“Pasien demam tinggi, usia dua tahun, ruang 2 ya, Bu.” Sekar mengikuti perawat dengan langkah lemas. Pelukannya erat pada tubuh mungil Nara yang demam tinggi, sementara tangan satunya menggandeng Naya yang masih setengah mengantuk. Gadis kecil itu berjalan terseok, matanya berkedip pelan, tak benar-benar paham apa yang sedang terjadi. “Sedikit lagi, ya, sayang. Sabar ya, Nara,” bisik Sekar di antara napas terengahnya. Begitu masuk ruang periksa, perawat segera menolong meletakkan Nara di ranjang kecil. Suhu tubuh anak itu begitu panas, nafasnya tersengal, dan tubuhnya lemas tak bergerak. Sekar mengusap kening anaknya yang basah keringat. “Maafin Mama ya, Nara… maafin Mama lambat bawa kamu ke sini…” Nara hanya merengek kecil, mulutnya memanggil lemah, “Ma… mam…” Sebelum Sekar bisa ber

