Dhenis buru-buru membuka pintu mobilnya, ketika dia melihat Airish keluar dari ATM. Lelaki itu berlari mendekat ke gadis yang sama sekali tidak bisa dia lupakan, meski silih wanita menemaninya setiap malam. "Ish. Kamu lagi." Airish menaikan satu sudut bibirnya ketika melihat Dhenis yang sudah berdiri di sampingnya dengan wajah merah dan napas ngos-ngosan. "Irish, kita bicara bentar, yuk! Aku kangen kamu!" Dhenis menyambar tangan gadis di depannya. Setengah menyeret, lelaki itu membawa Airish ke sebuah kafe kecil di seberang ATM. Wanita yang baru menarik beberapa juta dari ATM itu diam. Dia tidak mengiyakan pun tidak menolak, meski tetap ikut berjalan di samping Dhenis. "Kamu duduk di sini! Aku pesankan minuman, mau apa?" "Terserah!" Dhenis mengangguk. Terserah memang susah diartikan

