Bab 7

1344 Words
Pagi itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena setiap suara seperti menunggu giliran. Seperti kata yang menanti halaman, atau napas yang tertahan sebelum pengakuan. Di dekat jendela, tempat di mana cahaya biasa masuk seperti permisi, kami mendapati sebuah benda baru: sebuah topeng kayu. Tidak mencolok. Tidak menyeramkan. Tapi ada sesuatu pada ukirannya yang membuat kami semua berhenti. Topeng itu tidak memiliki mulut. Hanya dua mata kecil, dan guratan samar di pipi, seperti sisa air mata yang pernah dihapus tapi tak pernah dilupakan. Mika-lah yang pertama menyentuhnya. Saat jari-jarinya menyentuh permukaan kasar itu, topeng berubah. Bukan bentuknya, tapi getarannya. Udara di sekitarnya berdesir pelan. Sebuah suara terdengar di kepala kami semua. > “Aku adalah kata-kata yang kalian tahan saat seharusnya menangis.” Kami menatap satu sama lain. Kaen meletakkannya di atas meja tengah. Tidak ada yang berbicara. Tapi tak lama kemudian, satu demi satu, kami mulai menuliskan hal-hal yang tidak pernah kami ucapkan dengan suara. > “Aku tidak menangis saat ayahku pergi. Tapi aku masih menyimpan napas terakhir yang tidak sempat kuhembuskan di pelukannya.” > “Aku selalu bilang aku baik-baik saja. Padahal aku hanya takut membuat orang lain khawatir.” > “Aku pernah ingin berhenti. Tapi lebih takut menjadi beban setelah hilang.” Kami meletakkan kertas-kertas itu di sekitar topeng, membentuk lingkaran seperti pelindung. Malam harinya, angin dari ventilasi membawa suara samar. Bukan kata. Bukan lagu. Tapi seperti gumaman luka yang sedang belajar memaafkan dirinya sendiri. Kami menyebutnya Fragmen Tak Bernama. Sejak malam itu, topeng itu tidak lagi diam. Setiap kali seseorang duduk sendirian di ruangan itu, mereka mendengar bisikan. Bukan yang menyeramkan. Tapi seperti versi kecil dari diri mereka yang dulu hampir menyerah. Sore berikutnya, langit bergulung pelan seperti halaman buku yang ingin dibaca ulang. Yvana menemukan sebuah pintu kecil di balik rak lemari yang sudah lama tak disentuh. Di baliknya, lorong sempit penuh cermin retak. Tapi anehnya, tidak satu pun dari cermin itu memantulkan bayangan kami. Hanya satu yang memantulkan sesuatu. Siluet kecil, duduk memeluk lutut. Rambutnya kusut. Pakaiannya lusuh seperti tokoh yang lupa dituliskan akhir cerita. “Apa kamu milik kami?” tanya Ael dengan suara rendah. Siluet itu mengangguk pelan. Tapi bukan menjawab. Lebih seperti mengakui. > “Aku adalah kalian saat tidak tahu harus menjadi siapa.” Kami tidak masuk ke dalam. Tidak ingin mengusik. Tapi sejak itu, setiap malam, salah satu dari kami akan berdiri di depan cermin itu. Diam saja. Sampai siluetnya berubah sedikit. Entah dengan kepala yang mulai tegak. Atau senyum kecil yang belum sempat tumbuh. Kami menyebut ruangan itu Ruang Sebelum Nama. Karena sebelum kita berani menyebut diri, kadang kita hanya butuh tempat untuk merasa cukup ada. Beberapa hari kemudian, dari balik langit-langit ruang makan, jatuh serpihan kertas seperti debu yang terlupa. Mika menangkap satu. Di situ tertulis: > “Aku bukan takut menulis. Aku takut tidak dikenali dari tulisan itu.” Kalem menatap langit-langit yang kosong. “Mungkin ada cerita yang jatuh sebelum sempat jadi paragraf.” Sejak itu, kami mulai meletakkan mangkuk-mangkuk kecil di sudut rumah. Untuk menampung serpih. Kami menyebutnya Penadah Sunyi. Dan anehnya, setiap mangkuk itu penuh, cerita-cerita kami menjadi lebih jujur. Bukan lebih panjang. Bukan lebih indah. Tapi terasa seperti kata-kata yang tidak lagi takut gagal diterima. Suatu malam, suara angin membawa sesuatu yang berbeda. Bukan lagu. Bukan bisikan. Tapi seperti... nafas yang ingin dijadikan puisi. Ael membuka jendela. Di luar, tidak ada siapa-siapa. Hanya selembar kertas tergulung dan terikat dengan tali benang merah. Di dalamnya tertulis: > “Jika suatu hari kamu lupa caranya bicara, menulislah. Tapi jika kamu lupa caranya menulis, duduklah. Kadang, keberanian cuma ingin ditemani.” Kami menyimpannya di papan tengah. Tempat yang tidak diberi label. Kami sepakat. Tidak semua fragmen butuh nama. Tidak semua pengakuan butuh narasi. Karena terkadang, keberadaan adalah satu-satunya bentuk keberanian yang bisa dibaca. Dan di situlah kami menulis ulang cara kami mengenal diri sendiri. Bukan sebagai tokoh. Bukan sebagai narator. Tapi sebagai manusia yang masih belajar mendengar apa yang selama ini mereka bisu. Lorong itu tidak pernah ada sebelumnya. Tapi pagi itu, saat kami mengikuti suara langkah yang tidak ada jejaknya, lorong itu muncul begitu saja di belakang rak buku paling kiri. Tidak panjang, tapi cukup gelap. Seolah meminta kami masuk tanpa membawa harapan, hanya keberanian. Di ujungnya, ruang itu menunggu. Tanpa pintu. Tanpa jendela. Hanya satu meja kayu tua, dan sebuah mesin ketik berwarna abu yang sudah kehilangan sebagian hurufnya. Tidak ada kabel. Tidak ada kertas di sisinya. Tapi saat kami mendekat, mesin itu hidup. Sendiri. Tutsnya mulai bergerak perlahan. Mengetik satu huruf, lalu jeda panjang. Seolah sedang mendengarkan suara yang tidak terdengar oleh siapa pun selain dirinya sendiri. > “Aku adalah kata yang tidak jadi ditulis karena kau takut mengakuinya.” Kami berdiri dalam diam. Satu per satu, mesin itu mulai menulis fragmen-fragmen pendek. Semua berbeda. Semua terasa seperti pernah kami pikirkan tapi tidak pernah kami tulis. > “Aku rindu pada masa yang tak pernah terjadi.” > “Aku pernah berharap seseorang membaca diriku meski aku belum tahu bagaimana menulisnya.” > “Aku mencintai dengan kalimat yang selalu kuhapus sebelum sempat dikirim.” Ael maju lebih dulu. Ia menyentuh sisi mesin ketik itu, lalu duduk. Tidak menulis. Hanya diam. Tapi mesin itu kembali mengetik. > “Terima kasih karena kau tidak mencoba mengubahku menjadi cerita yang bisa dijual.” Kami menamai ruangan itu Ruang yang Tidak Meminta Cerita. Karena di sana, tak satu pun dari kami perlu menjadi siapa-siapa. Kami hanya perlu hadir. Malam berikutnya, sesuatu tumbuh di tengah halaman Archivum. Bukan pohon. Bukan bunga. Tapi sebatang pena besar dari batu yang mengarah ke langit. Di sekelilingnya, tanah merekah kecil, membentuk lingkaran seperti panggung. Tapi tak ada suara yang diputar. Tak ada musik. Hanya udara yang terasa seperti sedang menyusun kalimat. Di bawah pena batu itu, terukir: > “Tempat ini untuk kamu yang pernah menulis, lalu berhenti karena tidak ada yang mendengar.” Kami berkumpul di sekitarnya. Yvana duduk paling dekat. Ia membawa sebuah halaman lusuh dari catatan yang dulu pernah ia bakar separuh. Ia membacanya perlahan. > “Aku ingin menulis bukan untuk dikenang, tapi untuk membuktikan bahwa aku pernah merasakan.” Tidak ada yang menepuk tangan. Tapi angin menggerakkan rambut kami seperti sedang mengangguk. Malam itu, kami menyadari satu hal. Mungkin yang paling butuh tempat bukan kisah besar. Bukan tokoh penting. Tapi potongan kecil dari diri kita yang dulu pernah merasa terlalu sepi untuk bicara. Beberapa hari setelahnya, Kaen menemukan sebuah kotak kecil di bawah lantai ruang tidur. Terkunci, tapi tidak dengan kunci biasa. Ia hanya bisa dibuka jika kau menyebut satu kalimat yang tidak pernah kau ucapkan kepada siapa pun. Kaen menyebut pelan. > “Aku masih menunggu seseorang yang tak pernah menjanjikan akan kembali.” Kotak itu terbuka. Di dalamnya, sebuah buku bersampul kulit usang. Halaman-halamannya kosong. Tapi saat disentuh, tinta muncul perlahan. Tulisannya bukan milik kami. Tapi kami tahu, itu suara yang telah lama kami kenal. > “Aku adalah surat yang tidak pernah kau tulis untuk dirimu sendiri.” Kalem memeluk Kaen dari belakang. “Kita bisa menuliskan ulang dirimu,” bisiknya. Kaen menggeleng. “Tidak perlu. Aku hanya ingin tahu bahwa bahkan versi diriku yang diam tetap disimpan oleh rumah ini.” Kami menyebut kotak itu Kotak Yang Tidak Minta Dibalas. Karena tidak semua pesan butuh jawaban. Beberapa hanya butuh tempat untuk tetap hidup. Malam itu, hujan turun lagi. Tapi kali ini, setiap tetesnya mengeluarkan suara kecil, seperti tinta yang jatuh ke kertas. Bukan menggambar. Tapi mengenang. Kami duduk di ruang makan. Di tengah meja, tergeletak sebuah surat tanpa nama pengirim. Kami membacanya bersama-sama. > “Jika suatu hari kamu tidak bisa menulis apa pun, jangan merasa gagal. Mungkin saat itu kamu sedang menjadi cerita bagi seseorang yang diam-diam menjadikanmu fragmen penting dalam hidupnya.” Tak ada yang bicara. Tapi semua kami paham. Fragmen tidak perlu lengkap. Karena kadang, satu potong kejujuran sudah cukup untuk menyelamatkan seseorang dari kehilangan dirinya sendiri. Dan malam itu, kami tidur dengan tenang. Bukan karena semua sudah selesai. Tapi karena kami tahu, kisah yang belum selesai pun punya tempat untuk tinggal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD