***
"Iya, dari dulu aku emang punya perasaan lebih sama kamu, Ra. Kenapa aku enggak bilang? Ya, karena kamu lebih dulu nerima cinta Rafly. Aku cuman enggak mau, perasaan aku ke kamu ngerusak persahabatan kita waktu itu."
"Jangan canggung ya. Meskipun sekarang kamu udah tahu perasaan aku, aku enggak maksa kamu buat balas kok. Aku tahu sampai detik ini, cinta kamu hanya buat Rafly."
Adara yang sempat berpamitan mencari makan, kini justru berdiri di depan pintu kamar hotel sambil memegangi nampan berisi dua piring steak juga jus jeruk.
Sejak pernyataan yang dilontarkan Danendra lima belas menit lalu, entah kenapa Adara menjadi canggung. Bertahun-tahun, Adara baru tahu Danendra memiliki perasaan cinta untuknya. Selama ini Adara pikir semua sikap baik Danendra hanya rasa sayang seorang sahabat, tapi ternyata salah.
Danendra mencintainya.
"Ah, ayolah Dara. Danedra bilang tadi kamu enggak boleh canggung," gumam Adara. "Bersikap biasa aja. Toh, Danendra enggak nuntut balasan juga, kan?"
Meyakinkan diri dengan berdiri di depan pintu, Adara akhirnya memantapkan hati untuk membukanya dan masuk lagi ke dalam kamar karena sebentar lagi dia harus kembali dirias untuk pesta resepsi pukul empat sore nanti.
"Lho, Danendra mana?" tanya Adara ketika dia tak melihat kehadiran Danendra di dalam kamar. Masuk lebih dalam, Adara menyimpan makanan yang dia bawa ke atas meja—bersamaan dengan hal itu, pintu kamar mandi terbuka—menampakkan Danendra yang keluar dengan kondisi bertelanjang d**a.
Hanya memakai handuk, Danendra terlihat begitu seksi dengan perut kotak-kotaknya yang tercetak jelas.
"Oh kamu dari kamar mandi Dan ... astaga!" Kaget karena Danendra tak memakai baju, Adara refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Dan, kamu habis mandi? Kenapa enggak pake baju?!"
"Maaf, Ra. Aku pikir tadi kamu belum ke sini," ujar Danendra yang ikut panik karenanya. Adara pergi, sang MUA datang untuk meminta Danendra juga Adara bersiap-siap.
Mempersingkat waktu, Danendra akhirnya mandi duluan.
"Aman, Ra. Aku udah pakai kaos," kata Danendra yang kini sudah tak bertelanjang d**a.
Meskipun ragu, Adara merenggangkan jari-jarinya lalu hembusan napas lega terdengar bersamaan dengan kedua telapak tangan yang turun.
"Maaf ya, Dan. Aku kaget tadi," kata Danendra. "Aku belum pernah lihat cowok telanjang d**a kaya gitu soalnya.
"Iya enggak apa-apa aku ngerti," kata Danendra. "Oh ya, Ra. Tadi MUanya ke sini dan kasih tau supaya kita siap-siap. Mungkin sepuluh menitan lagi mereka ke sini?"
"Seriously?" tanya Adara. "Aku bahkan baru bawa makanan. Lapar."
"Se-"
Danendra menghentikan ucapannya ketika pintu kamar diketuk dari luar. Berjalan menuju pintu, dia membukanya dan tentu saja yang datang adalah MUA juga asistennya yang lain—siap merias Adara lagi agar tampil paripurna di acara resepsi.
"Mbak Dara udah siap?"
"Belum, Dara bahkan baru mau makan," jawab Danendra.
"Yah gimana ya? Waktunya empat puluh menit lagi, saya takut makeupnya enggak kelar pas acara tiba," ungkap sang MUA. "Mbak Dara, makannya bisa nanti enggak? Maaf, bukannya ngelarang makan, tapi saya takut kena omel Pak Ginanjar soalnya tadi beliau berpesan agar jam empat sore semuanya sudah siap."
Adara menghembuskan napas kasar. Jika sudah membawa nama sang ayah, dia tak bisa berkutik. Ginanjar yang mempunyai watak keras memang selalu membuat Adara takut. Daripada cari gara-gara, dia selalu memilih untuk menurut.
"Ya udah deh Mbak, saya mandi dulu sebentar kalau gitu. Enggak enak kalau gini," ucap Adara pada akhirnya.
"Oke, Mbak."
"Lho, Ra. Tadi kamu bilang lapar, kan? Makan dulu aja sebentar," kata Danendra tak tega.
"Enggak, Dan. Nanti aja," ujar Adara. "Aku harus patuh kalau Papa yang minta. Tahu sendiri kan, Papa aku gimana?"
"Tapi kan-"
Adara tersenyum. "Enggak apa-apa," ucapnya. "Tadi sebelum akad aku udah makan kok, sedikit."
Danendra tak memaksa lagi. Dia membiarkan Adara masuk ke kamar mandi sementara dirinya mulai bersiap-siap memakai tuxedo yang sudah disediakan dan lagi-lagi Danendra beruntung, karena ukuran tubuh Rafly dengan dirinya sama, jadi tak ada yang perlu diubah dengan tuxedo abu tersebut.
"Ini cuman perasaan saya aja atau gimana ya, Mas," kata asisten sang MUA yang membantu Danendra memakai jas. "Dari akad sampai sekarang, saya bingung. Pengantin prianya kok beda sama yang datang waktu fitting ya? Waktu fitting tuh Masnya punya wajah asia banget, sedangkan Mas ini bule. Apa yang waktu itu cuman wakilin Mas aja buat cobain baju?"
Danendra tersenyum tanpa merasa tersinggung sedikit pun. "Emang beda, Mbak," jawabnya. "Tapi saya enggak bisa bicara banyak. Privasi soalnya."
"Ah iya, Mas. Saya juga minta maaf. Lancang banget tanya-tanya."
"Enggak apa-apa, Mbak. Santai aja."
Bersamaan dengan selesainya Danendra, Adara keluar dari kamar mandi memakai bathrobe putih yang membalut tubuhnya. Di bagian dalam tentu saja dia memakai celana pendek juga tanktop.
"Udah mandinya Mbak Dara?"
"Udah."
"Langsung aja ya makeupnya?"
"Oke."
Adara mengukir senyum pada Danendra yang duduk di ujung kasur sebelum akhirnya duduk di kursi untuk kembali dirias.
"Kamu seriusan enggak mau makan dulu, Ra?" tanya Danendra.
Adara yang wajahnya mulai diolesi foundation menjawab. "Susah, Dan. Aku udah di makeup," jawabnya. "Kamu aja yang makan gih."
"Hm."
Danendra beranjak menuju piring steak di atas meja. Meraih garou juga pisau, dia memotong salah satu steak di piring menjadi beberapa bagian. Bukan untuknya, steak tersebut untuk Adara, karena setelah selesai Danendra memotongnya, dia langsung membawa steak tersebut pada Adara.
"Makan," kata Danendra sambil menyodorkan garpu yang dia pakai menusuk steak pada Adara.
"Dan." Adara memandang Danendra.
"Makan, Ra. Aku enggak mau kamu kelaparan," kata Danendra. "Buka mulutnya."
Tanpa banyak bicara, Adara menuruti permintaan Danendra. Dia membuka mulutnya lalu mulai menyantap potongan steak yang disuapkan suaminya itu.
Ya, suami. Status Danendra sekarang bukan lagi sahabat, melainkan suami. Status yang seharunya dipegang Rafly, kini dipegang Danendra.
Menyuapi Adara berulang kali, Danendra tiba-tiba saja mengubah posisi berjongkoknya ketika ponsel yang dia simpan di saku celana bergetar tanpa berdering.
"Kenapa?" tanya Adara.
"Ada telepon, sebentar ya?"
"Hm."
Danendra beranjak lalu menyimpan piring steak di atas meja rias. Setelah itu dia merogoh ponselnya dan tentu saja setelah itu Danendra tertegun—mendapati nama perempuan yang tak asing baginya terpampang di layar ponsel.
Felicya. Setelah beberapa hari sibuk dan tak menghubungi Danendra, hari ini Felicya kembali menelepon—tepat di hari Danendra menikahi gadis lain.
"Siapa, Dan?" tanya Adara penasaran, karena Danendra tak kunjung menjawab panggilan.
"Fely," kata Danendra.
"Pacar kamu?" tanya Adara.
"Ya," jawab Danendra singkat, juga dengan senyuman yang sangat tipis—membuat Adara bingung harus berkata apa, hingga yang dilakukan Danendra membuat Adara akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa dimatiin?"
"Enggak aku matiin, kok," kata Danendra. "Cuman aku senyapkan aja."
"Kenapa?"
"Enggak kenapa-kenapa," kata Danendra. "Cuman enggak enak aja. Di hari pernikahan kita, masa aku teleponan sama cewek lain."
"Tapi Felicya pacar kamu, Dan," ucap Adara.
"Kamu istri aku, Ra," kata Danendra. "Menurut kamu tinggi mana derajat istri dan pacar?"
"Dan."Adara tak mampu menatap Danendra sepenuhnya karena dia harus tetap memandang lurus ke depan.
"Untuk sementara aku enggak akan jawab panggilan Felicya dulu, Ra. Aku mau ketemu langsung sama dia dan jelasin semuanya dulu."
"Maaf ya, Dan."
"Maaf buat apa?"
"Karena aku udah rusak hubungan kamu sama Felicya."
Danendra tersenyum. "Its okay," jawabnya. "Keadaan kamu lebih darurat dari Fely, dan aku harus utamain yang darurat dulu. Enggak usah ngerasa bersalah, Ra."
"Tapi kan Dan-"
"Bahasnya nanti aja ya, Ra? Sekarang mendingan kamu habisin dulu makanannya supaya nanti enggak lapar."