11. Jasmine

1088 Words
"Sudah selesai masaknya? Aku udah laper nih." Lagi-lagi ada yang menepuk pinggang Athaya dari belakang. Wanita itu semakin syok karena Ofar terus saja memeluknya terang-terangan. "Ih, kamu kenapa peluk aku terus, sih? Kalau nanti ke-ta-hu-an-gi-ma—" kalimat Athaya berhenti saat ia membalikan badan dan menyadari kalau orang yang telah memeluknya adalah Ghufran. Bukan Ofar. Refleks saja mata Athaya melotot ketika melihat Ghufran. "Ketahuan siapa? Ofar?" Tebak Ghufran sambil tersenyum masem. "Kamu malu Ofar tahu kalau aku peluk kamu." Jantung Athaya rasanya mau copot. Ia menelan ludahnya dengan kelat. "Ng—iya, Mas. Nggak enak kalau dilihat tetangga kita. Karena dia lagi LDR dengan istrinya, nanti malah iri lihat kita mesra-mesraan." "Hahaha, benar juga kamu, sayang." Ghufran menyeka keringatnya dengan handuk kecil. "Mm, kamu habis darimana, Mas?" Kenapa Athaya jadi salah tingkah. Ia mencoba untuk mengalihkan pikirannya dengan mencuci piring. "Aku habis jogging, sayang. Ternyata seru juga jogging di sekitar villa ini. Cuacanya enak dan mendukung banget." "Ooh...." Athaya bingung harus merespons bagaimana. Karena dia merasa seperti sudah ke-gep dengan suaminya sendiri. "Kamu mandi dulu gih, setelah itu baru sarapan ya," ujar Athya lagi. "Oke, sayang. Jasmine ada di teras tuh, dengan Ofar." "Ng—oke." Lalu Ghufran pun menghilang dari dapur. Athaya baru bisa menghela napasnya dengan leluasa, seolah-olah dia telah kehabisan oksigen dan membuatnya sulit bernapas sejak tadi. Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi. Athaya menuju teras depan villa untuk memanggil Jasmine. Tapi, sesuatu yang ia lihat di depan matanya membuat Athaya tersentuh. Ofar masih mengira dan yakin kalau Jasmine adalah anak kandungnya. Padahal, Athaya sendiri tidak tahu siapa Ayah kandung Jasmine sebenarnya. Dan Ofar memperlakukan Jasmine dengan sangat baik. Ofar sedang mengepang rambut Jasmine. Entah dari mana lelaki itu belajar. Padahal, dulu dia adalah anak band yang macho. Ghufran mungkin Ayah yang baik, tapi dia tidak pernah semanis dan secute itu dengan Jasmine. Hanya saja, Ghufran selalu menuruti semua keinginan Jasmine. "Jasmine...," panggil Athaya. Tidak hanya Jasmine yang menoleh, tapi Ofar juga. "Bundaa, lihat deh. Kami lagi main salon-salonan!" Seru Jasmine bersemangat. "Udah ya, mainnya. Waktunya kita mandi," pintah Athaya. Garis bibir Jasmine melengkung ke bawah. "yaaah, nanti rambut Jasmine jadi rusak. Om Ofar udah kepangin rambut Jasmine jadi cantik banget, loh." "Gampang kok, nanti rambut Jasmine bisa ditutupi dengan kain. Jadinya nggak basah, deh," saran Ofar membuat Jasmine semakin semangat." "Yang bener, Om?" "Bener." "Keren! Yaudah, aku mau mandi, Bun." Athaya tersenyum manis. "Yasudah, kamu duluan saja ke kamar mandi. Nanti Bunda susul ya." "Oke Bundaaa...." Jasmine berlari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Athaya dan Ofar saling bertatapan satu sama lain. "Dari mana kamu belajar cara mengepang rambut?" "Sebelum bertemu kamu, aku belajar banyak hal tentang menjadi Ayah yang baik dan benar," bisik Ofar. Athaya terkekeh geli. "Yaudah, kamu makan gih, sarapan sudah siap di meja makan." Ofar tersenyum smirk. "Hebat banget calon istriku," godanya sambil melangkah melewati tubuh Athaya. Gilanya, wajah Athaya justru bersemu merah. *** Pagi ini, mereka sarapan bersama di meja makan. Suasana sedikit agak canggung antara Athaya dan Ofar saat berada di dekat Ghufran. Karena takut salah bicara dan bertindak. "Enaknya habis ini kita kemana lagi ya?" Tanya Ghufran disela makan mereka. "Taman safariiii!" Jasmine mengacungkan jari paling semangat. "Ih, jangan taman safari. Bunda takut, nanti kita dimakan macan," kata Athaya polos. Bikin Ofar terkekeh geli sambil menatap Athaya. Bagaimana Ofar bisa lupa kalau Athaya sangat takut dengan binatang. Jangankan macan, dengan kucing dan anjing saja Athaya sering menghindar. Athaya merasa tatapan Ofar aneh. Ia hanya memelototi Ofar kesal karena sudah meledeknya. "Ofar gimana? Ada rekomendasi lain nggak?" Ghufran menoleh ke arah Ofar. "Gimana mau rekomendasiin kalau saya aja baru pertama kali ke sini, Mas," jawab Ofar canggung. "Hahah, iya yah, bener. Yaudah, sayang ada pilihan lain nggak?" "Ng—kemana ya enaknya. Kita main ke taman ajak yuk. Taman Nusantara bagus banget loh buat spot foto." "Emang dasar cewek, carinya pasti tempat yang bagus untuk foto ya." Ofar tersenyum mencurigakan dengan Athaya. Karena ia juga tahu sifat Athaya yang hobby selfie sendiri dimana pun dan kapan pun. Athaya menundukan kepalanya dan tidak berani menatap Ofar karena malu. "Okey, kalau begitu. Kita sepakati sarannya Bunda yaa." "Yaaaah...." Jasmine melengkungkan bibirnya ke bawah. Terlihat sedih. "Hei, girl. Di taman juga seru, kok." Ofar yang duduk tepat di sebelah Jasmine—langsung mengusap kepala gadis kecil itu. "Nanti Om Ofar akan bawa Jasmine keliling taman dan fotoin Jasmine dengan cantik." Mata Jasmine berbinar. "Serius, Om?" "Dua rius malahan." "Asiikkk, ye...ye... Jasmine mau ke taman." Jasmine tampak kegirangan sampai hampir lompat dari kursi kalau saja Ofar tidak memegang Jasmine dengan cepat. *** Selesai sarapan, mereka bersiap-siap untuk segera pergi dari villa. Rencananya, setelah menghabiskan waktu ke tempat wisata, mereka pun langsung balik ke Jakarta. Karena besok harus kembali belerja. "Bunda, Ayah, Jasmine mau keluar dulu main dengan Om Ofar ya." Jasmine membawa tas ransel bergambar unicorn sambil keluar dari kamar dengan penuh semangat. Ghufran terkekeh geli melihat Jasmine. "Baru kali ini loh, aku lihat Jasmine seakrab itu dengan orang lain. Ternyata, Ofar cepat akrab dengan anak-anak ya," komentar Ghufran. Athaya sempat berhenti merapikan pakaiannya ke dalam koper dan menelan ludah dengan kelat. Karena dulu, Ofar sangat tidak menyukai anak-anak. Ternyata, Ofar memang banyak berubah. "Dan Jasmine juga kelihatan seneng banget dengan Ofar ya, Tha. Sampai aku sendiri di lupain. Sebenarnya, Ayah kandung Jasmine siapa sih? Aku atau Ofar." Refleks Athaya terbatuk. Athaya tahu kalau ucapan Ghufran hanya bentuk candaan. Tapi, apa yang dikatakan Ghufran masih menjadi misteri hingga saat ini. Siapa ayah kandung Jasmine sebenarnya. "Aku keluar sebentar ya, Mas." Athaya langsung pamit keluar dari kamar. Sepertinya ia butuh menyegarkan tenggorokannya yang sempat kering dengan air. Bukan hanya sekali teguk, tapi Athaya sampai meneguk dua gelas air sekaligus saking deg-degannya. Dan ketika ingin masuk ke dalam kamarnya kembali untuk melanjutkan beres-beres, Athaya tidak sengaja melihat Ofar dan Jasmine tengah bermain di ruang tengah. Entah apa yang sedang mereka lakukan sampai Jasmine terkikik geli. "Hahahah, Om Ofar curang!" Jasmine ngambek dan melipat tangan di d**a seperti orang dewasa. "Kamu yang curangi Om ya. Awas kamu!" Ofar menggelitik pinggang Jasmine sampai Jasmine berguling-guling di lantai. "Ampun Om! Ampun! Hahahah." Athaya jadi ikut tertawa. "Seru banget ya." Ofar dan Jasmine langsung menatap Athaya. "Bunda, Om Ofar nakal." "Jasmine dipanggil Ayah tuh, ke kamar," pintah Athaya berbohong. Jasmine cemberut, tapi ia tetap pergi menuju kamar. "Kenapa?" Tanya Ofar saat melihat Athaya menghela napasnya dalam-dalam. "Bagaimana nanti kalau kenyataannya, Jasmine bukan anak kamu? Apa kamu akan bersikap seperti ini juga kepada Jasmine?" Tanya Athaya random. Ofar mengerutkan dahi. "Kalau memang Jasmine bukan anak aku. Aku siap melepaskan kamu pergi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD