"Jadi Sherin bukan bunuh diri?" Airish tiba-tiba masuk ke ruangan. Napasnya memburu. Wajah sudah merah padam. "Jahat sekali kamua, Paman!" Dia mendengar kalimat yang diucapkan Amer, dan saat itu pula kemarahannya tidak bisa dibendung lagi. "Aku bukan paman kamu!" bentak Amer. "Oke. Aku gak peduli kamu siapa, yang jelas kamu sudah membunuh sahabatku! Jahat kamu!" Airish melepas sepatunya dan melempar ke wajah Amer. Alvaro bertambah bingung, juga khawatir. Kenapa istrinya tiba-tiba berada di sini sendiri? Mana anak buahnya? Bagaimana kalau nanti Airish disakiti oleh pamannya yang seperti iblis itu? "Oh, kamu sudah tahu. Menguping tadi?" Amer terlihat masih santai, biasa saja ekspresinya. Sepatu yang dilempar Airish mengenai keningnya, tapi dia tidak peduli. Karena dengan hadirnya gadis

