Pagi itu, suasana rumah Aluna berbeda. Aroma tumisan bawang dan santan menyeruak dari dapur, bercampur dengan tawa kecil dua perempuan yang sedang sibuk menyiapkan masakan. Aluna mengenakan apron pastel dengan rambut diikat rapi, sementara di sebelahnya, seorang perempuan paruh baya dengan jilbab warna lembut sedang mengaduk sayur lodeh di panci besar. Dialah Ibu Ratna, ibu kandung Reza—seorang ustadzah yang dihormati di lingkungannya. Meski tutur katanya lembut dan wajahnya selalu ramah, tak ada yang berani meremehkan keteguhan hatinya dalam urusan prinsip. “Lun, kamu tuh masaknya rapi banget ya. Gak nyangka selebgram bisa motong sayur secepat ini,” canda Ibu Ratna sambil terkekeh pelan. Aluna tertawa, senyumnya manis meski matanya sedikit sayu. “Ya harus bisa dong, Bu. Suami saya kan

