Bab 6. Digerayangi Set4n

1011 Words
Alvian sontak memutar badan dengan perasaan malu, junior miliknya benar-benar masih berdiri tegak hingga menonjol di balik celana boxer yang ia kenakan. Apalagi, Yuanita dalam keadaan setengah polos hanya menggunakan handuk berwarna putih yang melingkar menutup bagian atas tubuh indahnya. "Mas Alvian? Hahahah! Kamu kenapa, Mas? Itu sosis jumbonya kenapa berdiri gitu?" tanya Yuanita membuat pria berusia 35 tahun itu semakin dibuat malu karenanya. "Ngo-ngomong apa kamu, hah?" bentak Alvian jantungnya seketika berdetak kencang. "Lagian, kalau mau mandi itu ya bawa baju ganti, Yuanita? Astaga!" Yuanita berjalan mendekati suaminya seraya tertawa nyaring hingga kedua matanya berair. Tingkah Alvian benar-benar lucu, pria itu bahkan kembali memutar tubuhnya tidak ingin Yuanita melihat wajahnya yang memerah. Yuanita dengan sengaja berdiri tepat di belakang suaminya lalu menyentuh punggungnya lembut dan mengusapnya pelan penuh gairah. "Mas," lirihnya dengan setengah berbisik sengaja menggoda suaminya. "Sini dong liat aku. Kamu yakin mau melewatkan malam pertama kita?" Bukannya menanggapi pertanyaan istrinya, Alvian seketika berlari ke arah kamar mandi lalu masuk ke dalam sana dengan napas yang tersengal-sengal. Rasa kesal dan sesuatu yang aneh seolah melebur menjadi satu, jiwanya benar-benar bergejolak seolah menginginkan sesuatu. Alvian berdiri tepat di belakang pintu dengan d**a yang terlihat naik turun. "Astaga, situasi macam apa ini?" decaknya seraya mengusap wajahnya kasar. "Ini kenapa si junior berdiri terus sih?" Alvina mulai berjalan ke arah bathub lalu sengaja mengisinya dengan air dingin. Ia ingin meredam hawa panas yang terasa membakar tubuhnya bahkan membuat keringatnya mulai bercucuran. Pria itu pun melucuti satu-persatu kain yang melingkar ditubuhnya lalu benar-benar berendam air dingin tidak peduli meskipun malam sudah semakin larut. "Akh! Akhirnya tenang juga si junior," gumam Alvian seraya menatap junior miliknya yang sudah terlihat tenang di dalam air. "Dasar asem, si Yuanita sengaja menggoda saya, awas aja kau, Yuanita. Saya akan balas perbuatan kau ini." *** Setelah berendam selama hampir 30 menit lamanya, tubuh Alvian akhirnya benar-benar terasa segar. Hawa panas yang semula terasa menyiksa pun perlahan mulai mereda begitu pun dengan juniornya yang sudah nampak tenang tidak setegang sebelumnya. Alvian dengan mengenakan kimono handuk keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang basah juga agak sedikit berantakan. "Syukurlah si Yuanita udah tidur," gumamnya seraya menatap tubuh Yuanita yang meringkuk di atas ranjang. Namun, wanita itu terlihat mengenakan lingerie berwarna merah terang transparan tanpa ditutup selimut tebal. Alvian kembali mendengus kesal, "Apa dia sengaja pake baju kayak gitu buat menggoda saya? Heuh, saya gak akan pernah tergoda sama dia meskipun dia telanjang sekali pun." Alvian berjalan mendekati ranjang miliknya lalu meringkuk di atas sana dengan menutup separuh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Tatapan matanya nampak tertuju kepada tubuh indah sang istri yang terlihat menggoda memperlihatkan bagian dalamnya nampak samar-samar membuat pria itu seketika menelan salivanya kasar. Alvian seketika memutar badan tidak ingin tergoda dengan kemolekan tubuh wanita yang sebenarnya sudah halal untuk dia sentuh. "Ya Tuhan, kuatkanlah iman hambamu ini," gumamnya sebelum akhirnya menutup kedua matanya mencoba untuk terlelap. *** Keesokan harinya, tepatnya pukul 05.00, tubuh Yuanita seketika menggeliat seraya mengedipkan pelupuk matanya secara berkali-kali. Hawa dingin terasa membasuh kulit tubuhnya membuat wanita itu seketika membuka kedua matanya yang sebenarnya masih terasa berat. Yuanita terperanjat saat mendapati pakaian yang ia kenakan sudah tidak beraturan, penutup tebal yang ia kenakan pun sudah tidak menampung isinya yang padat dan berisi. Wanita itu pun seketika bangkit lalu duduk tegak seraya menoleh dan menatap wajah suaminya yang masih terlelap. "Mas Alvian!" teriaknya memekikkan telinga membuat Alvian yang masih terlelap seketika terjaga. "Apaan sih pagi-pagi udah teriak-teriak aja?" decak Alvian membuka kedua matanya dengan sangat terpaksa. "Kamu apakan aku semalam, hah?" bentak Yuanita seraya merapikan penutup tebal hingga menampung dadanya yang sempat keluar. "Kamu bilang gak akan menyentuh aku, tapi kenapa pakaian aku jadi kayak gini? Dasar munafik!" Alvian seketika bangkit seraya membuka mulutnya lebar-lebar. "Apa maksud kamu, Yuanita? Siapa yang nyentuh kamu sih?" "Ya kamulah, masa setan!" bentak Yuanita. "Nggak, saya gak nyentuh kamu ko. Kita 'kan tidur terpisah. Jangan ngarang, ya," sangkal Alvian seraya tersenyum menyeringai. "Kalau bukan kamu siapa lagi, hah? Emangnya rumah ini ada setannya apa?" "Ya gak taulah, siapa suruh kamu pake baju kayak gitu?" Yuanita terdiam sejenak seraya memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan. Wanita itu pun diam-diam menyentuh area privasinya. Segitiga yang menutupi area sensitifnya terasa basah, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sudah melakukan hubungan suami istri. Rasanya ada sesuatu yang ganjil di sini. "Kayaknya kamar ini beneran ada setannya deh," decak Yuanita seraya menatap sekeliling, tidak mungkin juga jika suaminya yang sudah menggerayangi tubuhnya semalam. "Lain kali pake baju yang wajar-wajar aja, gak usah pake baju kurang bahan kayak gitu. Gak takut masuk angin apa?" decak Alvian kembali berbaring dengan perasaan kesal. "Emangnya beneran ya aku habis digerayangi sama setan?" batin Yuanita mencoba untuk berpikir logis. Ia pun mengusap tengkuknya yang terasa merinding lalu kembali berbaring seraya menatap punggung suaminya yang meringkuk di ranjang yang berbeda. *** Keesokan harinya tepatnya pukul 22.00 WIB, Yuanita memutuskan untuk tidur dengan pakaian tertutup. Piyama panjang berwarna ungu muda nampak membalut tubuh indahnya. Wanita itu meringkuk dengan menutup hampir seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. "Semoga malam ini aman gak ada setan yang menggerayangi tubuhku lagi," gumam Yuanita seraya merapikan selimut yang menutupi tubuhnya. "Hmm! Kayaknya harus baca doa tidur dulu deh." Yunita memejamkan kedua matanya seraya membaca doa tidur yang sering ia baca sewaktu kecil. Setelah membaca doa tidur agar dirinya tidak diganggu oleh makhluk halus, wanita itu pun mulai mencoba untuk terlelap dan berharap kejadian seperti semalam tidak terulang lagi. Sementara Alvian belum memasuki kamar, ia sama sekali tidak peduli dengan keberadaan suaminya saat ini. Dua jam berlalu, tubuh Yunita seketika menggeliat saat merasakan telapak tangan seseorang terasa menggerayangi tubuhnya. Bagian dadanya terasa diremas lembut bahkan tanpa ragu memainkan puncaknya membuat wanita itu seketika mendesah. Tidak hanya itu saja, area sensitifnya pun dimainkan sedemikan rupa membuat Yuanita kembali mengeluarkan suara desahannya tanpa sadar, rasanya terasa menggelitik membuat gairahnya seketika naik. Ditengah rasa kantuknya, wanita itu akhirnya membuka kedua matanya dengan sangat terpaksa. "Akh! Mas Alvian, kamu lagi ngapain?" tanyanya, wajah Alvian terlihat samar-samar berada tepat di sampingnya. "Ter-ternyata kamu setannya, Mas. Akhhh! Dasar munafik kau, Mas!" Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD