"Jasmine.... ayo!"
Jasmine masih asyik bermain dengan Ofar ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan.
Jasmine tertawa sambil berlari menghindari Ofar yang masih mengejarnya.
"Bundaaaa...." Jasmine memeluk kaki Athaya. "Om Ofar jail."
"Yuk, kita masuk mobil. Karena kita harus kembali melanjutkan perjalanan." Athaya hendak membawa Jasmine masuk ke mobil.
"Jasmine mau duduk dengan Om Ofar aja, ah." Kini Jasmine berpindah ke tempat Ofar.
"Loh, tadi ngadu ke Bunda karena Om Ofar jail," ledek Ghufran.
Jasmine hanya nyengir. Lalu mereka pun masuk ke dalam mobil.
***
"Kiri kanan, kulihat saja, banyak pohon cemara."
Di sepanjang perjalanan, Ofar dan Jasmine terus menyanyikan lagi tersebut berulang kali. Ghufran memperhatikan tingkah mereka dari spion depan sambil nyengir. Sedangkan Athaya merasa canggung dengan keadaan seperti ini karena Jasmine justru semakin dekat dengan Ofar.
"Ini pertama kalinya Jasmine kelihatan akrab dengan orang lain loh, Far," komentar Ghufran sambil terkekeh.
"Masa sih? Jasmine anak yang baik dam asyik. Iya nggak, sayan?" Tanya Ofar pada Jasmine.
"He'eh...." Jasmine menganggukan kepalanya.
"Huaaaah!" Jasmine menguap. "Jasmine ngantuk!"
"Jasmine bobo di sini saja." Ofar menepuk pahanya.
"Emang boleh?"
"Boleh dong."
Lalu Jasmine mulai mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan menyandarkan kepalanya di paha Ofar. Berselang beberapa detik, mata Jasmine terpejam.
Meskipun Athaya belum bisa memastikn siapa Ayah kandung Jasmine sebenarnya, tapi melihat Jasmine akrab dengan Ofar membuat hatinya tersentuh. Entah Ofar Ayah kandungnya atau bukan, Athaya tetap ingin mengadabadikan moment ini.
Athaya mengeluarkan ponsel dan diam-diam memotret Ofar dan Jasmine ketika Ghufran tengah fokus menyetir.
***
Sesampainya di taman, Jasmine langsung menarik tangan Ofar untuk ikut bersamanya.
"Ayo, Om!" Jasmine begitu bersemangat.
Ofar sampai kewalahan mengikuti langkahnya.
"Hahahaha." Ghufran tertawa. "Seru banget lihat mereka ya, sayang." Ghufran merangkul bahu Athaya. "Kita jadi bisa berduaan, deh."
"Apaan sih kamu, Mas." Athaya berusaha menghindar dari Ghufran. Entah mengapa ia harus melakukan hal itu.
Dan entah kenapa, Athaya takut Ofar cemburu melihat kemesraan mereka.
Astaga, apa yang kamu pikirkan sih, Athaya!
"Tumben kamu malu-malu." Goda Ghufran tidak menaruh curiga sedikitpun.
"Enggak ada, hehe." Athaya pun mendahului Ghufran. Dan Ghufran mengejarnya.
"Awas kamu ya, Thaa," kelakar Ghufran sambil menggelitik Athaya.
***
"Jasmine, coba kamu berdiri di dekat bunga itu, deh. Om Ofar mau fotoin kamu," ujar Ofar sambil mengarahkan Jasmine.
Ternyata tidak terlalu sulit mengarahkan anak umur lima tahun. Karena Jasmine anak yang cukup penurut.
"Ayo senyum." Pintah Ofar, dan Jasmine tersenyum. "Cantik banget." Ofar memuji Jasmine sambil menatap hasil jepretannya.
Kemudian, Ofar melihat Athaya tengah ber-selfie ria di taman.
"Thaaa!" Ofar teriak memanggil namanya.
Athaya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari si pemilik suara.
"Bundaaa!" Jasmine ikut berteriak.
Akhirnya Athaya menatap ke arah Ofar dan Jasmine.
"Ayo sini, ikutan foto." Teriak Ofar lagi.
Ragu, tapi Athaya tetap melangkah mendekatiku mereka. Apalagi ketika Jasmine semakin menarik tangam Athaya untuk mendekat. "Hasil foto Om Ofar bagus loh, Bun," kata Jasmine polos.
"Okey, sudah siap?" Ofar mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka. "Satu ... dua ...."
"Eh, ikutan, dong." Ghufran tiba-tiba muncul. Membuat suasana hati Ofar menjadi berantakan. Dan tanpa aba-aba, Ghufra langsung menggandeng Athaya sambil tersenyum menatap kamera.
Ofar diam sejenak, ia sedikit dongkol dengan Ghufran. Lalu menatap Athya yang hanya diam saja mengikuti gaya Ghufran.
Dengan terpaksa Ofar memotret mereka.
"Bagus nggak hasilnya, Far?" Ghufran mendekati Ofar dan menatap laya ponselnya. "Wah, bagus banget. Ini foto pake ponsel kamu?"
"Iya, Mas."
"Kirim ya." Ghufran pun mengeluarkan ponselnya juga. Benar-benar membuat Ofar jadi bete setengah mati.
Setelah selesai mengirim foto dan Ghufran pergi. Ofar segera mengedit fotonya dan menge-Crop Ghufran. Sehingga hanya ada foto Athaya dan Jasmine saja. Tak hanya itu, Ofar juga banyak memotret Athaya diam-diam sebagai kengangan.
Setelah menghabiskan banyak waktu di taman hingga siang hari. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat makan siang di sekitar sana. Mereka duduk di satu meja sambil melihat-lihat menu, dam Athaya bertugas mencatat pesanan mereka.
"Ini sudah semua pesanannya?" Tanya Athaya memastikan.
"Sudah, Bun," jawab Ghufran.
Athaya bangkit dari kursi, lalu berjalan menuju kasir sambil memberikan pesanannya.
"Aku ke toilet bentar ya." Ofar beranjak dari kursi.
Ia mencari alasan pergi ke toilet, padahal Ofar menghampiri Athaya di kasir. Untunglah posisi meja mereka dan kasir cukup jauh dan berlawanan arah sehingga Ghufran tidak bisa melihat mereka.
Ofar tiba-tiba muncul di samping Athaya sambil memeluk pinggang Athaya.
"Eh." Athaya kaget. "Ofar...." Athaya syok. "Kamu ngapain di sini?" Athaya berbisik dengan gemas.
"Biar aku yang bayar." Ofar tersenyum. Ia mengeluarkan dompet dari saku celananya. "Berapa semuanya, Mba?" Tanya Ofar pada Mba-mba kasir.
"Totalnya tiga ratus lima puluh enam ribu, Pak."
"Bisa debet?"
"Bisa, Pak."
Ofar mengeluarkan kartu debetnya.
"Ofar, kamu nggak perlu ngebayarin segala. Mas Ghufran sudah memberikan kartu debetnya dengan aku," ucap Athaya.
"Tha, aku juga punya uang kok untuk bayarin ini. Toh, uangnya nggak sebarapa. Aku nggak sekere dulu." Ofar tertawa geli.
Athaya ikut tertawa. "Aku nggak bilang kamu kere, loh. Tapi—"
"Tenang aja, aku nggak akan jatuh miskin karena bayarin makan kita siang ini."
"Yasudah deh, terserah kamu."
Athaya menyimpan dompetnya kembali ke dalam tas. Dan Mba-mba kasir tadi mengambil kartu debet Ofar untuk segera memproses pembayaran.
"Besok ada waktu nggak?" Ofar berbisik di telinga Athya. Membuat perempuan itu was-was.
"Ini di tempat umum." Athaya mencubit pinggang Ofar gemas.
"Tapi, Ghufran nggak lihat kok, tenang aja."
Athaya menghela napas.
"Jawab dulu pertanyaan aku, besok kamu ada waktu nggak?"
"Kenapa memangnya?"
"Aku mau ngajak kamu ke studio aku. Mau nggak?"
Athaya menelan ludah, ia menatap Ofar dengan ragu.
"Ghufran nggak ada di rumah, kan?"
"Ssshhhh...." Athaya meletak telunjuknya di depan bibir sambil menatap Mba kasir di depan mereka.
"Ini, Mas. Sudah." Mba kasir memberi kartu debet Ofar kembali.
"Terima kasih," jawab Ofar dengan senyuman yang diyakini bisa membuat mba kasir tersebut terpesona.
"Terima kasih, Mba." Athaya ikut menjawab, lalu ia hendak melangkah pergi.
Tapi, Ofar menahan lengannya.
"Ofar...." Athaya melotot. "Kalau Mas Ghufran lihat kita, gimana?"
"Jawab dulu, besok kamu mau ikut aku ke studio?"
"Aku nggak mau ambil resiko. Aku nggak mau."
"Ayolah, Tha. Cuma sebentar."
Athaya menggeleng. "Aku harus cari alasan apa dengan Mas Ghufran?"
"Apapun itu. Pleaseeee...." Wajah Ofar memelas. "Sekali ini saja, ikutlah denganku."
Athaya menghela napas berat sampai dadanya kembang-kempis.
"Pleasee...." Ofar menelengkan kepala dan menatap Athaya penuh mohon.
"Oke," jawab Athaya singkat. Lalu menarik tangannya dari sentuhan Ofar dan segera menjauh.
.
.
.
TBC