13. Ciuman Selamat Malam

1145 Words
"Loh, habis dari mana berdua?" Ghufran menatap Athaya dan Ofar yang muncul bersamaan. Athaya kaget karena Ofar mengikutinya dari belakang. Harusnya Ofar bisa bersikap lebih legowo. "Ng—tadi Ofar maksa buat bayarin makan kita," kata Athaya akhirnya sambil duduk lagi di kursi. "Waduh." Ghufran menatap Ofar kaget. "Jangan repot-repot, Far." Ofar terkekeh sambil ikut duduk bersama mereka. "Nggak ada yang merasa direpotkan, kok. Aku juga ikutan makan, Mas." "Tapi ini satu banding tiga." "Hahaha, bisa saja Mas ini." Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun tiba. Ofar memesan mie goreng baso dan teh hangat, Athaya memesan nasi goreng spesial dan Jus Jeruk, Ghufran memesan nasi goreng seafood dan air mineral, Jasmine memesan Ayam teriyaki dan Jus Alpukat. Lalu ada cemilan seperti dimsum, siomay dan kentang goreng. Mereka menikmati makanannya dengan hikmat sampai tidak mengeluarkan suara sepatah katapun. Kecuali Jasmine yang merecoki makanan mereka semua dan ingin mencoba satu per satu. "Kamu juga mau coba, sayang." Ghufran bersiap hendak menyuapkan Athaya makanannya. Tapi Ofar sadar kalau di dalam nasi goreng milik Ghuftan tersebut ada udang, dan Ofar langsung menyingkirkan sendok makan Ghufran. "Jangan! Athaya alergi seafood!" Bentak Ofar hingga sendok di dalam genggaman Ghufran terjatuh ke lantai. Ghufran dan Athaya syok menatap sikap Ofar. Dan suasana mendadak canggung. "Ah iya, bukannya kamu pesan nasi goreng sesfood ya, Mas. Aku kan, alergi seafood." Athaya berusaha untuk mencairkan suasana. Ghufran sempat terbengong beberap saat. "Iya, Mba Athaya bukannya pernah bilang begitu ya." Ofar juga berusaha untuk memperbaiki kalimatnya tadi. "Astaga...." Ghufran menepuk jidat. "Bagaimana mungkin aku lupa." Jantung Athaya berdebar sangat kencang, ia khawatir kalau Ghufran jadi mencurigai mereka. "Hehe nggak apa-apa kok, Mas. Lupa kan, hal yang wajar." Athaya mengusap punggung tangan Ghufran seraya menangkan. Sejujurnya, Selama lima tahun mereka menikah, Ghufran belum tahu kalau Athaya alergi seafood. Banyak yang tidak mereka ketahui tentang diri mereka masing-masing. Dan Athaya tidak pernah seterbuka itu dengan Ghufran. Kalau pun Ghufran mengajaknya makan seafood, Athaya selalu menolak dengan bijak. Ghufran mungkin merasa malu dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia tidak tahu kalau Athaya alergi seafood. Dan hampir saja membuat istrinya celaka. Kursi berderit ketika Ghufran beranjak. "Aku ke toilet sebentar." Dalam hitungan detik saja, Ghufran sudah menghilang ke toilet. "Apa yang kamu lakukan, sih?" Athaya langsung memelototi Ofar. Tidak peduli dengan keberadaan Jasmine yang tengah asyik menikmati makanannya. "Suaminu, hampir membunuhmu sendiri!" Seru Ofar tak kalah kesalnya. "Mas Ghufran hanya lupa," alibi Athaya. "Memangnya aku bodoh? Dia bukan sekadar lupa, tapi dia nggak tahu! Gimana mungkin dia nggak tahu kalau istrinya alergi seafood!" "A-aku, aku memang nggak pernah kasih tahu Mas Ghufran." Ofar geleng-geleng kepala. "Aku bahkan masih ingat kejadian dulu, ketika kamu coba makan seafood dan tubuhmu seperti terbakar dilahap api. Aku nggak tega lihat kamu merintih dan menangis Seperti dulu." Ofar mengomelinya. "Maaf...." "Apalagi yang dia nggak ketahui tentang kamu? Ha?! Jangan sampai dia mencelakaimu kamu lagi!" Emosi Ofar tampak kalut. Athaya diam sejenak. "Banyak hal." "Termasuk petir? Dia tahu kamu takut petir?" "Jasmine tahu, Om!" Jasmine mengacungkan tangan. Membuat emosi Ofar yang tadinya kalut, perlahan kian surut. "Jasmine kok bisa tahu, sih?" Tanya Ofar sambil mengelus lembut rambut Jasmine. "Jasmine pernah lihat Bunda sembunyi di balik selimut setiap kali ada petir, hihihi." Ofar dan Athaya saling bertatapan. "Dia nggak tahu, kan?" "Far.... Mas Ghufran itu terlau sibuk untuk mengurusi hal yang begituan." "Hal yang begituan, ya." Ofar terkekeh. "Bullshit. Dia emang nggak perhatian sama kamu. Aku tahu itu." "Dia perhatian dan baik dengan