dengan tubuhnya. Lelaki itu mendorong Athaya ke di dinding, dan mencium bibir Athaya dengan brutal. Athaya sempat kejang, dan merasakan sesuatu aneh yang bikin dia terkejut. Athaya mendorong tubuh Ofar kuat dan ingin menampar wajah lelaki itu lagi. Tapi, kedua tangan Athaya di angkat ke atas kepalanya. "Jangan kurang ajar kamu!" Bentak Athaya. "Sssh ... nanti suamimu dengar." Bibir Athaya bergetar, ia bingung harus bagaimana selain menangis. Ofar jadi tidak tega, akhirnya ia melepaskan Athaya. Perempuan itu langsung membungkukkan badan dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ofar semakin panik dan tidak tega. Ia berusaha mendekati Athaya. "Tha, sorry, aku nggak bermaksud untuk—" Anthaya mendongak menatap Ofar. "Aku rindu ketawa kayak dulu lagi, Far. Aku rindu motoran lagi sama kamu, rindu ngumpul bareng grup band kamu. Rindu semuanya. Hidupku terlalu monoton bersama Ghufran. Selama lima tahun menikah dengan Ghufran, aku nggak pernah sekalipun ngerasain jantung berdegup kencang seperti saat aku bersamamu. Aku hanya hidup sebagai boneka yang bisa diperintah sana-sini dengan Ghufran hanya karena aku ingin menghargai dia sebagai suamiku. Bawa aku pergi, Far. Bawa aku pergi dari kehidupan yang melelahkan ini." Athaya menangis tersedu-sedu. Posisinya sekarang begitu sulit. Tapi kehadiran Ofar membuat move-onnya berantakan. Ofar mendekap wajah Atahaya dan menghapus air matanya. Akhirnya uneg-uneg Athaya keluar. Bersama Ghufran, dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Dia selalu dituntut harus sempurna menjadi istri. Dan itu melelahkan. "Aku janji akan bawa kamu secepatnya dari hidup Ghufran. Aku nggak mau lihat kamu nangis begini." Ofar membawa tubuh Athaya kembali berdiri. Ia memeluk Athaya dengan erat. Athaya tidak menolak, justru tangan Athaya semakin menarik diri ke dalam pelukan Ofar yang selalu hangat. "Jangan nangis, sayang. Aku nggak bisa lihat kamu nangis begini. Sudah saatnya aku bikin kamu bahagia," ucap Ofar sungguh-sungguh. Athaya menatap wajah Ofar. "Aku bohong kalau aku bilang aku sudah melupakan kamu, Far. Pada kenyatannya, aku masih mencintai kamu." pernyataan Athaya semakin membuat Ofar terharu. "Terima kasih, sayang. Aku pun, masih akan tetap mencintai kamu." Ofar menyentuh dagu Athaya, ia menatap bibir Athaya yang mungil. Dan kali ini, ia mencium bibir Athaya dengan pelan dan dalam. Dan dengan penuh cinta. Athaya tidak menolak, justru membalas ciuman Ofar. Entah apa yang Athaya rasakan saat ini. Tapi perasaan sedih, marah, kecewa dan rindu berkumpul menjadi satu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD