Rizky mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Alvian tidak pernah bergerak sendiri, majikannya itu selalu memintanya untuk menyelesaikan apapun masalah yang terjadi sekecil apapun itu. Rizky merasa posisinya sebagai orang kepercayaan Alvian tersisihkan. "Permisi, Mas. Anda sekretarisnya Pak Alvian, 'kan?" tanya sang wartawan membuat Rizky kembali menoleh dengan wajah datar. "Bisa Anda hubungi atasan Anda, Mas? Kami disuruh kumpul di sini jam delapan pagi, Pak Alvian ko belum datang, ya?" "Heh, saya bukan sekretarisnya dia, ya. Saya ini asisten pribadinya Pak Alvian, bukan sekretarisnya. Sekretaris sama asisten pribadi itu beda!" jawab Rizky penuh emosi Sang wartawan seketika mendengus kesal kemudian berlalu meninggalkan Rizky dengan wajah masam. Ia sudah bertanya secar

