3). Pesta Pernikahan

1319 Words
*** "Kepada calon mempelai perempuan dipersilakan untuk keluar dari kamarnya, karena akad nikah akan segera dimulai." Suara sang pembawa acara terdengar jelas di area aoutdoor sebuah hotel mewah. Ini harinya. Hari pernikahan yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari oleh Adara dan Rafly, akhirnya tiba. Namun, tentu saja semua berbeda. Adara yang seharusnya dipinang Rafly, hari ini harus menerima pinangan dari Danendra yang sudah duduk di depan meja akad. Pria itu nampak gagah dengan pakaian adat yang dipakainya. Pakaian berwarna broken white yang seharusnya dipakai Rafly. "Maafin aku, Raf. Aku enggak punya pilihan lain." Didampingi bridesmaid, Adara berjalan dengan anggun menyusuri karpet merah yang digelar menuju meja akad. Mengambil tema rustic, akad nikah dilaksanakan pukul dua siang karena nanti acara akan langsung berlanjut ke pesta resepsi pukul empat sore. Sama-sama sibuk, Adara dan Rafly memang sengaja menggabung pesta, karena di hari kedua setelah pernikahan, Adara terpaksa kembali masuk kantor. Bekerja di perusahaan Ginanjar—sang Papa, tak membuat Adara berperilaku seenaknya. Memegang jabatan manager, dia sengaja mengambil libur dua hari sebelum dan satu hari setelah pernikahan—mengingat betapa menumpuknya pekerjaan kantor nanti jika dibiarkan terlalu lama. "Hai." Danendra menyapa canggung Adara yang perlahan duduk di sampingnya. "Kamu cantik." Adara tersenyum. "Makasih, Dan. Kamu juga ganteng," ucapnya. Beberapa kali Adara mengerjap ketika matanya tiba-tiba saja perih. Melihat Danendra, Adara sedih. Seharusnya Rafly. Ya, seharusnya Rafly Sanjaya yang akan mengucapkan akad untuknya hari ini. "Makasih udah mau jadi pahlawan buat aku," ucap Adara pelan. "Sama-sama." Danendra tersenyum. Namun, senyumannya langsung memudar kala penghulu mulai mengonterupsi—membuat Danendra mau tak mau mengalihkan perhatiannya dari Adara. "Bagaimana mempelai pria, apakah sudah siap?" tanya penghulu yang duduk di samping Ginanjar. Dua hari. Semua data berhasil diubah. The power Alexander grup, data-data yang semula atas nama Rafly Sanjaya dan Adara Fredella Lazuardi, langsung berubah menjadi Danendra Putra Alexander dan Adara Fredella Lazuardi. "Siap," jawab Danendra tanpa pikir panjang dengan suara yang terdengar tegas. "Ya sudah," kata penghulu. Dia kemudian melirik Ginanjar. "Silakan jabat tangan calon menantunya dan ikuti arahan saya." "Baik." Mendapat satu kali arahan, Ginanjar menjabat tangan Danendra lalu mulai berucap, "Saudara Danendra Putra Alexander, saya nikah dan kawin kan engkau dengan putri kandung saya; Adara Fredella Lazuardi binti Ginanjar Lazuardi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Mendapat tepukan pelan dari sang penghulu, Danendra menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Adara Fredella Lazuardi binti Ginanjar Lazuardi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Mengucapkan ijab kabul dengan lancar, penghulu di depan Danendra melirik saksi di kiri dan kanannya lalu bertanya, "Bagaimana saksi, sah?" "Sah." "Sah." "Alhamdulillah." Setelah ijab kabul yang menegangkan, semua tamu yang hadir di sana serentak memanjatkan dia terbaik untuk pasangan yang baru saja menikah. Namun, Adara nyatanya tak memanjatkan doa yang serupa dengan doa orang lain. Alih-alih berdoa untuk kelangsungan rumah tangganya dengan Danendra, Adara justru memanjatkan doa lain. Rafly masih dalam tahap pencarian, Adara tentu saja mendoakan pria itu agar segera ditemukan dalam kondisi selamat. Tidak tahu diri memang. Ketika Danendra rela mengorbankan hubungannya dan Felycia agar bisa menolong Adara—dengan menikahinya, yang dilakukan Adara justru mendoakan pria lain yang kini statusnya bahkan di bawah Danendra yang sudah sah menjadi suaminya. "Sekarang, silakan dipasangkan cincinnya." Bukan lagi sang penghulu, yang memberikan perintah tersebut adalah sang pembawa acara yang kembali mengambil alih pesta, setelah beberapa menit lalu Adara dan Danendra selesai menandatangani buku nikah mereka. Semua dadakan. Danendra bahkan baru mengambil foto untuk buku nikah kemarin siang setelah sengaja mengambil libur sampai besok—satu hari setelah menikah, karena memang setelah menikah tak akan ada honeymoon. "Cantik, sama seperti yang pakai," puji Danendra ketika dia memasangkan cincin di jari kanan Adara, lalu setelahnya giliran Adara yang memasangkan cincin di jari manis Danendra. Dalam hati tentu saja dia berharap cincin itu akan muat, karena diameter jari cincin tersebut mengikuti ukuran Rafly. "Alhamdulillah muat," gumam Adara saat dia memasangkan