"Athayaaa.... Sayang ...."
Suara nyaring Ghufran membuat ciuman Athaya dan Ofar terlepas. Athaya menatap pintu kamar Ofar dengan panik.
"Mas Ghufran."
"Sshh.... Kamu diam di sini dulu," bisik Ofar. Lalu memutar kunci pintu kamarnya.
Ia menarik Athaya agar duduk di kasurnya.
"Athayaa, sayang ...." teriakan Ghufran semakin nyaring terdengar.
sedangkan jantung Athaya sudah berdegup sangat kencang. "Gimana ini, Far? Gimana kalau Ghufran tahu aku ada di sini? Aku harus bilang apa?"
"Kamu nggak perlu bilang apa-apa, Tha. Karena Ghufran nggak akan tahu. Dengar kan? Suaranya sudah menghilang." Ofar berusaha menenangkan Athaya.
Athaya hanya bisa menelan ludahnya dengan kelat.
"Tha, aku ingin kita tetap melanjutkan hubungan ini dengan rahasia. Aku nggak mau tiba-tiba kamu jadi berubah keesokan harinya. Itu akan membuat hatiku sakit," ucap Ofar sungguh-sungguh.
Athaya hanya bisa diam. Di satu sisi, dia tidak ingin menyakiti hati Ghufran. Tapi, di sisi lain, Athaya juga tidak ingin mengabaikan Ofar begitu saja karena bersama Ofar, Athaya lebih merasakan kenyamanan.
"Tha, aku boleh minta nomor kamu. Agar kita bisa berkomunikasi lebih jauh lagi?" Ofar marih ponselnya dari nakas.
"Enggak, Far. Ini terlalu berbahaya."
"Ghufran sering ngecek ponsel kamu?"
"Enggak sih. Tapi, tetap aja perasaanku jadi takut."
"Sayang, kita harus bisa merahasiakan hubungan gelap ini. Tapi, aku juga nggak bisa diam di tempat terus. Aku harus cari cara agar bisa mendapatkan kamu kembali."
Athaya menatap Ofar ragu. "Pleaseee...."
"Okey."
Akhirnya Ofar dan Athaya pun tukaran nomor handphone. Athaya memberi nama di ponselnya sebagai Sinar 2. Seolah-olah, itu nomor Sinar yang lainnya. Sedangkan Ofar memberi nama Athaya di ponselnya sebagai; Rinduku.
"Tapi kamu ingat ya. Jangan pernah menghubungi aku ketika Ghufran ada di rumah. Dan jangan pernah mengirimiku pesan sembarangan. Anggap saja kamu adalah Sinar." Athaya memberi Ofar peringatan.
Ofar mengangguk mantap. "Oke. Aku setuju."
"Aku ingin keluar dari kamar kamu sekarang, agar Ghufran nggak curiga," ucap Athaya lagi.
"Sebentar, aku cek dulu." Ofar bangkit dari kasurnya dan keluar dari kamar perlahan-lahan. Ia mencari keberadaan Ghufran di sekeliling ruangan. Tapi sepertinya, Ghufran ada di dalam kamarnya bersama Jasmine. Karena Ofar mendengar suara gelak tawa Ghufran dan anaknya di kamar.
Lalu, Ofar kembali ke kamarnya dan menutup pintu kembali. "Aman. Ghufran dan Jasmine ada di kamarnya."
"Oke, kalau gitu aku pamit dulu."
lagi-lagi, Ofar kembali menarik tangan Athaya sebelum Athaya beranjak pergi.
"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kembali," ucap Ofar sambil mengecup bibir Athaya untuk yang terakhir kalinya. Sebelum Athaya benar-benar pergi dari kamar Ofar.
"Bye...." Athaya melambai, lalu keluar dari kamar Ofar perlahan-lahan.
Untunglah Ghufran tidak melihat Athaya baru keluar dari kamar Ofar. Perempuan itu segera menuju dapur dan mengambil air dingin dari kulkas. Lalu meneguknya hingga habis.
"Aku sudah gila." Ia bicara dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa Athaya memberi kesempatan kepada Ofar untuk kembali masuk ke dalam kehidupannya.
Tapi, ini keinginan Athaya sendiri. Karena dia tidak bisa menahan rindunya lagi kepada Ofar.
"Arrrgg...." Athaya meracau sendiri. Sampai mencuci mukanya dengan air es.
"Loh, sayang...." Suara Ghufran yang mendadak muncul di belakangnya, membuat Athaya terkejut. Ia refleks menjatuhkan botol minuman ke wastafel.
"Mas ...." Athaya membalikan badannya.
"Ya ampun, kenapa cuci muka pakai ari dingin di saat cuaca lagi dingin begini?" Ghufran segera mengambil tisu yang letaknya tak jauh dari jangankauan. Lantas segera mengeringkan wajah Athaya dengan tisu.
"Kamu dari mana saja sih? Aku dari tadi cemas cariin kamu." Wajah Ghufran terlihat sangat panik.
"Aku—" Athaya menelan ludah. "Aku habis dari luar sebentar, Mas. Cari udara segar."
"Hujan-hujan begini?" Ghufran mengangkat kedua alisnya.
"Iya, Mas. Tapi, nggak jauh kok. Cuma dekat teras aja."
"Oooh, gitu. Yasudah, ini sudah pukul berapa. Kita ke kamar yuk. Jasmine sudah menunggu kamu tuh, di kamar."
"iya, Mas."
Ghufran merangkul Athaya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
***
Athaya tidak bisa tidur semalaman. Kerjaannya hanya membolak-balikan badan tanpa henti. Dan melihat Ghufran sudah tidur dengan nyeyak.
Bunyi notifkasi pesan di ponselnya membuat Athaya duduk di kasur. Ia meraih ponsel di nakas dan melihar pesan dari Ofar.
[ Sinar 2 : Udah tidur, Tha]
[Rinduku: Belum, aku nggak bisa tidur]
[Sinar 2 : Masih mengingat ciuman tadi?]
Membaca pesan Ofar yang terlalu brutal. Athaya jadi melihat ke arah Ghufan sejenak. Untunglah Ghufran masoh tidur.
[Rinduku: Hati-hati kalo ngomong di sini. aku takut]
[Sinar 2 : Ampuuun. Belum apa-apa, aku sudah merindukanmu lagi, Tha]
"w******p Siapa sayang?" Suara Ghufran yang mendadak muncul, membuat Athaya refleks menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Eh, Mas...." Athaya buru-buru mengambil ponselnya kembali. "Ng—enggak ini, Sinar ngeWhatsApp aku. Katanya tadi sore dia ke rumah, tapi kita nggak ada di rumah."
"Ooh, balesnya besok aja, lah. Ini sudah malem. Sudah waktunya kamu tidur."
"Ng-iya, Mas. Ini mau tidur."
Untungnya, Ghufran langsung memejamkan matanya dan kembali tidur. Sedangkan Athaya, buru-buru menghapus pesannya bersama Ofar, lalu lanjut mencoba untuk memejamkan matanya. Meski terasa sulit.
***
Akibat tidak bisa tidur, Athaya jadi bangun lebih pagi. Selesai mandi, Athaya langsung menyiapkan sarapan di dapur.
Athaya masak nasi goreng dan telur dadar kesukaan Jasmine.
"Kenapa pesanku nggak kamu balas tadi malam?"
Athaya syok karena Ofar sudah memeluk pinggangnya dari belakang.
"Far, kamu apa-apaan, sih?!" Athaya segera menjauh.
"Nggak ada suami kamu kok. Tadi aku lihat Ghufran pergi joging ke luar," jelas Ofar yang langsung berdiri di sebelah Athaya.
Athaya menghela napas lega. "Aku nggak sempat balas pesan kamu tadi malam karena kepergol dengam Mas Ghufran. Akhirnya, aku jadi ketiduran juga, deh," jawab Athya apa adanya.
"Oooh, begitu." Kemudian Ofar melongokan kepala ke arah wajan hasil masalan Athaya. "Hmmm, nasi goreng. Kamu tahu aja kalau aku sangat suka nasi goreng buatan kamu."
"Nasi goreng ini kesukaan Jasmine," jawab Athaya.
"Apa?" Ofar sedikit kaget karena dia punya banyak kesamaan dengan Jasmine. "Aku jadi semakin yakin kalau Jasmine memang anakku, Tha." Jeda sejenak. Athaya sibuk memindahkan masi goreng ke masing-masing piring.
"Kalau seandainya, Jasmine memang anakku. Bagaimana? Apakah kamu mau menceraikan Ghufran dan menikah denganku?"
Athaya terkekeh geli. "Aku belum kepikiran sampai ke situ, Far."
"Kamu nggak mau menikah denganku?"
"Aku belum siap menerima kenyataan yang bikin Ghufran atau kamu sakit nantinya. Karena salah satu di antara kalian, pasti akan sedih mendengar kenyataan ini."
"Aku siap menerima semua kenyataan dan segala risikonya Kok."
"Kalau seandainya, Jasmine terbukti bukan anak kamu gimana? Kamu siap meninggalkan aku?" Kini Athaya yang balik bertanya.
"Aku sudah yakin, kalau Jasmine adalah anakku, Tha. Dari kesamaannya saja sudah membuktikan kalau dia anakku."
"Bundaaa...." Jasmine tiba-tiba muncul di antara kami sambil mengucek matanya. Rambutnya tampak kusut karena baru bangun tidur.
"Eh, sayang ...."
Ketika Athaya hendak menggendong Jasmine. Ofar sudah lebih dulu membawa Jasmine ke dalam pelukannya.
"Good morning peri kecil, kita main di luar dulu yuk. Bunda lagi siapin sarapan pagi untuk kita," kata Ofar sambil membawa Jasmine pergi dari dapur.
Athaya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia masih tidak percaya harus terjebak di antara dua pilihan seperti ini.
.