Bab 7. Munafik

1092 Words
Alvian yang tengah asik bermain dengan area sensitif istrinya seketika terperanjat saat wanita itu tiba-tiba saja menegurnya di sela-sela suara desahan yang terdengar samar-samar membuatnya sontak menghentikan aksinya dengan perasaan gugup. Alvian seketika memejamkan kedua mata seraya bangkit lalu duduk tegak. "Ka-kamu udah bangun ternyata," sahutnya seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. Yuanita dengan wajah masamnya segera memperbaiki celana yang ia kenakan begitupun dengan bagian atasnya yang nampak sudah tidak beraturan. "Dasar kamu, ya. Ternyata setan penghuni kamar ini kamu sendri?" cecarnya kesal. "Kamu bilang kamu gak akan nyentuh aku, hah? Terus, ini apa? Dasar munafik. Dasar cowok gak punya prinsip!" Alvian mengusap bagian belakang lehernya sendiri seraya tersenyum cengengesan. "Ya ... ya ... emang ini 'kan yang kamu mau dari kemarin?" tanyanya terbata-bata menahan rasa malu. "Ya udah, saya cuma mau wujudin kemauan kamu, Yun!" "Yun? Kamu pikir nama aku Yuyun?" "Yuanita kepanjangan, disingkat aja jadi Yun. Gitu aja ko marah?" "Namaku Yuanita, bukan Yun," sahut Yuanita tegas dan penuh penekanan. "Enak aja main rubah-rubah nama orang sembarangan!" Alvian yang sudah terlanjur b*******h mulai merasa gelisah. Keringat dingin nampak membasahi pelipis wajahnya, napasnya pun tersengal-sengal seakan tenggorokannya tercekal membuatnya kesulitan untuk menghirup oksigen. Belum lagi, sosis jumbo miliknya sudah meronta-ronta ingin segera dipuaskan. "Sudahlah, jangan diperpanjang. Masa cuma gara-gara salah nyebut nama doang, kamu jadi marah gini," ujarnya seraya menghela napas panjang. "Ini tuh bukan karena kamu salah nyebut nama, tapi kamu udah lancang nyentuh aku tanpa izin," jawab Yuanita dengan kedua mata membulat. "Apa kamu lupa kamu pernah manggil aku apa, Mas? Kamu memanggilku p*****r, w************n, katanya kamu gak menyentuh sembarang wanita?" Alvian seketika memalingkan wajahnya ke arah lain. Jika ditarik mundur, ia memang sudah terlalu banyak mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Ya, meskipun ia menyesalinya sekarang karena imannya tidak sekuat apa yang ia bayangkan. Dirinya tidak kuasa untuk menahan diri ketika melihat tubuh indah istrinya. Itu artinya, Alvian benar-benar pria perkasa dan gosip murahan yang beredar di luaran sana sama sekali tidak benar. "Ya udah saya minta maaf, Yun. Saya ngaku salah, saya udah banyak mengatakan hal yang menyakiti perasaan kamu," lirih Alvian mencoba untuk memenangkan hati istrinya hanya sekedar ingin dilayani. "Nama aku bukan Yun. Astaga!" decak Yuanita semakin merasa kesal. "Iya, Yuanita. Maaf, saya janji gak bakalan salah manggil nama kamu lagi." "Kamu bersikap kayak gini cuma gara-gara pengen aku layani, 'kan?" Alvian seketika bergeming tidak tahu harus menjawab apa karena memang seperti itulah kenyataannya. "Kenapa kamu diem aja, Mas Alvian?" "Ya apa salahnya minta dilayani sama istri sendiri? Kita suami istri lho." "Ya emang gak ada yang salah sama status kita suami istri, tapi salah kamu sendiri karena gak bisa mengontrol ucapan kamu," sahut Yuanita. "Pokoknya, pindah ke ranjang kamu sekarang juga. Aku gak sudi melayani kamu sebelum kamu--" Yuanita seketika menahan ucapannya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sebelum kamu apa? Kenapa gak dilanjutin ngomongnya?" "Sebelum kamu benar-benar menganggap aku istri kamu, sebelum kamu benar-benar cinta sama kamu, sebelum kamu menarik semua ucapan kamu waktu itu, aku gak akan pernah mau melayani kamu, Mas!" "Tapi dosa lho menolak permintaan suami." "Terus, suami yang menghina istrinya bahkan mengatai istrinya p*****r gak dosa, gitu?" Alvian kembali terdiam seraya menarik napas panjang. "Kenapa kamu masih di sini? Cepetan balik ke ranjang kamu, bukannya kamu sendiri yang nyediain dua ranjang di kamar ini?" ucapan Yuanita semakin tegas, sementara Alvian bak kucing lapar yang batal mendapat jatah makan. "Oke, saya bakalan balik ke ranjang saya," jawabnya, tubuhnya benar-benar terasa lemas, tenaganya seakan habis terkuras. "Ya udah sana!" bentak Yuanita. "Pokoknya awas aja ya kalau kamu naik ke ranjang ini lagi. Aku laporin kamu ke kakek, paham?" Alvian mendengus kesal lalu perlahan mulai berpindah ranjang. Junior miliknya yang semula menegang pun mulai melemas menyisakan rasa pusing di kepala. Jika seorang laki-laki yang sedang ingin bercinta, tapi gagal mendapatkan kenikmatan maka darahnya akan naik ke ubun-ubun dan menimbulkan rasa pusing. Itulah yang sedang dialami oleh Alvian. "Dasar asem, kenapa dia harus bangun segala sih? Kemarin masih aman-aman saja, dia gak bangun waktu saya gerayangi," batin Alvian seraya meringkuk membelakangi sang istri. Yuanita diam-diam menahan senyuman di bibirnya seraya menutup hampir seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Rasanya benar-benar lega setelah memergoki suaminya sendiri. Ternyata, Alvian adalah pria perkasa. Gosip murahan yang tersebar di luaran sana sama sekali tidak benar. Ya, meskipun rasanya tetap saja kesal ketika tubuhnya dijamah tanpa izin. Untungnya ia tidak terpancing, Yuanita mampu menahan hasratnya, meskipun keinginan itu sempat menguasai jiwanya. Sebagai wanita normal, ia tentu saja terangsang ketika tubuhnya disentuh, apalagi area sensitifnya dimainkan sedemikian rupa. Yuanita tidak akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri selama pondasi utama belum berdiri kokoh menopang rumah tangganya yang baru seumur jagung yaitu, cinta. Ya, pondasi utama dalam berumah tangga adalah cinta. "Pokoknya aku gak akan pernah sudi melayani kamu, Mas. Dosa-dosa sekalian, tapi aku lega karena kamu beneran laki-laki sejati. Kamu bukan boti seperti apa yang aku sangka selama ini," batin Yuanita perlahan mulai memejamkan kedua matanya. *** Keesokan harinya pukul 07.00, Alvian memasuki ruang makan sudah berpakaian lengkap. Jas berwarna hitam nampak sudah membalut tubuh kekarnya, dasi dengan warna yang sama melingkar rapi menyempurnakan penampilan pria berusia 35 tahun itu lengkap dengan rambutnya yang disisir dan agak basah. Aroma minyak wangi seketika menguar saat pria itu melintasi Yuanita yang sudah duduk di meja makan. Wanginya begitu khas dan menyengat, tapi begitu menyegarkan. "Hari ini kakek pulang dari Rumah Sakit, Yun. Kamu mau ikut saya jemput ke sana nggak?" tanya Alvian seraya duduk di kursi makan. Bukannya menanggapi ucapan suaminya, Yuanita seketika mendengus kesal seraya menghela napas panjang. "Yun lagi Yun lagi. Namaku bukan Yuyun, Mas Alvian. Kesel deh!" "Apaan sih, suka-suka saya dong mau manggil kamu apa," decak Alvian datar. "Yuanita, panggil aku Yuanita, Mas. Aku gak suka di panggil Yun, Yun, Yun! Apaan sih?" Alvian tidak menanggapi ucapan istrinya, pria itu meraih cangkir berisi kopi lalu meneguknya pelan seolah begitu menikmati minuman yang mengandung kafein itu. Sampai akhirnya, Rizky asisten pribadi Alvian memasuki ruang makan seraya menggenggam ponsel canggih di telapak tangannya. "Selamat pagi, Pak Bos," sapanya berdiri tepat di samping Yuanita yang tengah duduk di kursinya. "Saya dengar hari ini Tuan Besar pulang dari Rumah Sakit. Itu sebabnya saya datang ke sini pagi-pagi." Yuanita seketika menoleh dan menatap ke arah Rizky, pria berkulit putih dan berwajah tampan. Tatapan mata seorang Yuanita teralihkan kepada ponsel yang tengah digenggam oleh pria itu. Kedua matanya seketika membulat saat melihat ada yang aneh dengan wallpaper yang terpasang di layar ponsel canggih itu. "Apa aku gak salah liat? Itu wallpaper hp-nya si Rizky potonya Mas Alvian?" batin Yuanita merasa terkejut. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD