"Kenapa gak teriak lagi? Kurang sakit, ya?" Amer memasang wajah sendu. "Bagaimana kalau kita ganti dengan memotong jari seperti yang kamu lakukan pada Gono?" Amer terkekeh. Dia mengambil golok yang dipersiapkan anak buahnya di depan pintu. Alvaro diam, karena dia tidak bisa menjawab. Mulutnya masih dipleseter. Lagi pula, buat apa dia jawab, toh Amer tidak memerlukan jawabannya. "Oh iya lupa. Aku akan buka sumpalan mulut kamu, dan ucapkan say good bye pada dunia. Karena sebentar lagi, kamu akan mati menyusul kakek yang sangat kamu sayangi!" Amer tertawa lagi, dia lalu berjalan mendekat dan membuka sumpalan mulut serta lakban yang ditaruh di mulut Alvaro. Akhirnya, setelah penantian panjang, kini dia bisa mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Harta keluarga Geraldo. "Sakit

