Fragmen yang Tidak Pernah Diundang
Pagi berikutnya, saat matahari mencoba masuk lewat sela-sela jendela tua, kami mendapati sebuah fragmen baru terselip di ruang tengah. Tidak ada yang tahu siapa yang meletakkannya. Tidak terbungkus. Tidak ditandatangani. Hanya terlipat tiga kali dan agak kusut, seperti telah lama bersembunyi dalam kantong seseorang yang takut ia terbaca.
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya, bukan cerita.
Bukan kalimat lengkap.
Hanya pengakuan-pengakuan pendek yang terputus.
> “Aku pernah mengarang nama agar terlihat lebih tegar.”
> “Aku menulis puisi tapi bilang itu tugas sekolah, supaya tidak terlihat berharap.”
> “Aku menyebut diriku kuat karena tidak tahu cara menyebut diriku rapuh.”
Kami semua membaca dalam diam. Tidak ada yang menertawakan. Tidak ada yang memberi simpati berlebihan.
Karena kami tahu, pengakuan yang paling jujur tidak mencari pelukan.
Ia hanya ingin cukup ruang.
Kaen memotong satu lembar dari fragmen itu dan menggantungkannya di dinding ruang makan.
Di sana, siapa pun boleh menambah potongan mereka sendiri.
Malam harinya, dinding itu sudah penuh.
Bukan dengan kutipan indah.
Tapi dengan kebenaran yang tidak sempat dirapikan.
> “Aku takut menulis tentang ibuku karena aku tidak tahu bagaimana menuliskan seseorang yang masih menyakitiku.”
> “Aku ingin mencintai, tapi tidak tahu bagaimana kalau bukan sebagai tokoh yang tragis.”
> “Aku belum bisa menulis tentang diriku karena aku sendiri belum tahu siapa yang kutulis.”
Kami menyebutnya Tembok Tidak Diundang.
Dan anehnya, justru dari sana, banyak cerita baru lahir.
Karena kadang, kisah terindah bukan dari niat menulis sesuatu.
Melainkan dari keberanian mengakui hal-hal yang tidak pernah kita rencanakan untuk jadi narasi.
Beberapa hari kemudian, suara ketukan terdengar dari ruang belakang rumah.
Tapi kali ini bukan pada pintu.
Melainkan dari dalam lemari tua yang selama ini kami anggap kosong.
Mika membukanya pelan.
Di dalamnya, berdiri seorang anak kecil—seperti versi lebih muda dari salah satu tokoh yang pernah kami tulis tapi sudah kami ubah terlalu banyak.
“Namaku dulu Ara,” katanya lirih.
“Aku tokoh pendukung dari cerita yang tidak pernah selesai karena penulisnya malu mengakui bahwa aku terlalu mirip dirinya sendiri.”
Kami mengangguk.
Ara melanjutkan, “Aku tidak marah. Tapi aku ingin tetap hidup, meskipun hanya sebagai bayangan dari seseorang yang belum berani jujur.”
Ael berlutut, menatap matanya.
“Kamu ingin ditulis ulang?”
Ara menggeleng.
“Aku ingin tetap dalam bentuk ini. Tidak rapi. Tidak lengkap. Tapi nyata.”
Kami menuliskannya di lembar baru.
“Ara, tokoh yang tidak ingin dibentuk. Hanya ingin diingat.”
Dan di bawahnya:
> “Kalau nanti kamu merasa sendirian dalam kisahmu sendiri, ingatlah: kamu mungkin adalah versi jujur yang ditinggalkan oleh keberanian yang belum kembali.”
Suatu malam, langit menurunkan hujan pelan.
Tapi airnya tidak membasahi.
Ia seperti tulisan—turun perlahan, mengisi tanah dengan kalimat-kalimat samar yang hanya bisa dibaca saat kita benar-benar berhenti berlari.
Aku dan Kaen duduk di bawah teras rumah.
“Malam ini,” katanya, “rasanya seperti dunia sedang menulis balik.”
Aku menatap langit yang tidak gelap, hanya penuh ruang kosong untuk diisi.
“Kalau langit menulis balik,” gumamku, “apa yang dia tulis tentang kita?”
Kaen tersenyum.
“Mungkin ia bilang: Akhirnya, ada manusia yang mau membaca dirinya sendiri tanpa mengubah halaman pertamanya.”
Dan entah kenapa, aku percaya.
Beberapa waktu kemudian, saat rumah sedang hening, kami temukan satu rak baru yang tidak pernah kami bangun.
Di dalamnya: ratusan buku kecil. Tidak berjudul. Tidak bernomor. Hanya diberi label kecil di punggungnya:
“Untuk dibaca saat kamu merasa tak perlu lagi menulis.”
Kami membuka salah satunya.
Di halaman pertamanya hanya satu kalimat:
> “Menulislah… bahkan jika yang membaca hanya keberanianmu sendiri yang kembali dalam bentuk anak kecil yang dulu kau tinggalkan.”
Sajak yang Tidak Pernah Selesai Tapi Tetap Dinyanyikan
Malam itu, angin membawa melodi.
Bukan lagu yang kami kenal. Bukan alunan dari alat musik mana pun. Tapi ritme itu begitu familiar, seperti suara seseorang yang bersenandung di balik pintu yang nyaris tak dibuka.
Yvana adalah yang pertama mendengarnya dengan jelas. Ia menghentikan langkah di lorong ketiga, lalu menatap langit-langit seolah sedang mencoba mengenali suara masa lalu.
"Aku tahu nada ini," bisiknya. "Tapi bukan dari dunia ini. Ini dari sajak yang tidak pernah selesai kutulis."
Kami mengikutinya ke ruang lantai atas—ruang yang dulu pernah kami kosongkan karena terlalu banyak gema. Di tengah ruangan itu kini berdiri sebuah kursi kayu dan meja kecil yang belum pernah kami letakkan. Di atasnya: satu lembar kertas dengan catatan yang pudar, separuh kata terhapus, separuh lagi seperti menunggu dilanjutkan.
Kata pertama yang tertulis:
> “Aku pernah ingin menjadi lagu. Tapi tak punya nada yang bisa bertahan lebih dari satu bait.”
Ael menyentuh pinggiran kertasnya. “Ini bukan hanya sajak. Ini adalah luka yang menyamar jadi ritme.”
Dan saat malam semakin dalam, sajak itu mulai terbaca ulang oleh dirinya sendiri. Tidak keras. Tidak jelas. Tapi terdengar—seperti anak kecil yang mencoba menyanyikan lagu tidur dari ingatannya, meski liriknya tidak lengkap.
Kami duduk mengelilinginya.
Tak satu pun dari kami mencoba menulis ulang. Karena kami sadar, mungkin memang ada sajak yang tidak ditakdirkan untuk selesai. Tapi bukan berarti tidak layak dinyanyikan.
Hari berikutnya, pohon di halaman barat tumbuh sesuatu yang tidak biasa.
Bukan daun.
Bukan bunga.
Melainkan potongan lirik—menggantung seperti benang puisi yang tak ingin jatuh. Dan siapa pun yang menyentuhnya, mendengar satu bagian lagu yang belum pernah mereka ciptakan, tapi entah bagaimana… mereka tahu nadanya.
Mika menyentuh satu.
Ia mendengar suara ayahnya—yang tak pernah ia nyanyikan sejak hari kepergian itu.
Kalem menyentuh satu lainnya.
Ia mendengar suara dirinya sendiri… tertawa. Suara yang ia pikir sudah hilang saat ia menulis babak penuh kehilangan.
Kami menyadari sesuatu:
Lagu-lagu itu bukan berasal dari masa lalu. Tapi dari kemungkinan yang pernah kita buang karena terlalu takut untuk berharap.
Di sore yang mendung, Enji membawa satu naskah usang dari bagian belakang rak yang tidak lagi kami jamah. Judulnya tidak lengkap.
"Untuk Diriku yang Tak Pernah Kudengar Menangis"
Ia membacanya perlahan. Kalimat demi kalimat. Tapi naskah itu... kosong.
Hanya satu kalimat di halaman terakhir.
> “Mungkin aku tidak perlu menulis diriku sebagai pahlawan, selama aku bisa menyanyikan diriku tanpa malu.”
Dan dari naskah kosong itu, melodi kembali muncul.
Kami mulai mengerti: sajak ini tidak butuh selesai. Karena setiap kita membaca, mendengar, atau menulis ulang fragmennya—lagu itu terus hidup. Ia tumbuh dengan suara-suara yang tak ingin diubah jadi sempurna.
Kami memutuskan untuk membuat Panggung Tak Bernama.
Terletak di antara ruang perapian dan lorong yang sering dilupakan.
Setiap malam, siapa pun bisa duduk di sana.
Tidak perlu jadi penyair. Tidak perlu menyanyi merdu. Hanya perlu membawa satu hal: suara yang dulu pernah ditahan.
Yvana berdiri pertama.
Ia membaca puisi yang hanya punya tiga baris.
Lalu berhenti.
Dan semua kami bertepuk tangan. Bukan karena puisinya indah. Tapi karena ia berani tidak menyelesaikan dengan paksa.
Sero menyusul.
Ia memainkan melodi dari mulut, tanpa lirik. Lalu tertawa di tengah, karena nadanya meleset. Tapi kami tertawa bersamanya—dan itu cukup untuk jadi bagian dari lagu.
Malam itu, Panggung Tak Bernama penuh oleh suara-suara yang pernah diusir oleh standar. Dan ketika kami semua diam, angin membawa sisa-sisa melodi itu ke luar rumah.
Di luar, di balik perbatasan Archivum, ada dunia lain yang sedang tidur.
Dan salah satu dari dunia itu, tiba-tiba... mendengar.
Bukan dari telinga.
Tapi dari luka yang merasa dikenali.
Mereka menoleh ke langit.
Dan untuk pertama kalinya, langit di sana mengeluarkan suara:
> “Jika kamu tak bisa menyelesaikan lagumu, tak apa. Karena kadang, dunia hanya butuh mendengar bahwa kamu masih ingin bernyanyi.”
Di pagi hari, kami bangun dan menemukan satu halaman baru tergantung di pintu depan.
Tulisannya tidak halus.
Tidak sempurna.
Tapi penuh.
> “Terima kasih. Karena kalian membiarkan lagu kami tetap diperdengarkan, bahkan saat kami hanya berani menyanyikannya dalam mimpi.”
Dan dari mimpi itulah, sajak kami melanjutkan hidupnya.
Tanpa titik akhir.
Tanpa chorus yang harus diulang paksa.
Hanya nada-nada kecil...
Yang pelan-pelan, mengajari dunia untuk mendengarkan tanpa menghakimi.