Bab 4. Istri di atas Kertas

1018 Words
Setelah akad nikah selesai diadakan di Rumah Sakit sesuai dengan permintaan Abimanyu Syailendra kakek dari Alvian, sang kakek meminta Alvian untuk memboyong istrinya ke rumah mereka agar keduanya bisa menghabiskan malam pertama. Yuanita pun merasa senang karena akhirnya ia bisa tinggal di rumah mewah juga telah sah menjadi istri dari pengusaha kaya raya. Keduanya baru saja memasuki rumah tersebut, Rizky yang merupakan asisten pribadi Alvian nampak memasuki rumah yang sama membuat Yuanita seketika merasa risih karena pria itu tidak kunjung pergi. "Kenapa kamu masih di situ?" tanya Yuanita menatap sinis wajah Rizky. "Tugas kamu udah selesai, silahkan pulang." Alvian yang hendak melangkah memasuki lebih dalam kediamannya seketika menahan kedua kakinya lalu kembali memutar badan. "Punya hak apa kamu ngusir dia? Apa kamu tau dia ini siapa?" "Dia supir kamu, 'kan?" tanya Yuanita sinis. Alvian berjalan mendekati Rizky lalu berdiri tepat di sampingnya. "Kata siapa dia supir saya? Dia itu asisten pribadi saya yang harus ikut ke manapun saya pergi, paham?" "Gak apa-apa, Pak. Saya pulang aja, lagian tugas saya udah selesai. Tuan besar meminta saya segera pulang setelah saya mengantarkan kalian," jawab Rizky merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Yuanita. "Gak bisa gitu dong, Rizky. Kamu temani saya ke club, ya. Malam ini saya pengen minum." Yuanita seketika mengerutkan kening. "Minum? Malam ini 'kan malam pertama kita, Mas Alvian. Kamu mau ninggalin aku sendiri di rumah sebesar ini?" "Emangnya kenapa? Bukannya kamu pengen banget ya tinggal di rumah mewah ini?" Alvian tersenyum menyeringai. "Jadi, kamu lebih memilih pergi sama asisten pribadi kamu dibandingkan menghabiskan malam pertama bersama istri kamu sendiri?" Alvian menghela napas panjang lalu perlahan berjalan mendekati istrinya. "Istri? Istri kamu bilang?" tanya Alvian tegas dan penuh penekanan. "Kamu memang istri saya, tapi cuma istri di atas kertas. Saya memang suami kamu, tapi kamu tak akan pernah bisa merebut hati saya. Apa kamu tau? Saya jijik sama kamu, dasar pelacuur!" Yuanita seketika menggigit bibir bawahnya keras seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Sebutan pelacuur yang baru saja dilontarkan oleh suaminya terasa menusuk relung hatinya yang paling dalam. Atas permintaan Abimanyu yang memintanya telanjang di depan Alvian hanya untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar pria perkasa ternyata meninggalkan rasa jijik bahkan membuat Alvian merasa ilfil. "Sudah cukup, Pak bos. Biar saja pulang aja, saya takut dimarahi sama tuan besar kalau Anda sampai pergi sama saya," ujar Rizky, wajahnya yang terlampau tapang bahkan terlihat gemulai membuat Yuanita mulai menaruh rasa curiga. "Gak bisa gitu dong, Riz. Kamu 'kan bekerja sama saya, bukan sama kakek," jawab Alvian seraya memutar badan lalu menatap wajah sang asisten. "Yang berhak mengatur kamu itu saya, bukan kakek. Paham?" "Apa kalian beneran punya hubungan khusus?" celetuk Yuanita seraya menatap wajah keduanya secara bergantian. "Maksud Anda?" tanya Rizky mengalihkan pandangan matanya kepada Yuanita. "Anda menuduh kami punya hubungan sesama jenis, begitu?" "Ups! Sorry, aku gak bermaksud seperti itu," sahut Yuanita seraya menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya sendiri. "Kakek yang kasih tau aku kalau kalian itu terlalu dekat. Itu semua gak bener 'kan, Mas Alvian?" "Jangan panggil saya dengan sebutan Mas? Muak saya dengernya," decak Alvian kesal. Yuanita tersenyum sinis seraya menyentuh punggung suaminya. "Kamu ini suamiku, Mas. Sudah seharusnya aku memanggil kamu dengan sebutan Mas," lirihnya lalu mengecup punggung Alvian mesra. "Jangan berani-beraninya kamu menyentuh saya, Yuanita. Saya gak sudi disentuh sama tangan kotor kamu ini, cuih!" pinta Alvian seraya menepis kasar telapak tangan istrinya. "Apa kamu lebih suka disentuh sama asisten pribadi kamu ini?" Yuanita kembali menatap sinis wajah Rizky. "Maaf, saya permisi," pamit Rizky merasa tidak enak karena terus disudutkan oleh istri dari majikannya. Ia pun berbalik lalu meninggalkan rumah tersebut. Sepeninggal sang asisten, Alvian kembali berbalik lalu menatap tajam wajah istrinya. Tatapan matanya bahkan sangat tajam dan penuh rasa dendam seakan Yuanita itu adalah musuh bebuyutannya. "Sekali lagi saya tekankan sama kamu, Yuanita. Saya jijik sama kamu. Di mata saya kamu tak lebih dari seorang pe-la-cur!" tegasnya sinis lalu berjalan melintasi istrinya begitu saja. "Kenapa kamu benci banget sama aku, Mas? Salah aku sama kamu apa?" tanya Yuanita membuat Alvian sontak menahan langkahnya, tapi pria itu tidak segera menimpali pertanyaan istrinya. "Kenapa kamu diem aja, Mas?" Yuanita kembali bertanya menuntut penjelasan. "Kenapa kamu terus memanggil aku p*****r? Aku bukan p*****r!" Alvian akhirnya memutar badan lalu kembali menatap wajah wanita berambut sebahu itu masih dengan tatapan mata yang sama. "Seorang wanita bertelanjang di depan laki-laki yang baru dia kenal, apa lagi namanya kalau bulak p*****r, hah?" "Tapi kakekmu yang memintaku ngelakuin hal itu, Mas. Dia memintaku membuktikan bahwa kamu ini laki-laki normal!" "Terus, setelah kamu ngelakuin itu, apa kamu udah yakin kalau saya beneran laki-laki normal?" Yuanita diam seribu bahasa. Setelah kejadian malam itu pun, sebenarnya ia masih belum yakin bahwa Alvian benar-benar pria sejati melihat reaksinya seperti ini. Selain itu, suaminya pun nampak biasa saja saat melihatnya polos tanpa busana. Jangankan terpesona ataupun terangsaang seperti reaksi normal laki-laki pada umumnya, Alvian benar-benar merasa jijik. Apakah pria itu benar-benar boti? Batin Yuanita mulai meragukan kejantanan suaminya. "Kenapa kamu diam saja?" tanya Alvian seraya tersenyum menyeringai. "Saya kasih tau sama kamu, Yuanita. Saya laki-laki normal, tapi saya tidak menyentuh sembarangan wanita, termasuk kamu. Paham?" Yuanita kembali menggigit bibir bawahnya keras bahkan sangat keras hingga permukaan bibirnya seketika memerah. Mendengar setiap kata yang baru saja diucapkan oleh suaminya sendiri benar-benar membuat hatinya sakit dan terluka. Ia menerima permintaan Abimanyu untuk menjadi menantunya karena berharap dapat memperbaiki ekonominya yang pas-pasan. Namun, kemewahan yang berada di depan matanya harus ia bayar dengan harga yang sangat mahal. Ya, dirinya akan menghabiskan waktu seumur hidup dengan pria kasar dan arogan seperti Alvian. "Oke, kita lihat aja nanti, kalau kamu emang pria normal aku pastikan kamu akan menyentuh aku, Mas," sahut Yuanita tegas dan penuh penekanan. "Tadi kamu manggil aku p*****r, 'kan?" "Gimana caranya? Dengan mencampurkan obat perangsaang ke dalam minuman saya kayak waktu itu?" Yuanita seketika bergeming. "Saya bersumpah gak akan memakan atau meminum apapun yang kamu berikan sama saya, Yuanita." Alvian kembali berbalik lalu hendak melangkah. "Apa kamu ingat kecelakaan yang menewaskan orang tuamu 20 tahun yang lalu?" tanya Yuanita membuat Alvian kembali menahan langkah kakinya. "Bukan cuma orang tuamu saja yang tewas waktu itu, tapi Ibuku juga." Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD