"Pokoknya Kakek gak mau tau, bulan depan kamu harus kawin, titik!" tegas Abimanyu penuh penekanan.
"Sebelum saya menikah sama wanita pilihan Kakek, saya ingin tau asal usul wanita itu dulu, kek," pinta Alvian.
"Gak usah, Kakek gak akan salah milihin istri buat kamu, Alvian. Percayalah sama Kakek kamu ini. Dia itu wanita baik-baik, Alvian."
"Baik-baik gimana? Kalau si Yuanita itu emang wanita baik-baik, mana mungkin dia telanjaang di depan laki-laki?" seru Alvian kesal. "Kalau dia wanita bener, gak mungkin dia mau tidur sama saya."
Abimanyu seketika tersenyum cengengesan setelah mendengar kalimat terkahir yang baru saja diucapkan oleh sang cucu. "Jadi, kalian beneran udah tidur bareng?"
"Kakek!"
"Apa, apa, apa? Kakek cuma mau membuktikan kalau kamu itu beneran cowok normal, kamu bukan cowok boti seperti gosip yang beredar di luaran sana, Alvian. Apa kamu tau betapa sakitnya hati Kakek kamu ini mendengar gosip murahan itu, hah?"
Alvian seketika mengusap wajahnya kasar dengan kedua mata terpejam tanpa menimpali ucapan sang Kakek.
"Pokoknya bulan depan kamu harus kawin sama si Yuanita. Tidak boleh ada penolakan," tegas sang kakek kembali menekankan.
"Tapi dia itu p*****r, kek?"
"Kata siapa dia p*****r? Kasar sekali ucapan kamu, Alvian!" Abimanyu mulai naik pitam.
"Sekarang saya mau tanya sama Kakek, Kakek bayar berapa di Yuanita itu? Kakek bayar berapa biar w************n itu mau tidur sama saya?"
Telapak tangan Abimanyu seketika melayang lalu mendarat keras di rahang Alvian membuat wajahnya terlempar ke arah samping.
"Dasar cucu gak tau diri!" bentak Abimanyu murka. "Sejak kapan mulut kamu jadi kotor kayak gitu, hah? Kakek gak pernah mengajarkan kamu bicara sekotor itu!"
Alvian terdiam sejenak mencoba untuk menahan rasa nyeri di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa sang kakek akan tega menamparnya seperti ini. Sekesal apapun Abimanyu kepadanya, semarah apapun pria tua yang sudah merawat dan membesarkannya itu, Abimanyu Syailendra tidak pernah melakukan kekerasan fisik karena ia adalah satu-satunya cucu yang dimiliki oleh sang Kakek. Orang tua Alvian tewas karena kecelakaan 20 tahun yang lalu, sejak itu ia dirawat oleh kakeknya. Alvian selalu dimanjakan, ia tidak pernah kekurangan apapun karena Abimanyu selalu memberikan apa yang ia inginkan, tapi sekarang hanya karena wanita bernama Yuanita, Abimanyu tega menamparnya.
Alvian memejamkan kedua matanya mencoba untuk menahan rasa panas yang perlahan mulai menjalar di permukaan wajahnya. Rasanya nyeri, kulit wajahnya seperti terbakar, tapi hatinya lebih sakit dari pada itu.
"Kakek tega menampar saya gara-gara w************n itu?" lirih Alvian kembali membuka kedua matanya lalu menoleh dan menatap wajah sang kakek.
"Apa kamu tau gimana perasaan Kakek saat mendengar gosip murahan tentang kamu, hah?" bentak Abimanyu. "Kakek ngerasa jadi orang tua yang gagal! Kakek malu sama mendiang orang tua kamu, Alvian!"
"Tapi kenapa w************n itu yang harus jadi istri saya, Kek? Dia itu gak ada bedanya sama pelacuur."
Telapak tangan Abimanyu kembali melayang ke udara, tapi tidak segera mendarat di wajah cucunya. Pria tua itu nampak meringis, telapak tangan yang hendak mendarat di wajah Alvian pun kini mendarat di dadanya sendiri.
"Argh!" ringis Abimanyu seraya memejamkan kedua matanya.
"Kakek," seru Alvian terkejut. "Kakek kenapa, Kek?"
"Da-d**a Kakek sakit banget," jawab Abimanyu sebelum akhirnya tidak sadarkan diri, tubuhnya seketika ambruk di dalam pelukan sang cucu.
"Astaga, Kakek. Kakek kenapa? Bangun, Kek!" sahut Alvian seketika dilanda rasa khawatir.
***
Abimanyu dilarikan ke Rumah Sakit saat itu juga. Dokter yang bertugas pun segera memeriksa keadaan pria tua itu. Beruntung, keadaanya baik-baik saja dan segera dipindahkan ke ruangan rawat inap. Alvian tidak beranjak sedikitpun dari sisi sang kakek. Pria itu senantiasa menemani meskipun wajah Abimanyu terlihat murung bahkan sinis. Pria itu nampak berbaring di atas ranjang sementara Alvian tengah duduk di sofa seraya memeriksa berkas penting.
"Tolong panggilkan pengacara Kakek ke sini," pinta Abimanyu dingin.
"Buat apa Kakek manggil pengacara ke sini, Kek?" tanya Alvian sontak berdiri tegak lalu berjalan menghampiri sang Kakek.
"Buat apa lagi, Kakek mau menyumbangkan seluruh harta kakek sama yayasan, perusahaan itu juga. Kakek akan minta dinas sosial buat mengelolanya. Jadi, kamu segera angkat kaki dari perusahaan itu."
"Astaga, Kek. Kakek ini lagi sakit lho, jangan mikirin hal itu dulu," pinta Alvian seraya menghela napas panjang.
"Justru karena Kakek lagi sakit, Kakek gak tau kapan malaikat maut bakalan jemput Kakek."
"Kakek," rengek Alvian, kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Jangan ngomong kayak gitu, saya mohon. Saya gak sanggup kalau harus kehilangan Kakek. Cuma Kakek satu-satunya yang saya miliki."
"Kalau kamu gak pengen Kakek mati penasaran, cepat nikahi Yuanita. Kalau perlu sekarang juga di sini."
"Hah? Di-di sini? Di Rumah Sakit?" Alvian seketika terperanjat.
"Itu juga kalau kamu mau, kalau nggak ya ... kamu bakalan liat Kakek mati penasaran."
"Tapi kenapa harus si Yuanita? Saya bisa cari jodoh saya sendiri, Kek!" rengek Alvian.
Pertemuan pertamanya dengan wanita itu menyisakan rasa jijik. Bagaimana bisa seorang wanita telanjang di depan laki-laki yang baru dikenal bahkan tidur dengannya meskipun ia sendiri tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi malam tadi, bercak darah yang ia lihat di sprei sudah cukup memberikan bukti bahwa memang sudah terjadi sesuatu di antara mereka.
"Tapi kalian udah tidur bareng, Alvian. Kamu mau jadi pengecut dan lari dari tanggung jawab?"
Alvian seketika bergeming seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Pokoknya Kakek gak mau tau, besok kamu harus nikahi Yuanita di sini, di depan Kakek. Biar nanti Kakek yang minta sekretaris Kakek yang nyiapin semuanya, paham?"
Alvian hanya mengangguk patuh, mana berani ia membantah perkataan sang Kakek yang sedang dalam keadaan sakit. Satu sesalnya di sini, mengapa harus wanita bernama Yuanita yang dijodohkan dengannya?
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Yuanita Christiani binti Abraham dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Saah!"
Alvian mengucap ijab qobul dengan lancar tanpa satu hambatan apapun. Hanya dengan satu tarikan napas saja, wanita bernama Yuanita kini telah sah menjadi istrinya. Abimanyu terlihat bahagia sekaligus lega karena akhirnya ia berhasil menepis rumor kotor tentang cucunya sendiri.
Ekspresi wajah yang sama ditunjukkan oleh Yuanita, tapi hal berbeda diperlihatkan oleh Alvian selaku mempelai pria. Ia menoleh dan menatap tajam wajah wanita itu.
"Liat aja, Yunita. Saya akan membuat hidup kamu menderita. Kamu pasti ngerasa bangga karena menikah sama saya, seorang pengusaha kaya raya. Kamu pasti ngebayangin kehidupan seperti di surga, tapi saya akan menyuguhkan neraka yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya," batin Alvian penuh rasa dendam.
Bersambung