aku, hanya saja ... aku nggak pernah sadar." Tak lama kemudian Ghufran kembali bergabung bersama mereka di meja. Dan mendadak suasa berubah menjadi hening. Setelah semua makanan yang telah dipesan habis tanpa sisa, mereka pun kembali menuju mobil. Ghufran dan Jasmine berjalan lebih dulu. Sedangkan Ofar, menarik tangan Athaya sejenak. "Kalau suamimu tidak bisa menjaga kamu dengan baik, maka aku yang akan menjagamu, Athaya," ucap Ofar serius sambil menatap manik mata Athaya lekat-lekat. *** Akhirnya mereka tiba di rumah ketika matahari sudah menghilang dari permukaan langit dan digantikan oleh Bulan dan bintang. "Mas, makasih banyak ya untuk jalan-jalannya." Ofar mengambil beberapa barangnya di bagasi. "Ntar kapan-kapan ikut kita lagi ya jalan-jalan." Ajak Ghufran dengan tulus. "Hahaha, boleh, Mas." "Oh iya, mau ikutan gabung makan malam di rumah nggak?" Tawar Ghufran. Karena sebelum sampai rumah, Ghufran sempat berhenti membeli makanan untuk dimakan saat di rumah." "Enggak, Mas. Aku nanti gofood aja." "Yasudah kalau begitu. Selamat istirahat ya." Akhirnya mereka pun berpisah dan masuk ke dalam rumah masing-masing. Jujur saja Ofar akui, kalau Ghufran adalah lelaki yang baik. Tapi, tidak ada yang sebaik Ofar saat memahami sifat dan kelemahan-kelemahan Athaya. Sesampainya di rumah, Ofar langsung beres-beres. Rumahnya tercium aroma busuk, mungkin ada beberapa makanan yang ia tinggal begitu saja di dalam tudung saji dan lupa dibuang. Tapi besok sajalah Ofar bereskan. Yang terpenting saat ini, dia harus segera mandi agar tubuhnya lebih Segar. *** Di rumahnya, Athaya dengan sigap membereskan barang bawaannya. Menyusun perlengkapan yang ia bawa dari tas ke dalam lemari. Mengambil semua pakaian kotor dan menaruhnya di keranjang. Lalu, mempersiapkan makan malam untuk suami dan anaknya. Athaya bisa melakukan pekerjaan rumah dengan cepat. "Sayang, sepertinya aku beli makanan ini kebanyakan, deh." Ghufran menyisihkan dua bungkus makanan yang ia beli lebih. "Mending diberikan kepada Ofar saja ya. Karena sepertinya dia juga belum makan." "Biar aku saja yang anter makanan ini ke rumahnya, Mas," ucap Athaya dengan ragu. "Wah, boleh kalau kamu nggak keberatan." Untunglah Ghufran tidak menaruh curiga sedikitpun. Athaya pun segera membawa makanannya menuju rumah Ofar. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menekan bell rumah. Hanya beberapa menit saja, Ofar langsung membuka pintu untuk Athaya. Kening Ofar mengkerut. "A-aku mau nganterin makanan ini buat kamu." Athaya mengangkat bungkus makanannya dengan tinggi. "Oh." Kedua alis Ofar terangkat. "Silakan masuk." Ofar membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Awalnya Ragu, tapi Athaya tetap melangkah pelan memasuki rumah Ofar. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam rumah Ofar. Jantungnya berdebar sangat kencang. "Makanannya mau ditaruh di mana?" tanya Athaya. "Di dapur aja." Athaya terus melangkah menuju dapur. Ia ingin muntah saat mencium aroma tidak sedap di dapur. "Astaga, Far. Kenapa kamu simpen sampah, sih?" Athaya membuang sisa makanan basi di tudung saji ke dalam tempat sampah. "Aku lupa." Ofar mengeringkan rambutnya dengan handuk karena dia baru saja selesai mandi. "Yaudah, ini aku taruh di sini ya." Athaya meletakkan bungkus makanan Ofar di atas meja makan. Ketika membalikan badan, ia justru tabrakan dengan tubuh Ofar yang sepertinya sengaja berdiri tepat di belakang Athaya. Ofar tidak ingin basa-basi lagi. Baru beberapa menit tidak bertemu, dia sudah merindukan Athaya. Ofar pun mengangkat dagu Athaya dan mencium bibir wanita itu. Athaya selalu menikmati ciuman Ofar yang lembut. Tapi hanya beberapa detik saja, Athaya langsung menarik diri. "Sorry, suamiku udah nunggu." Ofar terkekeh melihat wajah Athaya yang bersemu merah. "Jadi besok aku jemput kamu pukul berapa?" Teriak Ofar ketika Athaya melangkah mendekati pintu rumah. "Besok aku kabari." Dan Athaya pun menghilang dari rumah Ofar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD