Suara mesin mobil terdengar pelan memasuki gang sempit. Ban melindas kerikil, mengangkat debu kecil ke udara. Di dalam rumah kontrakan mungil yang hanya dibatasi dinding tipis, Sekar langsung menegang. Napasnya tertahan, matanya menatap ke arah jendela dengan sorot penuh kecemasan. Ia berdiri perlahan, mengintip dari balik tirai yang mulai pudar warnanya. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah. Mesin mati. Pintu pengemudi terbuka. Dan dari sana, Reza turun sambil membawa tas besar berwarna krem di bahunya. Tas itu bukan tas biasa. Sekar langsung mengenalinya sebagai salah satu tas belanja Aluna. Bentuknya elegan, terlalu mencolok untuk lingkungan kumuh seperti ini. Dengan cepat, Sekar membuka pintu rumah sebelum Reza sempat mengetuk atau bahkan menoleh ke arah jendela. “Wah,

