"Mereka gak pergi bersama?" "Tidak. Hanya duduk di kafe kecil itu dan setelahnya Nyonya Airish pulang!" Alvaro mengangguk. Dia mengisyaratkan dengan tangan agar anak buahnya keluar. Lelaki berjas hitam tersebut menyunggingkan senyum. Meski istrinya marah, setidaknya tidak kepikiran untuk kembali pada Dhenis. Dia cukup lega untuk itu. Meski sudah tiga hari Airish pulang ke rumah orang tuanya, dan selama itu pula Siera selalu mengganggunya, tapi Alvaro masih belum siap ketemu dengan anak yang dikatakan mantannya. Dia ingin bertemu anak itu, kalau Airish sudah kembali kepadaya, dan mereka bersama-sama melihat gadis kecilnya. Bukan dia tidak ingin melihat darah dagingnya, tapi demi menghindari masalah yang lebih besar, Alvaro menahan sedikit rasa penasaran yang dia punya. Ponselnya berget