cincin itu di jari Danendra. "Kamu tenang aja, aku sama Rafly punya ukuran jari hampir sama." "Iya, Dan." Acara akad nikah selesai, Danendra dan Adara harus menjalani prosesi lain yaitu; sungkeman. Diselimuti rasa haru, keduanya bergiliran meminta restu pada kedua orang tua hingga tepat ketika Adara bersimpuh di depan Teresa, sebuah pesan tiba-tiba saja terucap. "Tolong jangan sakiti Danendra," pinta Teresa dengan nada bicara yang masih terkesan dingin. "Iya, Tante," kata Adara setelah dirinya mendongak—menatap sang mertua. "Dara minta maaf ya, kalau Dara nyusahin anak Tante." "Its okay." Mendapatkan respon yang tak terlalu baik dari sang mertua, Adara hanya mengukir senyum tipis lalu beranjak—menunggu Danendra yang masih meminta restu pada Ginanjar. Berbeda dengan respon yang didapat Adara dari Teresa yang dingin, sebuah ungkapan bahagia justru didapat Danendra dari Ginanjar yang tentu saja merasa sangat senang putrinya menikah dengan salah satu putra Alexander. "Mungkin ini jodoh ya, Dan. Bertahun-tahun Dara pacaran sama Rafly, tapi sekarang dia nikahnya sama kamu," ucap Ginanjar. "Om bahagia. Selamat datang di keluarga Lazuardi, Danendra. Kamu akan jadi menantu kesayangan Om." "Terima kasih, Om." Menyelesaikan prosesi sungkeman, acara berlanjut hingga akhirnya sampai pula Adara dan Danendra berdiri di pelaminan untuk menyambut para tamu yang akan memberikan selamat—termasuk kakak juga saudara kembar Danendra yang datang dari luar kota. "Capek?" tanya Danendra ketika secara tak sengaja dia melihat setitik keringat di kening Adara. Tak menunggu jawaban, dengan manisnya dia mengulurkan tangan lalu mengelap keringat tersebut dengan tisu. "Prosesinya bikin capek pasti. Semoga cepat selesai." "Makasih, Dan. Aku enggak tahu harus dengan apalagi balas kebaikan kamu," kata Adara ketika Danendra membuang tisu bekas ke tong sampah yang tak jauh dari pelaminan. "Kamu enggak perlu bilang makasih terus," kata Danendra. "Kamu senang aku ikut senang, begitupun sebaliknya. Kamu sedih, aku juga ikut sedih." "Kamu emang terbaik, Dan," kata Adara. Sambil mengukir senyum, dia meraih telapak tangan Danendra lalu mengusapnya dengan lembut. "Aku beruntung punya kamu." Untuk beberapa detik, keduanya saling melempar tatapan—seolah lupa di mana mereka sekarang, hingga suara seorang pria berhasil mengalihkan perhatian Danendra dan Adara. "Mesranya nanti aja udah acara selesai, sabar dong." "Kamu," kata Danendra ketika Danish—saudara kembarnya naik ke atas panggung sambil menggendong balita mungil. "Danish," kata Adara. Kompak berdiri, Adara dan Danendra kemudian berjabat tangan dengan Danish juga perempuan yang mengikuti di belakangnya. "Selamat ya, Ra. Jodoh juga kamu sama si jomblo akut," ujar Danish sambil terkekeh. "Iya, Dan. Makasih ya." "Hey jomblo, laku juga?" tanya Danish pada Danendra. "Diem," celetuk Danendra. "Selamat Adara, semoga kamu bisa jadi rem buat Danendra supaya enggak terlalu gila kerja," ujar Aksa—kakak sulung Danendra yang turut hadir bersama pasangannya, karena memang di keluarga Alexander hanya Danendralah yang masih melajang. "Percuma Kakak ngomong kaya gitu sama Adara, orang dia juga gila kerja," ujar Danendra. Arka menghela napas. "Oke, perempuan dan laki-laki yang sama-sama gila kerja, menikah. Semoga rumah tangga kalian tetap waras ya." "Kak Aksa bisa aja." Pukul tiga sore, rentetan pesta akad nikah selesai. Punya waktu satu jam sebelum pesta resepsi, Adara dan Danendra memutuskan untuk beristirahat di hotel. "Nanti saya ke sini lagi ya, Mbak. Setengah jam sebelum pesta," kata sang MUA setelah melepas riasan Adara. "Iya, Mbak. Terima kasih." Sang MUA berpamitan, Adara yang duduk di meja rias, membalikkan badannya lalu memandang Danendra yang kini tengah fokus dengan ponselnya. "Dan." "Ya?" "Makasih," kata Adara. "Berkat kamu, keluarga aku enggak jadi menanggung malu." Danendra tersenyum. "Iya sama-sama, Ra." "Tapi, Dan. Ada yang mau aku tanyain sama kamu, boleh?" "Apa? Kamu mau tanya apa?" Adara tak langsung menjawab. Dia beranjak dari kursi lalu berjalan menghampiri Danendra untuk duduk di dekat pria itu. "Kemarin, aku sempat ngobrol sama Mama kamu, dan dia bilang sesuatu," ucapnya. "Mama bilang apa?" "Gini aja, sekarang aku mau tanya, tapi kamu jawab dengan jujur ya." Danendra mengangguk. "Iya, tapi kamu mau tanya apa?" "Tante Teresa bilang kamu udah nyimpen perasaan sama aku semenjak kita kuliah dulu, apa itu benar?" Raut wajah Danendra berubah pias. "Ka-kamu, a ... anu itu." "Bener enggak, Dan? Kalau benar, kenapa enggak pernah bilang?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD